Kenapa Kamu Menulis? Profesi Kere yang Banyak Diminati

1

Menjadi seorang pribadi di zaman saat ini, tentu saja menjadikan diri seperti lebih berhati-hati. Terutama dalam hal menjaga hati. Eits! Kita tidak akan berbicara mengenai agama atau jodoh di sini. Meskipun dalam beberapa hal disebutkan bahwa menulis fiksi dianggap mengarang kebohongan yang bisa menjadi dosa jariyah. Namun, sekali lagi, kita tidak akan membahas hal tersebut di sini. Jadi, kalau kamu hendak mencari topik mengenai hal itu dan nyasar di tulisan ini, silakan kembali ke layar pencarian Google. Jangan lupa perhatikan hati, karena blog ini suka menahan hati orang untuk pergi, lalu mencari pengganti.

Nah, profesi penulis sendiri apakah bisa disebut sebagai profesi, sedangkan tidak semua penulis mampu hidup dengan tulisannya. Hal ini menjadikan polemik di antara banyak orang, karena melihat begitu hebatnya si Dee Lestari dengan berpuluh-puluh karyanya, atau si Tere Liye yang juga dipandang mampu hidup bahkan menghidupi orang lain dengan karyanya. Dari sini saja, kita bisa memetik sebuah kesimpulan, bahwa menjadi seorang penulis haruslah menjadi produktif kalau ingin jadi penulis kaya. Para penulis besar, tidak akan menjadi besar kalau mereka tidak kecil pada awalnya.

Paham?

Menjadi seorang penulis perlu memperhatikan banyak hal, jika tidak mampu menjadi penulis kaya raya pada saat ini. Setidaknya jadilah penulis yang bermanfaaat terlebih dahulu dengan karya kamu.

Menulis sendiri perlu memperhatikan banyak hal dan tidak sembarangan, karena terdapat beragam disiplin ilmu yang harus diterapkan. Salah satu dari unsur instrinsik semisalnya, adalah amanat. Amanat merupakan gagasan yang mendasari suatu karya atau pesan yang sebenar-benarnya ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. Tidak main-main, penulis mengemban hal krusial ini, karena dalam menyampaikan amanat ini sendiri, penulis butuh mengkaji banyak disiplin ilmu dari bidang lainnya pula. Agar tidak bertentangan dengan moral dan agama.

Selain itu, menjadi seorang penulis yang mengedepankan amanat seolah mampu menitipkan surga di antara kisah-kisah tersebut. Dengan menitipkan disiplin ilmu dalam kemasan yang menarik untuk dibaca, dihayati, dan dilaksanakan oleh pembaca. Hal ini juga membutuhkan penelitian terkait hal yang disampaikan sebagai seorang penulis. Berawal dari ide yang ditemukan, lalu melakukan pengolahan terhadap ide yang ada dengan metodologi penelitian, disusul dengan pembuktian terhadap hasil penelitian bersama ide melalui beragam disiplin ilmu dan beragam kajian ilmu yang telah ada sebelumnya, kemudian menuliskannya kembali sebagai ilmu yang baru dan tidak bertentangan dengan apa yang ada sebelumnya. Hal tersebut juga dilakukan oleh penulis fiksi, melalui beragam penelitian terhadap kondisi sekitar dan beragam ide serta premis, agar tidak bertentangan dengan moral.

Dengan beragam hal yang perlu dilakukan dan dikaji oleh penulis, kenapa masih saja banyak penulis bermunculan? Padahal sudah jelas bahwa menjadi penulis itu harus melakukan ini-itu, tetapi nggak bikin kaya!

Kamu mau jadi penulis kaya? Tulis saja keinginan kamu untuk menjadi penulis kaya, lalu tuliskan beragam hal yang mendukung untuk mencapai hal tersebut, halangannya apa, dan lain sebagainya. Siapa tahu, buku kamu booming dan jadi best seller. Tetapi, memiliki buku best seller benar-benar tidak menjamin hidupmu akan tetap selalu kaya raya. Kalau mau bagaimana caranya? Jadilah penulis yang banyak karya, bukan hanya ingin kaya harta. Di awal sudah disampaikan bahwa, penulis sekaliber Dee Lestari pun dikenal karena apa? Karena karyanya yang sudah membludak luar biasa. Jadilah penulis produktif dan bermanfaat terlebih dahulu.

Apa alasan kamu ingin menjadi penulis? Atau setidaknya, apa alasan kamu membaca tulisan ini jika hidup kamu masih berorientasi pada uang semata, bukan karya. Tulis di kolom komentar, ya.

1 COMMENT

Leave a Reply to Agustina Purwantini Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here