Lakukan Plagiat yang Berkelas, Jadilah Penulis Tanpa Batas

3

Bagaimana cara mendapatkan ide atau mendatangkan ide yang mulai kabur-kaburan, di setiap pribadi penulis itu memiliki cara dan diatasi dengan beragam treatment yang berbeda-beda. Namun, untuk mendapatkannya tentu saja sudah dibahas di artikel sebelumnya. Salah satunya adalah dengan cara membagikan apa yang telah kamu baca atau dengar atau lihat. Semisal setelah kamu membaca tulisan ini, kamu berniat untuk membuat tulisan yang sama?

Tidak salah! Kamu adalah pembaca yang dapat menangkap situasi dan memposisikan diri sebagai penulis berkelas.

Loh, lalu apa nanti saat kamu unggah tulisan ini di media sosial tidak akan dianggap plagiat?

Di situ letak kesalahannya, kamu harus percaya bahwa di dunia ini tidak ada ide-ide tulisan yang benar-benar baru dan tidak pernah dituliskan oleh orang lain. Kita ambil contoh dari ide yang ada pada novel My Beloved Niqobi atau novel My Persistent Niqobi, keduanya tidak hanya ditulis oleh satu penulis saja. Namun, banyak di luar sana, bahkan yang menulis hal mengenai gadis bercadar yang jatuh cinta pada lelaki berandal kurang ajar, jauh lebih dulu daripada kedua novel tersebut ditulis, pasti ada.

Tentu saja, untuk itu kita perlu melakukan plagiarism yang berkelas. Bukan hanya sekadar menulis ulang dengan bahasa yang sama, dengan detail yang sama, atau istilahnya adalah ngopas mengkopi-paste atau membajak. Kalau itu dilakukan, jelas hal tersebut merupakan sebuah kejahatan dan akan membuat kamu ditindak pidana UU terkait Hak Cipta. Nah, bagaimana supaya plagiat yang kita lakukan ini menjadi berkelas? Bagaimana caranya?

  • Melengkapi cerita yang sudah ada. Suatu ketika kamu membaca buku, atau menonton film, kamu pasti pernah berpikir untuk mengubah jalan ceritanya menurut versi kamu yang tidak puas dengan apa yang kamu baca/tonton, kan? Namun, hal tersebut hanya berhenti dalam otak kamu dan tidak pernah kemana-mana, kecuali pergi meninggalkan kamu dalam penyesalan. Menyesal kenapa? Padahal hal tersebut, andaikata kamu bergerak cepat dan mulai menuliskannya, kamu bisa mendapatkan ide yang lebih sempurna menurut versi kamu, dari cerita tersebut. Ide? Sama. Namun, alur dan hal-hal lainnya berbeda, kamu mengubahnya menjadi versi baru. Ini bukan plagiarisme, tetapi proses mencuri dan mematangkan ide suatu karya dengan cara yang berkelas.

  • Menghadirkan suasana berbeda, dengan tema serupa. Kamu pasti pernah mengidolakan seorang penulis atau menyukai suatu karya bukan? Nah, kamu bisa saja mengambil gaya kepenulisan atau gaya bercerita dari buku yang kamu baca tersebut. Misalnya, kamu begitu mengidolakan gaya kepenulisan dari sosok Pramoedya Ananta Tour. Kamu bisa menyadur cara penulisan yang dipakainya untuk menceritakan ide yang kamu punya. Atau sebaliknya, kamu begitu mengidolakan sosoknya yang menceritakan sesuatu dari sudut pandangan sederhana, tetapi mendalam. Kamu bisa mengadaptasinya dengan gaya kepenulisan kamu sendiri dengan kisah kamu sendiri. Hal ini, adalah sebuah penyerapan ilmu yang luar biasa dan dapat mengatasi hal-hal mengenai macetnya ide, dan lain sebagainya.

  • Tambah saja dengan curhatan. Penulis manapun, pasti menyelipkan karakter dirinya di dalam tokoh dalam tulisannya baik secara sadar ataupun tidak. Hal ini bukanlah suatu hal yang buruk, tidak, tentu tidak. Setiap penulis pasti ingin memiliki tempat untuk mengatakan seluruh isi hatinya pada saat apa pun, nah menulis adalah cara elegan untuk mengungkapkannya dan mengabadikan setiap cuil rasanya. Untuk itu, semirip-miripnya gaya penulisan atau gaya kamu bertutur kata dalam sebuah karya, pasti akan ada hal yang membedakannya ketika kamu mulai mengolah ide tersebut dalam pikiran dan hati kamu.

Jika kamu sudah mampu mengatasi dalam rangka plagiarisme ini, kamu tidak perlu khawatir lagi pada saat kehabisan ide. Karena dengan membaca kembali, kamu seperti menyerap beragam informasi yang kamu butuhkan untuk berkarya. Selain itu, dunia merupakan ajang give and take, kamu harus memberikan sesuatu dari yang kamu dapat. Dan kamu juga harus mendapatkan sesuatu, dari hal yang sudah kamu berikan. Sesimple saat kita melakukan kebaikan, kita pasti mengharapkan Surga, kan? Bukan pamrih dalam beribadah atau melakukan kebaikan, tetapi Allah saja membolehkan kita meminta Surga, kok.


Dukung blog ini dengan subscribe dan follow di media sosial penulis.

The one and only di instagram dan twitter @finaira_ atau ke akun instagram project lainnya di @kekuatanfrasa @finfoodies_ @cerita.hajarah


3 COMMENTS

  1. IpBole1h sih nulis pakai ide yang sama… mungkin isitlahnya rewrite kali ya? Kalau plagiat menurut arti benar2 sama tanpa beda.

    Memang benar sih, tulisan di dunia ini ga ada yang benar-benar baru, kecuali jurnal ilmiah, hahahha… tergantung dari penulisnya saja yang menuliskannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here