Saat SMA, aku pernah mencoba mewarnai rambut selama beberapa waktu. Karena baru pertama, jadi aku semir rambut tanpa bleaching. Apalagi ketika tahu bleaching bisa meningkatkan risiko kerusakan rambut kalau enggak dirawat. Rawat rambut rusak karena disemir sendiri juga butuh perhatian khusus.

Ketika itu, iseng saja mencoba semir rambut tanpa bleaching warna biru dan pink—ombre begitu. Memang kekurangan semir rambut tanpa bleaching itu adalah warnanya yang enggak terlalu kentara. Namun, memang aku mempertimbangkan untuk tidak menambah masalah dengan bleaching saat rawat rambut rusak. Terlebih saat itu belum terlalu banyak produk dan informasi tentang rawat rambut rusak.

Ditambah dengan kondisi rambutku yang kering dan lepek, akibat terlalu sering berada di bawah terik matahari dan aktivitas yang menyebabkan kepala berkeringat. Entah kenapa waktu itu aku benar-benar nekat ingin mewarnai rambutku, hahaha ^^. Padahal rawat rambut rusak saja belum, sudah mau diwarnai.

Beberapa cara rawat rambut rusak yang akhirnya kulakukan setelah aku mewarnai rambutku, yaitu:

1. Rutin rawat rambut rusak

Jujur sebelum rambutku rusak karena semir rambut tanpa bleaching, aku keramas memakai klerek—sabun alami biasanya dipakai untuk cuci kain batik—dan merawat dengan minyak merang. Sebenarnya itu metode rawat rambut rusak yang alami dan lumayan hemat. Namun, karena enggak aku lakukan dengan rutin, hasil akhirnya ya begitu-begitu saja.

2. Pilih produk hair care yang tepat

Setelah struggling dengan sampo klerek, akhirnya aku pilih membeli sampo saja. Sudah berkali-kali ganti sampo dalam kurun waktu bertahun-tahun. Masih belum juga menemukan sampo yang tepat untuk rawat rambut rusak aku. Bahkan sampai coba sampo mahal, demi rawat rambut rusak. Tapi tetap enggak ada hasil signifikan selama 3 bulan. Akhirnya aku ganti lagi, dan finally ketemu produk sampo yang aku pakai hingga kini. Meski hasilnya enggak maksimal, tapi kupikir hasilnya lebih baik daripada produk lainnya yang aku coba.

3. Gunakan hair treatment sebelum dan setelah keramas

Selama setahun terakhir, aku baru menggunakan kembali tonic dan minyak rambut yang waktu kecil aku pakai tapi aku tinggalkan karena ribet. Karena berusaha rawat rambut rusak, aku ‘memaksa’ untuk menggunkan minyak rambut sebelum keramas. Kemudian menggunakan tonik rambut setelah keramas.

4. Hair mask dan vitamin rawat rambut rusak

Selain memperhatikan cara rawat rambut rusak ketika keramas. Aku juga berusaha sebisa mungkin menggunakan produk hair mask yang aman dan alami, juga memakai vitamin rambut.

5. Menyesuaikan frekuensi keramas

Keramas terlalu sering justru membuat sebum alami di kulit kepala rusak. Dan frekuensi keramas ini tergantung pada jenis rambut dan harus disesuaikan dengan jenis aktivitas yang dilakukan. Karena aku sering beraktivitas di luar rumah dan punya rambut cenderung lurus, ditambah aku berhijab, akhirnya aku sellu keramas tiap kali pulang. Kalau di rumah saja dan tidak melakukan aktivitas yang menyebabkan kulit kepala banyak berkeringat, biasanya aku keramas tiap 2 hari sekali.

Baca juga:

Rawat rambut rusak yang aku jalani selama beberapa waktu belakangan ini memang belum sepenuhnya membuat rambutku indah tanpa kerusakan. Namun, setidaknya dengan rutinitas aktivitas yang sama, rambut rusakku sudah mulai berkurang. Meski begitu, mewarnai rambut adalah titik balikku untuk merawat rambut.

Karena dengan aku yang semir rambut tanpa bleaching, membuat aku makin merawat rambutku. Tentu saja, setiap orang punya pilihan dan alasannya masing-masing untuk rawat rambut rusak.

Sebenarnya, aku juga ingin kembali semir rambut tanpa bleaching. Dengan perawatan yang kulakukan sekarang untuk rawat rambut rusak, aku pikir semir rambut ini tidak akan berdampak besar pada kondiai rambutku selama aku tetap konsisten merawat rambut. Namun, sepertinya harus aku tunda karena suatu alasan.

Kamu bagaimana rawat rambut rusak? Suka semir rambut tanpa bleaching? Cerita dong.

Baca juga: