Maraknya pembahasan mengenai mental kuat, kesehatan mental, psikologi saat ini–entah karena drama Korea yang sedang populer atau hal lain, tetapi ini adalah sebuah kesadaran yang bagus. Karena sebagian besar orang masih memegang teguh perspektif: orang yang memiliki gangguan jiwa itu karena ‘kurang iman’, ‘kurang ibadah’, dan lain sebagainya. Dan lagi, gangguan psikis ini nggak hanya dialami oleh orang dewasa saja, tetapi juga anak-anak. Padahal, banyak hal yang menyebabkan kondisi gangguan psikis. Salah satunya adalah pola pengasuhan yang diterima anak sejak dini.

Mengasuh anak itu memang penuh dinamika yang tidak bisa disamaratakan kepada setiap keluarga. Karena tiap anak mempunyai karakter yang berbeda, begitu pula dengan kondisi lingkungan. Barangkali setiap orang tua memang menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya, tetapi kadang para orang tua lupa, bahwa hal itu adalah yang terbaik ‘dari sudut pandangnya’.

Banyak orang tua yang menuntut anaknya bisa melakukan ini dan itu, melarang anaknya melakukan ini dan itu, tetapi orang tua tidak mencontohkan perbuatan tersebut. Padahal orang tua itu adalah guru pertama bagi anaknya. Ada sebuah pepatah Jawa yang mengatakan “Guru, digugu lan ditiru.” Artinya anak dapat belajar disiplin dengan melihat dan menirukan perilaku orang tua. Karena untuk mendidik tidak bisa secara mendadak. Harus ada pembiasaan.

“Seseorang akan tumbuh dengan kebiasaan yang ditanamkan orang tua atau pembimbingnya.”
Ibnu Qayyim

Tetapi jika sejak dini pembiasaannya dilakukan dengan cara yang ‘terlihat baik’ padahal mempengaruhi mental kuat anak, bagaimana? Tipe orang tua bagaimana yang kelihatannya bertindak atas nama cinta, padahal melukai mental anaknya? Bagaimana hasil tindakan ‘orang tua toxic’ ini pada anaknya? Mental kuat, kah?

Tipe-tipe Toxic Parents
– Si Sibuk, Belum Siap Punya Anak
Orang tua tipe ini seringkali menganggap anak adalah hal penting, tetapi seringkali terlihat lebih menghargai hal lain misalkan pekerjaan. Bisa saja terjadi karena punya anak bukan keinginan pribadi (ex: paksaan mertua).

– Si Terserah, Bebas Lepas
Tipe satu ini terlihat fleksibel, karena tidak memberlakukan aturan pada anak alias pemegang perspektif ‘kalau sayang anak, jangan pernah bilang ‘nggak”. Bisa dibilang tipe ini adalah nggak peduli karena saking sayangnya.

– Si Kasar Paling Toxic, Kekerasan
Ini adalah yang paling parah, dimulai dari kekerasan verbal seperti menghina, merendahkan, membandingkan anak. Lalu kekerasan fisik seperti mencubit, memukul, menendang. Dan kekerasan seksual seperti meraba, memperkosa, dsb.

– Si Bucin, Anak Pusat Dunia
Memberikan semua yang diinginkan anak, bahkan yang nggak diminta. Orang tua tipe ini bisa dibilang memanjakan anaknya dalam kadar berlebihan, tetapi tidak mengenal anaknya dengan baik. Bahkan merasa anaknya durhaka, kecewa jika anaknya sudah mandiri dan mencari apa yang diinginkannya.

– Si Bodyguard, Overprotective
Ini kebalikan dari tipe orang tua Si Terserah, nih, orang tua overprotective seringkali berkata ‘tidak’ karena semua hal di dunia dianggap berbahaya bagi anak. Seringkali parno dan panik untuk banyak hal, bahkan hal kecil. Si pemegang perpekstif ‘kalau sayang ya dilindungi’, nggak salah, sih, cuma kalau berlebihan jadinya dikekang, bukan dilindungi.

Terus dampaknya ke karakter anak jadinya bagaimana? Tipe- tipe anak dari toxic parents:
– Si Dewasa
Tipe-tipe yang seringkali pandai melakukan banyak hal dan seharusnya dilakukan oleh orang tuanya. Cenderung berpura-pura baik-baik saja dan berlaku seperti pada umumnya, agar semua orang nggak tahu bahwa dia menanggung beban dalam hatinya. Ibaratnya beban itu dalam dalam hatinya jadi seperti bom waktu.

– Si Rebel
Banyak banget contoh yang sering kita lihat di film atau kita baca di novel, seringkali anak-anak trouble maker ini punya perasaan ‘nggak disayang’ sama orang tuanya. Jadi, dia sengaja mencari masalah, menjadi nakal, membenci orang tuanya, padahal dia ingin menarik perhatian orang tuanya.

– Si Pendiam
Tipe anak pemalu satu ini biasanya seringkali nggak ribet, ngerasa nggak penting dan akhirnya menjadi sosok yang tidak terlihat di dunia nyata. Dia menciptakan dunianya sendiri karena kecewa dunia tak seindah harapan. Depresi karena merasa dia sendirian melindungi dirinya sendiri.

– Si Poker Face
Anak yang seringkali mudah berteman, lucu, menggemaskan, jarang menolak permintaan orang lain, seringkali menggelontorkan candaan. Intinya tipe satu ini adalah si santuy, pembawa kebahagiaan. Tapi bisa jadi dia di dalam hatinya hanya ingin terlihat baik-baik saja, melupakan masalah keluarganya.

– Si Sempurna
Kelihatannya dia adalah anak baik, penurut, pokoknya karakter idaman semua orang tua. Karena dia dituntut untuk dewasa, berprestasi, tanpa cela, menjadi sosok berkarakter sempurna agar disayang orang tua.

Bagaimana pun, rasa sayang yang berlebihan juga bisa berubah menjadi racun secara perlahan tanpa disadari. Dan akhirnya membuat perlahan kebiasaan itu membekas dan menumpuk di dalam hati anak. Kapan pun bisa meledak keluar, salah satunya ya gangguan psikis seperti depresi, bipolar, bahkan DID.

Ada banyak pola pengasuhan yang bisa diterapkan agar anak menjadi pribadi penuh kebahagiaan, salah satunya pola asuh unik dari para orang tua di Skandinavia. Di mana negara-negara Skandinavia ini nyaris selalu masuk 10 besar dalam daftar negara terbahagia versi World Happiness Report. Kenapa bisa? Selain pengaruh GDP per kapita, kebebasan memilih jalan hidup, dan dukungan sosial, ini juga dipengaruhi pola asuh sejak dini. Di mana negara-negara Skandinavian ini dinobatkan sebagai negara dengan pola asuh terbaik.

Beberapa pola asuh yang diterapkan adalah:
– Friluftsliv, yakni hidup di alam terbuka, anak-anak di Skandinavia ini dibiasakan untuk berbaur dengan alam dan bermain di luar rumah.
– Tidak ada hukuman fisik, bagian satu ini kerap terjadi tanpa disadari, seperti mencubit, memukul. Padahal kita secara sadar mengetahui bahwa semua orang harus mendapatkan perlindungan yang sama dari kekerasan.
– Melatih tanggung jawab anak sejak dini, mungkin rasa khawatir orang tua memang tidak bisa disalahkan, tetapi jika itu akhirnya mengekang kreativitas anak … bukankah itu terdengar kejam? Anak harus bisa menghitung risiko, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab.
– Bebas bermain, sebagaimana pola berbaur dengan alam, di Skandinavia masa anak-anak memang adalah masa bermain. Anak-anak dibiarkan bermain di lumpur, tanah, dsb, yang akan membentuk imunitas dan mental kuat anak. Kok mental juga? Karena ada bakteri baik yang bisa merangsang hormon serotonin (hormon kebahagiaan).

Menilai anak belum mampu mengambil keputusan sendiri mengenai jalan hidupnya adalah kekhawatiran, tetapi memaksa anak mengikuti jalan hidup yang disiapkan orang tuanya adalah kejahatan. – Finaira Kara

10 COMMENTS

  1. Tegas sama anak boleh tapi jangan pake kekerasan. Karena anak kecil pola pikirnya masih sangat rentan. Sehingga hal-hal yang menyakitkan terkadang akan selalu terekam dalam ingatannya, maka dari itu mengasuh anak harus dengan sepenuh hati, dengan ikhlas dan pastinya penuh dengan kasih sayang yang tidak membuatnya manja melainkan harus juga di didik dengan kemandirian yah ka.
    Ah keren banged sih ini ka tulisannya.. Ma Syaa Allah jadi dapet ilmu buat bekal masa depan saat sudah punya anak nanti hihii…

  2. Beberapa waktu lalu aku sempat baca thread di Twitter tentang toxic parents. Sedih banget liatnya, banyak anak yang benar-benar tersiksa karena kelakuan orangtuanya yang buruk. Semoga kita bisa menjadi orangtua yang baik ya Mba,

  3. Secara nggak sadar atau bahkan disadari, kita sebagai orangtua seringkali melakukan toxic parents diatas. Walauun ilmu parenting yang dimiliki sudah ada ahkan banyak. Paham ilmu-ilmunya ehhh pas aplikasi ke anak, masih juga ada keplesetnya. Hehe Itulah pentingnya memahami diri sendiri dan anak kemudian sering-sering belajar dan aplikasikan ilmunya. Nice info Fin

  4. Terima kasih Kak Fi tulisannya sangat meresap jiwa kalbu emak-emak yang baru belajar ini hehe. Yang bagian dampak karakter masih bingung, itu dampak sesuai urutan di atas yang toxic parents atau secara keseluruhan?

  5. Terimakasih kak, meskipun belum jd orgtua menurutku ini merupakan belak yg ga kalah penting dr sekedar mempersiapkan pernikahan aja terlebih untuk wanita yg menjadi madrasah pertama bagi anak2nya.

  6. Aku belum jadi orang tua sih mbak, jadi belum tahu gimana rasanya. Tapi ntar aku mau ngasih yg terbaik buat anakku dan sebisa mungkin gak toxic. Orang tuaku toxic banget karena overprotective, gak jarang ke-overprotective-an mereka bikin aku gak nyaman, huhuhu.

  7. Emang PR banget buat kita sebagai orangtua. Jangan sampai jadi toxic buat anak-anak. Mereka butuh orangtua buat memimbing, supaya kelak mereka besar, mereka ngga salah jalan

  8. wah makasi buat tulisannya, sangat menginspirasi dan bikin aku introspeksi sebagai orangtua supaya lebih bisa memahami anak

  9. Baca artikelnya sambil deg2an, jangan2 pola asuh yang aku terapkan selama ini termasuk ke dalam toxic parenting. Tapi alhamdulillah engga ada yang mirip. Makasih sharingnya ya Ka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here