Goes to 1000 Islands: Sebuah Perjalanan Mengumpulkan Asa, Malang-Jakarta

2
Gapura kedatangan dari dermaga Pulau Harapan

Menjadi relawan adalah sebuah pilihan hidup bagi Fin, bukan berarti Fin merasa sudah hidup bergelimang harta atau kaya yang siap berbagi kapan dan berapa dan kepada juga di mana saja. Bukan, pernahkan terpikirkan oleh kamu bahwa untuk berbagi tidak perlu dengan harta? Ini memang nggak masuk akal, karena kita perlu berpikir realistis bahwa bertahan hidup butuh harta untuk tetap bertahan. Benar, memang kita perlu harta untuk hidup. Namun, pernahkah memikirkan sejauh mana harta kita bermanfaat bagi kehidupan manusia lainnya?

Hati-hati dengan kalimat, “jangan sibuk cari harta, harta nggak dibawa mati.”

Memang, sangat setuju jika kita mati tidak membawa harta duniawi. Fin sangat setuju jika kita tidak bisa membawa harta duniawi sendiri.

“Harta itu dibawa mati! Tapi, jangan dibawa sendiri.”

Maksudnya adalah mengonversikan harta duniawi kita dalam bentuk harta yang diterima di akhirat. Wong tiap kali kita ke luar negeri, pasti kita harus menukarkan rupiah ke dalam bentuk mata uang yang berlaku di negara yang kita kunjungi, kan? Nah, analoginya sama untuk harta di akhirat juga bisa dikonversikan dengan kurs menggunakan satuan harta yang bisa digunakan di negeri akhirat. Apa itu? Amal. Bagaimana caranya? Sedekah.

Teringat akan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, ketika menjelang ajal Rasulullah tiba, beliau pergi ke Gunung Uhud di mana para syuhada disemayamkan. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya aku mendahului kalian. Dan sesungguhnya aku menjadi saksi terhadap kalian. Demi Allah, sungguh saat ini aku sedang melihat liang (kuburku). Kepadaku diserahkan kunci-kunci perbendaharaan dunia. Demi Allah, aku tidak mengkhawatirkan kalian akan musryik setelahku. Yang aku takutkan adalah kalian akan berlomba-lomba mendapatkan kunci-kunci itu.”

Tidakkah kamu mengerti, bahwa sebenarnya dunia dan segala urusannya adalah kendaraan bagi kita menuju surga. Janganlah sibuk mencari cara untuk kian kaya harta saja, tetapi juga sibuklah berlomba-lomba untuk mengetuk pintu langit dengan harta-harta kita sebagai air yang tak pernah berhenti mengalir dari mata airnya.

Menjadi relawan mungkin saja adalah cara bagi Fin untuk mengetuk pintu-pintu langit. Kamu bisa saja menggunakan cara lainnya, toh kita tidak pernah tahu amalan mana yang akan mengantar kita untuk berjumpa dengan Maha Cinta di Surga-Nya. Di kesempatan kali ini, alhamdulillah, Fin mendapatkan sebuah waktu dan tempat juga rezeki dari Allah untuk berjumpa dengan rekan-rekan seperjuangan dalam sebuah komunitas bernama YUK. Movement, Youth Uncover Kindness. Di mana tepat tanggal 10-13 Januari 2019, kami yang tergabung dalam gerakan #SatuPadudalamEmpati #YUKGoesto1000Island ini dapat menyelusuri keindahan Pulau Harapan. Bercengkrama dengan masyarakat dan alamnya.

Terkait dengan kegiatan tersebut, kepanitiaan YUK–yang diketuai oleh Kak Terra Pradana–membuat ajakan donasi sebagai ajang sumbangsih masyarakat Indonesia yang ingin ikut berkontribusi dalam gerakan ini. Poster disebar tanggal 5-8 Januari, karena tentu saja, relawan membutuhkan waktu untuk mengemas seluruh donasi non-tunai. Donasinya sendiri berfokus pada alat tulis, buku-buku, dan juga alat kebersihan seperti sabun mandi, sabun cuci tangan, sikat dan pasta gigi, juga lainnya. Berharap bahwa perjalanan kami ke Pulau Harapan juga bisa menjadi ajang berdonasi bagi teman-teman yang tidak ikut dalam ekspedisi.

Dari Malang sendiri, tepat sehari sebelum jadwal keberangkatan Fin, terdapat salah seorang donatur yang hendak menitipkan donasi berupa alat kesehatan dan buku kepada Fin untuk dibawa ke Pulau Harapan. Namun, sayang sekali karena durasi waktu donasi yang cukup singkat, alhasil beliau mengirim donasi berupa uang. Terkendala waktu, terlebih rumah Fin yang belum terjangkau dari ojek daring di wilayah Kota Malang. Harap maklum, rumah Fin, kan, lumayan terpencil dan agak terpelosok, juga jauh dari peradaban perojek-onlenan.

Sejak beberapa hari saat koordinasi mengenai keberangkatan Tim ke Pulau Harapan, beberapa orang tua dari anggota Tim mempermasalahkan terkait keadaan Pulau Harapan yang pada saat tersebut ikut terdampak pada letusan Gunung Krakatau yang hampir bersamaan pula dengan tsunami Banten. Tentu saja, para orang tua khawatir dengan kejadian tersebut, terlebih lagi kami akan menetap di kepulauan, alias dekat sekali dengan laut. Namun, setelah pemantauan lebih lanjut dan koordinasi dengan petugas setempat yang menjadi … apa, ya, istilahnya? Jujukan kami di Pulau Harapan, begitulah. Statusnya dinyatakan telah aman untuk dikunjungi. Meski musibah bisa saja datang kapan pun.

Karena Fin tergolong orang yang pusing di rencana, doang, tetapi saat eksekusi juga nggak akan pernah panik. Fin membuat daftar barang bawaan yang harus dibawa, mulai dari pakaian yang akan digunakan selama di tempat pengabdian, alat bersih diri, peralatan ibadah, dan beberapa barang yang sudah dibagi untuk dibawa dari rumah oleh tim. Di mana pada saat ekspedisi itu, Fin diberikan amanah untuk menjadi koordinator dari divisi pendidikan. Daftar itu selesai ditulis seminggu sebelum keberangkatan, tetapi Fin mulai packing pukul 9.00 WIB di hari keberangkatan.

Baca juga: Kisah Pak War di Stasiun Malang Kota Baru 

Fin berangkat dari Stasiun Malang Kota Baru, dengan jadwal keberangkatan kereta api pukul 12.10 WIB. Menempuh perjalanan panjang, selama 15 jam lebih untuk sampai di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, dan bertemu dengan kawan seperjuangan: Kak Fee, Kak Ichsan, dan Kak Anshori. Selanjutnya perjalanan berlanjut ke titik kumpul dengan relawan lainnya, yaitu di Pelabuhan Kali Adem, Jakarta Utara. Perlu waktu sekitar 3 jam menggunakan kapal feri untuk sampai di Pulau Kelapa, karena kedua pulau itu sudah dihubungkan dengan jembatan batu.

#Tabik,
Blogger Jomblo

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here