Harapan dan Bom Waktu dalam Pendidikan, Cara Pandang Dunia yang Berbeda

3

Dalam beberapa diskusi yang saya ikuti bersama beberapa kawan penggiat literasi di komunitas Malang Raya, saya mendapati bahwa pendidikan di masa sekarang yang sering dibilang zaman now ini, tidaklah benar-benar menjadi sebuah arti dari pendidikan itu sendiri. Beredar banyak video, foto, atau pun tulisan mengenai keberadaan para siswa yang memiliki perilaku sangat jauh dari kategori perilaku seorang siswa seharusnya, sesuai dengan kecakapan yang harus diterapkan dalam pendidikan karakter. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan para pengajar yang tidak lagi juga mencakup sebagai pendidik. Karena tuntutan akan keamanan, kenyamanan, dan inovasi yang menyesuaikan perilaku zaman.

Hal ini tentunya menjadi sebuah krisis krusial tersendiri bagi Indonesia yang sedang dalam masa kritis akan penanaman pendidikan karakter. Tidak hanya menjadi kesalahan para pendidik tentunya. Karena dalam proses penanaman karakter kepada para siswa membutuhkan beragam peran dari seluruh bagian yang memiliki keterkaitan daripada siswa itu sendiri, yakni orangtua sebagai poros utama dalam pembentukan karakter. Terutama sosok orangtua inilah yang menjadi tulodho atau teladan bagi para anak-anaknya, karena dalam keluargalah sebuah kepribadian awal dan paling mendasar terbentuk. Dari segala sisi yang kemungkinan dapat dilihat oleh kedua pasang mata anak, maka harus dalam pengawasan kedua orangtua.
Pengawasan terhadap apa yang dilakukan oleh anak, apa yang dikonsumsi oleh anak sebagai suatu rangkaian dalam proses pembentukan karakter ini tidaklah seperti seorang sipir yang mengawasi tahanannya.

Orangtua harus menyesuaikan diri menjadi sosok kawan yang lebih perhatian. Karena rasa perhatian memiliki kekuatan yang besar untuk mengendalikan secara tidak langsung, seperti pada saat anak melakukan kesalahan dan di saat yang bersamaan dia terluka.
Daripada memarahinya, lebih baik katakan, “apa sakit? Kemarilah.” Lalu peluk dia, dan berusahalah untuk membuatnya nyaman, lalu dia akan luluh dan menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.

Selain itu, perlu diperhatikan pula sebuah pola yang diambil dari sebuah peribahasa. Bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, hal ini merupakan sebuah satire yang memang benar-benar terjadi. Apabila orangtua selalu berucap dengan kalimat-kalimat buruk dalam keluarga, bertindak kasar, dan berupaya selalu menyelesaikan permasalahan dengan emosi. Kemungkinan besar perilaku anak akan bertindak dengan cara demikian. Dan hal inilah memunculkan sebuah peran bagi sisi yang lain, yakni dari lingkungan.


Baca juga:
  1. ILO Articels – Pengembangan Sumber Daya Manusia Melalui Pendidikan
  2. Contoh Esai Kepenulisan
  3. Pengaruh Kemiskinan terhadap Perekonomian Indonesia
  4. Revolusi Industri dan Pengaruh Terhadap Manajemen Kepenulisan

Lingkungan rumah adalah keluarga kemasyarakatan yang tentu saja akan banyak berinteraksi dengan sebuah pribadi. Hal ini menjadi akan lebih parah pada penanaman karakter pada seorang anak apabila ia tinggal di lingkungan yang tidak akan membuatnya menjadi lebih baik. Sama halnya dengan pendidikan karakter dalam lingkungan sekolah yang juga berperan penting di dalamnya.
Peran seorang pendidik di sekolah/tempat menimba ilmu ini merupakan tugas yang krusial apalagi di zaman sekarang. Dengan beragam fasilitas yang ada dan kemudahan akses terhadap berbagai teknologi, seolah menjadi harapan dan bom waktu sekaligus dalam satu waktu. Harapan akan semakin mudahnya dunia pendidikan diakses oleh siapa pun. Namun, yang akan menjadi bom waktu adalah sebuah pertanyaan mengenai pendidikan seperti apa yang ditemui? dalam teknologi tersebut.

Dalam hal itulah peran seorang guru yang tidak hanya sekadar menjadi seorang pengajar, tetapi juga menjadi seorang pendidik haruslah dioptimalkan. Tidak hanya oleh guru bersertifikat, tetapi juga seseorang yang pantas untuk disebut guru. Semisal para relawan dari banyak komunitas atau yayasan yang mengadakan ekspedisi perbaikan pendidikan atau pengoptimalan pendidikan di daerah yang minim akan fasilitas dan pendidik. Kegiatan seperti ini merupakan sebuah jawaban tersendiri akan kemunculan harapan bagi para pendamba pendidikan.
Tidak hanya itu, bobroknya sistem pendidikan juga bisa saja disebabkan oleh lingkungan yang mendadak rusak akibat bencana alam. Tentu saja, datangnya petaka tersebut bukanlah jawaban atas dambaan masyarakat yang menjadi korban. Namun, hal tersebut perlulah diantisipasi dengan beragam penyuluhan mengenai apa yang perlu disiapkan. Pendidikan karakter pun bisa muncul pada saat-saat genting semacam ini, seperti belajar membantu sesama untuk mendapatkan kepuasan batin dalam menyelami keindahan karsa dan bersyukur atas kelebihan yang diberikan Tuhan.

Setelah bencana, trauma yang diakibatkannya akan membekas dan perlu untuk diatasi. Tidak mudah, karena itu keberadaan para pendidik, yang tentunya harus memiliki sebuah karakter untuk mengayomi, sangatlah dibutuhkan untuk kembali mengembalikan kondisi hati tersebut. Bukan hanya tugas pendidik, tetapi sebuah sistem tatanan kemasyarakatan akan jauh lebih kuat saat para masyarakatnya menjadi masyarakat madani yang berorientasi pada ilmu. Terlebih pada saat pasca-bencana yang membutuhkan kekuatan untuk perbaikan, baik kekuatan ilmu, kekuatan diri, dan kekuatan untuk memulihkan diri. Dalam pemulihan diri ini, diperlukan kemampuan self-healing-trauma yang bagus, agar bisa turut memulihkan orang lain. Namun, hal tersebut bisa dilakukan lebih cepat dengan bantuan orang lain.

Seperti halnya yang dilakukan oleh para relawan bencana yang terjun langsung untuk melakukan trauma-healing di sebuah lokasi terdampak bencana.
Dalam upaya pemulihan tersebut pula, saya ingin turut serta menjadi bagian dalam barisan relawan yang mampu memberikan bantuan sebagai upaya saya beryukur kepada Tuhan atas kelebihan yang saya miliki. Dan hal itu menjadi sebuah keberuntungan dan berkah tersendiri bagi saya, apabila saya menjadi sosok pendidik yang mampu memberikan apa yang miliki, membagikan kisah yang saya rajut dari daerah-daerah terpencil atau kekurangan, dan menjadi bermanfaat untuk orang lain dengan membantu mereka dengan menceritakan kisah baik untuk mereka.

Saya berkomitmen untuk mengikuti beragam kegiatan yang ada dalam rangka trauma-healing atau perbaikan pendidikan, atau kegiatan lain seperti YUK Goes to 1000 Thousand Island ini pun merupakan upaya bagi saya untuk bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan kepada saya, pun juga sebagai bentuk dari wujud rasa syukur dan rasa cinta saya terhadap Indonesia. Tidak ada yang bisa saya berikan dalam mewujudkan kedamaian seluruh bangsa, tetapi dengan menjadi lebih bermanfaat dengan cara yang saya bisa untuk mengubah sedikit saja bagian di pelosok Indonesia agar menjadi lebih baik, atau setidaknya satu orang saja.

Saya sendiri menjadi seorang penulis sejak lama dan bergelut di bidang literasi sejak lama, jadi saya ingin agar kecintaan saya terhadap dunia literasiyang tentu saja akan menciptakan beragam sudut pandang baru untuk semua orang menatap duniabisa menjadi sebuah proses dalam pemenuhan harapan bagi negeri dan juga sebuah cara untuk membungkam kehadiran bom waktu dari teknologi, dan pemulihan diri atas bencana yang terjadi dengan cara yang tepat.

3 COMMENTS

  1. perlu kesadaran dan komitmen berbagai elemen utk bersama2 memajukan pendidikan.
    Mendidik anak2 bangsa gar tak salah pergaulan, sehingga menghasilkan putra putri terbaik, sifat, akhlak, pemikiran…

  2. Para pemuda adalah tongkat estafet penerus kepemimpinan bangsa, pendidikan berkarakter itu sgtlah penting bg perkembangan jatidiri anak, peran org tua lah yg lbh diutamakan utk anakny;)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here