Mantan Manten: Film Tentang Nrimo ing Pandum, Semiotika Kelapangan Hati

10

Judul film: Mantan Manten
Rilis di Bioskop: 4 April 2019
Produser: Anggia Kharisma dan Kori Adyaning
Sutradara: Farishad Latjuba
Pemeran: Atiqah Hasiholan, Arifin Putra, Tutie Kirana, Tyo Pakusadewo, Dodit Mulyanto, Marthino Lio, Oxcerila Paryana, Ria Irawan, Melisa Karim, Aimee Saras, Asri Welas.
Produksi: Visinema Picture

Yasnina (Atiqah Hasiholan), seorang wanita karir yang memiliki kesan bahwa dirinyalah konsultan bisnis financial terbaik. Bahkan memiliki jargon andalan yang selalu turut ditempelkan di mana pun fotonya berada, “I believe in money, I believe in people.” Perjalanan karirnya di awal film benar-benar meroket, bahkan digambarkan dirinya menjadi pemenang dari sebuah ajang penghargaan selama beberapa tahun berturut-turut. Sosok Yasnina digambarkan sebagai seorang perempuan yang sukses di segala sisi kehidupan, mulai dari bisnis, karir, kehidupan sosial, kekayaan, bahkan seorang tunangan yang begitu mencintainya, Surya (Arifin Putra).

Namun, dalam beberapa waktu, kehidupannya seolah seperti bajai, yang mendadak berbelok arah. Semua kesuksesannya dimakan oleh politik dalam perusahaan yang menggunakan jasanya untuk kasus penggelapan dana investasi. Yasnina justru menjadi kambing hitam dalam kasus tersebut, meskipun di balik semua kerusuhan yang meruntuhkan segala kesuksesannya itu dilakukan oleh calon mertuanya, Iskandar (Tyo Pakusadewo).

Im a Man, I Decide What to Do.
Surya Iskandar, yang memiliki keberanian untuk menentang papanya, seperti mengorbankan hal apa pun untuk membantu Yasnina menjalankan kehidupan. Bahkan menemani untuk bertemu dengan seorang pengacara konyol dan menyebalkanyang diperankan oleh Asri Welas.

Namun, hal ini justru menjadikan film ini seperti drama-drama FTV kebanyakan. Seorang pebisnis yang jatuh terpuruk hingga semua asetnya disita, lalu bertemu dengan jodohnya untuk membnatu ia bangkit. Lalu ternyata, seorang pengacau dalam hidupnya itu adalah orang terdekat dari pria yang dicintainya.

Terlebih, seorang Yasnina sendiri tak memiliki orang tua, dengan ia dibesarkan di sebuah panti asuhan. Terlihat pada sebuah adegan setelah kebangkrutannya, ia memilih untuk kembali pulang ke panti asuhannya.

Dua Wanita Tangguh, Dua Era, Dua Gaya
Dari awal yang hampir saja membuat film ini terbilang mainstream, dalam perjalanan Yasnina mencari amunisi untuk melawan orang besar seperti Iskandar. Film ini mengubah pandangan penonton dengan petualangan Yasnina di Tawangmangu, tempat aset terakhir milik Yasnina yang dibelinya dari seorang pemaes bernama Bude Marjanti (Tutie Kirana). Tangguhnya ia untuk tetap bertahan dalam menjalankan tanggung jawab sebagai pemaes, yang terikat dengan keluarga keraton, sampai akhir.

Lalu di sisi lain, si Yasnina yang harus mengorbankan perasaannya yang telah jatuh berkali-kali, akibat ditikam oleh orang-orang yang dipercayainya. Ia juga harus mengorbankan perasaan untuk menjadi penerus dari Bude Marjanti. Keseriusan dalam film ini diwarnai dengan aksi konyol si Darto yang diperankan oleh Dodit, seorang komika Indonesia.

Adat Istiadat Jawa

Peran Bude Marjanti sebagai pemaes diperankan secara apik dan mengubah nuansa film menjadi tradisional dan beraroma mistis. Mengupas adat istiadat yang jarang diketahui secara detail, kini diperlihatkan bahkan hingga ritual yang menarik untuk untuk diketahui. Menjaga adat istiadat, sebagai salah satu kampanye #SaveIndonesianHerritage yang harus digalakan di dunia modern ini. Mungkin, saat kedua wanita ini bersama, penonton bisa saja mengira bahwa keduanya adalah ibu dan anak yang terpisahkan.

Kesakralan adat istiadat Jawa yang turut dilakukan oleh Atiqah Hasiholan, sebagai syarat agar Bude Marjanti memberikan hak milik rumahnya kepada Yasnina, menjadikan film Mantan Manten berbeda dari kisah yang lain dan patut untuk ditonton.

Sarat Semiotika, Idiomatik Orang Jawa
Mantan Manten sendiri sebenarnya memilik pesan yang kuat untuk mendobrak hati penonton, dengan karir yang mendadak jatuh sejatuh-jatuhnya, tetapi ia sebagai seseorang harus tetap bangkit bahkan tanpa bantuan siapa pun. Sosoknya yang keras kepala, tetapi berperan sebagai wanita independen yang luar biasa, menjadikan film ini penuh emosi. Mengajarkan tentang sebuah pepatah Jawa yakni, “Nrimo ing Pandum.”

Namun, pepatah itu bukanlah berarti bahwa manusia harus pasrah-pasrah saja terhadap kehidupan. Berjuang untuk mengembalikan kehidupan, melakukan apa pun untuk mengobati rasa sakit akibat pengkhianatan, dan juga kembali melakukan tanggung jawab dengan baik walaupun tanpa diberikan penghargaan oleh orang lain. Pelajaran-pelajaran kehidupan ini disampaikan dengan apik, meskipun tidak kuat dalam cerita. Dikemas ciamik dalam cerita, pesan yang tersirat luar biasa.

10 COMMENTS

  1. Review yang cukup menarik, tidak hanya melihat dari kelebihan, tapi juga kekurangan film. Filmnya menceritakan kisah yang anti mainstream, dan pasti akan membawa emosi para penonton akan kisah sosok yasnina ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here