Resensi Novel Kumala Pusaka Kasih A. Rodhi Murtadho

0

Kumala Pusaka Kasih oleh A. Rodhi Murtadho

Diterbitkan oleh Pustaka puJAngga, 2010

196 hlm. ;12 x 19 cm


Kisah hidup Kumajas yang digambarkan begitu detail dalam dunia imajinasi dan dunia nyatanya. Kumajas yang mempunyai kelainan seks dan berjiwa pengecut itu digambarkan begitu sempurna penuh kiasan. Diksi yang digunakan menambah keindahan buku ini.

Kumajas selalu merasakan kehangatan jika bersama Eliza, gadis cantik pemilik salon di dekat rumahnya. Namun, Kumajas merasa nyaman ketika bersama Hendry rekan kerjanya di sebuah restauran Jepang milik Keiko. Hendry yang juga memiliki kelainan seks menikmati hari demi hari, malam demi malam dengan Kumajas. Kumajas menyadari jiwa cacing yang bergeliat dalam batinnya tapi ia tak sanggung menghentikannya.

Jiwa cacing yang berada dalam dirinya membuat Kumajas tidak menemukan dirinya sendiri dalam dirinya. Jiwa cacing yang membuat Kumajas ada dalam kebimbangan. Bagaimana tidak? Leher dan kepala Kumajas tiba-tiba menggelembung, kaki dan tangan Kumajas menempel ke badannya. Tubuhnya berubah menjadi berbuku-buku. Kumajas menggeliat. Kumajas kehilangan akal. Kumajas kehilangan manusianya. Kumajas kehilangan tubuh dan jiwanya. Cacing. Kumajas berubah menjadi cacing.

Baca juga: Analisis Puisi ‘UUD ‘45’’ Karya Taufik Ismail
Baca juga: Fantasteen Killer Mermaid

Kematian Bapak dan Ibunya seolah hidup kembali ketika dipikirkannya. Kumajas hilang kesadaran, matanya bengis penuh kebencian. Kumajas tertawa penuh amarah dengan menyaksikan darah merah yang masih segar mengalir dari tubuh tua dan renta Bapaknya. Jelas tergambarkan darah tersirat di mana-mana. Dengan cekatan Kumajas mengambil benda-benda yang ada di dekatnya. Tidak lama benda-benda itu berada di tangan Kumajas, benda itu cepat pula melayang di udara dan mengenai kepala maupun badan Bapak dan Ibunya.

Kumajas teringat saat ia masih kecil, bagaimana ia ingin menjadi seperti Bapaknya yang tegas, berwibawa, dan mampu membuat Kumajas serta Ibunya takut dan bergeming tanpa suara sekalipun dengan hanya satu tamparan di pipi. Namun, Kumajas pun ingin menjadi seperti sosok Ibunya yang lembut, anggun, tegas, dan sabar. Ibunya berniat membalas sikap Bapaknya yang mulai berpaling dengan perempuan lain. Kumajas memandang sekeliling ruangan. Mata pisau nampak mengkilat di atas meja. Ia menyabet pisau dapur yang nampak tajam dengan penuh amarah. Ia berjalan dengan tawa bergelak.

Baca juga: Resensi Novel “Sabtu Bersama Bapak” Karya Adhitya Mulya

Tidak lama berselang pisau itu tidak lagi berada di tangannya. Namun, ada pada leher Bapaknya. Pisau yang bertengger garang di tenggorokan Bapaknya membuat kepala Bapaknya menggelinding ke kaki Kumajas.Ibunya menangis. Tak hanya menangis air mata berupa air. Ibunya menangis darah. Menyaksikan kebengisan anak yang ia kandung dan lahirkan. Ibunya hanya berteriak meminta maaf kepada Kumajas. Melihat itu semua Kumajas tertawa. Puas.

Ingatan Kumajas tentang malam demi malam yang dilewati Kumajas bersama Eliza membuat jiwa cacing Kumajas kembali menguasai dirinya. Dilihat di meja pojok restoran tempat kerjanya, Eliza sedang bergaurau dengan Hendry. Tangan Kumajas ingin melemparkan pisau daging yang dipegangnya. Kumajas berpeluh. Lehernya kembali menggelembung. Tubuhnya berbuku-buku. Kumajas menjadi cacing.

Kumajas menikmati kesendiriannya. Ia membaringkan tubuhnya yang dipenuhi jiwa-jiwa lain selain dirinya. Pikirannya melayang entah kemana. Kumajas memejamkan matanya.

Baca juga: Jenis-jenis Majas dan Contohnya

“Kau sudah kalah Kumajas …,” bisik jiwa lain Kumajas. Kumajas terbangun karena itu.

Tapi! Kumajas tidak bisa menggerakan tubuhnya. Ia terhimpit. Seperti dalam sarkofagus. Sarkofagus itu berbicara, memberikan ketenangan lalu ketegangan. Tulang-tulang Kumajas remuk karena terhimpit sarkofagus yang menyempitkan dirinya. Kumajas tetap bersikukuh dengan keputusan yang diambilnya. Kumajas tidak bergerak atau bersuara sedikitpun karena terhimpit sarkofagus.

Cerita sehari–hari yang disajikan dengan karakter Kumajas yang pas dan menarik. Diksi yang dipadukan dengan alur cerita dalam novel ini membuat buku ini patut dibaca. Jenis serta ukuran kertas pun menunjang kenyamanan pembaca dalam membaca buku ini. Ditambah dengan desain sampul yang menarik, warna yang kalem, dan cukup menggambarkan kisah yang disajikan penulis.

Baca juga: Ini Dia Cara Penulisan Gelar yang Sesuai Kaidah Kebahasaan

Alur cerita yang sulit dipahami juga menambah kesulitan dalam memahami buku ini. Namun, semakin dibaca dan masuk kedalam cerita, maka alur cerita akan mudah dipahami. Karena penggunaan diksi penulis sangat Penuh kiasan dan menarik pembaca untuk terlena, tetapi tetap sadar bahwa seharusnya pembaca mengerti makna di balik diksi-diksi pilihan itu.


Ditulis oleh Finaira dan pernah di-publikasikan di buletin WITA, serta di On-ebook.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here