Kegiatan Selama Dirumah Aja Versi Introvert, No More Insecure! Rapid Test Halodoc Bisa Diandalkan

0

Menjadi seseorang dengan kepribadian INFP, meski sekarang sudah hampir berubah rasanya. Perubahan ini kuketahui dari tes MBTI dan tentu berdasarkan beberapa konsultasi dengan psikolog yang kukenal. INFP sendiri itu salah satu jenis kepribadian hasil identifikasi dari MBTI Test. INFP ini singkatan dari introversion, intuition, feeling, dan perception. Seseorang berkepribadian INFP ini dikenal sebagai sosok idealis yang suka menutup diri dari dunia luar. Poinnya, mereka ada seseorang yang memiliki ekspektasi tersendiri terhadap dunia dan memiliki dunia mereka sendiri.

Tipe kepribadin ini juga dekat disandingan dengan kesedihan, depresi, dan hal-hal lain yang menyakiti diri sendiri. Ini terjadi karena si INFP adalah sosok yang terlalu memikirkan orang lain, karena sikap idealis dan selalu membantu orang lain ini. Meski aku sendiri adalah orang yang suka berkegiatan di luar rumah, seperti traveling ke berbagai kota, menelusuri sudut kota tinggalku, berkunjung ke berbagai tempat wisata beragam jenis medan, dan aktivitas outdoor lain. Aku sendiri saat sampai di rumah, aku seperti pulang ke dunia yang kumiliki sendiri. Begitulah~

Nah, selama kuliah online di rumah aja sebagai bagian dari penanganan pandemi Covid-19 sekarang ini, aku nggak terlalu pusing dengan hal, “bosan di rumah terus.” Bahkan jika itu mungkin, aku akan dengan senang hati menghabiskan waktu berbulan-bulan tanpa keluar dari kamar dan hanya melakukan kegiatan yang menurutku menyenangkan. Sejak awal Maret hingga saat aku menulis tulisan ini, aku belum sekalipun keluar rumah. Iya, 4 bulan!

Bagi sebagian orang pasti bakalan bilang, “ha … selama itu ngapain aja di rumah terus?”

Membosankan memang, jika dilihat dari sudut pandang orang lain. Meski dari sudut pandangku pun pernah menjadi sangat membosankan, ketika aku nggak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Akhirnya, aku menemukan ritmeku sendiri agar nggak bosan di rumah aja, walau itu harus terjadi berminggu-minggu kemudian. Padahal di luar sana orang-orang mulai liar merenggut rapid test, bahan makanan, bahkan persediaan medis yang mereka tidak terlalu butuhkan. Maka itu aku sebisa mungkin tidak keluar dan ikut membantu menekan penyebaran Covid-19 ini dan akhirnya rapid test ini akan lebih berguna bagi yang lebih membutuhkan.

Hal yang selalu kupikirkan adalah, “aku akan snorkeling di Lombok setelah semua ini selesai.”

Hanya itu. Haha~

Lalu, bagiku si INFP ini harus di rumah terus, kegiatan apa saja yang tidak akan membuatku makin insecure dengan dunia luar dan menyayangi diriku sendiri? Bagaimana cara aku bisa menyayangi diriku sendiri dan kepribadian dalam diri? Bagaimana aku tetap bahagia walau ini akan berlangsung lama? Bagaimana aku bisa membantu orang lain yang tidak bisa membantu dirinya sendiri? Bagaimana caranya aku bisa konsultasi kesehatan tanpa ke rumah sakit?

1. Menempa hati untuk jadi lebih kuat
Dengan banyaknya berita tentang kematian, kasus terjangkit virus, dan banyaknya hoax di media sosial. Aku yang selalu memikirkan bagaimana jadinya dunia ini akhirnya memutuskan untuk mengurangi konsumsi media sosial. Itu untuk kebaikan psikisku yang ternilai lemah dalam menerima derita orang lain. Hampir selama satu bulan, aku tidak mengunggah status apa pun di Instagram dan Facebook juga WA. Aku menghilang dari peredaran. Dan itu adalah cara pertamaku mempertahankan diri, karena aku tahu bahwa itu adalah hal yang tepat untuk kulakukan dan menyiapkan energi lebih banyak lagi.

2. Meningkatkan skill diri
Sebagai orang yang bergerak di bidang profesional, tentu aku harus tetap menjaga kekuatanku di bidang ini, kan. Karena selama orang-orang di rumah aja akibat pandemi, pasti mereka akan mencapai levelku saat ini. Aku tipe orang yang tidak ingin disamai, hihi~ jadi aku melakukan apa pun yang akan menjadikan aku punya suatu kekuatan yang tidak dimiliki orang lain. Mencoba berbagai hal baru seperti memasak, menguasai bidang yang lama kutinggalkan seperti mendesain, mengikuti berbagai kelas seperti blogging, bahkan menamatkan seri game yang sebelumnya malas kumainkan.
Bazzara ♪~(´ε` )

3. Melakukan hobi menjadi skill
Aku suka membaca, seperti yang banyak diketahui orang-orang yang mengenalku. Dan selama pandemi ini, aku menjadi lebih sering membaca, dan menuliskan kembali apa yang kubaca dalam bentuk review dan peta pikiran untuk ide menulis novel. Nggak cuma membaca, maraton film dan drama juga anime pun kulakukan demi mengasah emosiku menerima banyak adegan untuk novelku. Kapan lagi bisa maraton selama apa pun yang kuinginkan?

3. Perawatan diri
Ini adalah hal yang paling penting, yang harus diutamakan. Perawatan diri ini secara keseluruhan adalah menjaga tubuhku tetap fit agar bisa melakukan aktivitas lain. Tubuh yang terbiasa beraktivitas di luar rumah ini akan menjadi sedikit sulit beradaptasi dengan aura di satu kotak untuk waktu yang lama. Tapi, kurasa ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat dari hiruk pikuk kota yang sering kujabani dari pagi hingga pagi.
Jadi, aku mulai memperhatikan kembali ritme tubuhku. Aktivitas peregangan dan olahraga ringan di rumah, kemudian perawatan kulit seluruh tubuh, dan mengenali signal tubuh yang dikirim melalui otak dan rasa sakit.
Beberapa hari setelah di rumah saja, tubuhku mulai berontak dan aku sering pusing, flu, batuk, pilek, dan otot jadi kebas. Belum lagi dengan pikiran yang dicekoki dengan berbagai berita suram. Pengin ke Puskesmas untuk periksa, tapi dengan keadaan begini … aku urung melakukannya.

Halodoc solusinya!

Sumber gambar: Halodoc

Sejak lama aku sering membaca artikel tentang konsultasi kesehatan online, memanfaatkan teknologi untuk memudahkan pasien agar tetap aman di tengah pandemi. Hal ini adalah upaya untuk membantu pemerintah menekan kasus COVID-19. Nggak cuma konsultasi online dengan banyak pilihan dokter umum bahkan dokter spesialis, sekarang Halodoc juga menyediakan layanan rapid test yang berlokasi di Jabodetabek dan bekerjasama dengan berbagai mitra di rumah sakit.

Pemeriksaan rapid test ini menggunakan sampel darah untuk diuji. Aku belum pernah rapid test, sih, jadi info yang kutahu itu darah yang diambil akan digunakan untuk mendeteksi imunoglobulin, antibodi yang terbentuk saat tubuh mengalami infeksi, semacam defence dari tubuh kita. Makanya pasien pada tahap awal infeksi dapat diidentifikasi lebih cepat. Kurang lebih testnya seperti test darah, dengan waktu tunggu reaksi alat tes selama 10-15 menit.

Gimana caranya kita tahu, kita butuh melakukan rapid test atau nggak? Kita nggak bisa antre di rumah sakit demi mendapatkan kesempatan itu, tentu saja itu berbahaya. Cukup ke website Halodoc atau via aplikasinya, di sini juga menyediakan screening Covid-19 dan konsultasi online. Selain itu, hasil dari pemeriksaan rapid ini akan keluar dan diinfokan melalui aplikasi Halodoc atau SMS. Kita hanya perlu membuat janji untuk rapid tes dan datang di lokasi tes yang bisa kita pilih, setelah melakukan pembayaran dan tes, kita bisa menunggu hasilnya di rumah.

Sumber gambar: Halodoc

Sejauh itu kita berjuang bersama demi mengakhiri pandemi ini, menjaga kesehatan fisik pun harus diimbangi dengan menjaga kesehatan mental. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati, maka tetap di rumah dan menerapkan protokol kesehatan yang telah dianjurkan. Jangan bandel, aku sudah kangen jalan-jalan dan aku sudah mulai kekurangan bahan drama, film, anime, buku, bahkan komik untuk kuhabiskan. Jadi, mari kita berjuang bersama. Saranghaeyoo~

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here