Part I Hymn of Death: Perjalanan Batin dan Sebuah Kisah Cinta

12

Judul film: The Hymn of Death
Tayang: 27 November 2018 – 4 Desember 2018
Episode: 6
Disiarkan di: SBS Tv dan Netflix
Pengarang: Jo Soo-Jin
Sutradara: Park Soo-Jin
Pemeran: Lee Jong-Suk, Shin Hye-Sun, Kim Sung-Gyu, Jung Chum-Hyo, Yoon Suk-Ho, Hwang Young-Hee, Kim Bo-Gyeol, Shin Jae-Ha, Lee Ji-Hoon, Jung Moon-Sung
Produksi: The Story Works
Soundtrack: The Heart Only Knows, Stay With Me, Falling in Love

“Hati ini terkadang keras kepala, kamu tidak bisa meluluhkannya hanya dengan tekad.”–Episode 5

Dari sebuah kalimat itu, sebenarnya cukup merangkum seluruh perjalanan dari kisah utama dalam serial K-Drama yang tayang tahun lalu ini. Drama yang merupakan fiksi adaptasi yang diambil dari sebuah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1921-1926, yang juga telah diangkat dalam film pada tahun 1991 dengan judul serupa. Penyelesaian yang diambil oleh kedua tokoh dalam film yang menjadi poros utama adalah sebuah akhir yang diyakini menjadi sebuah jalan. Mereka hanyalah dua sisi kehidupan, yang saling mengalami penderitaan dan sedang mencoba berbagi kebahagiaan. Kedua poros tersebut adalah Kim Woo-Jin (Lee Jung-Suk) dan Yun Sim-Deok (Shin Hye-Sun).

“Aku tidak.”
Penolakan yang Menarik

Kali ini, izinkan Fin untuk membahas serial K-Drama yang tayang hampir satu tahun yang lalu ini dengan sebuah gaya bahasa yang mendadak memenuhi kepala Fin. Maka, mohon maaf jika akhirnya gaya bahasa terasa mendadak berubah dari tulisan sebelumnya.

Dalam drama ini, menyuguhkan alur mundur yang cantik sebenarnya. Fin pribadi menyukai sebuah awal yang sudah menunjukkan akhir, ini seperti sebuah paradoks yang menarik kita untuk tetap berjalan padahal kita tahu bahwa di jalan itu adalah jalan yang sudah kita tahu. Tetapi, kita tetap ingin tahu bagaimana jalan itu dibangun, mengapa jalan itu menjadi suram, di mana setiap tokohnya berjumpa, bagaimana keduanya menjalani kehidupan, dan segala detail-detail kecil yang akhirnya membawa kita berjalan semakin jauh.

Ibarat kita sudah diberikan penyelesaiannya, tapi kita tetap memilih untuk kembali larut pada setiap permasalahannya.

Di awal pertemuan Kim Woo-Jin dan Yun Sim-Deok, sepertinya dalam film kali ini, keduanya terasa sudah memiliki ketertarikan karena Arishima Takeo. Meski dengan sebuah penolakan, tetapi pada akhirnya itu adalah pertemuan yang sebenarnya sangat singkat untuk membuat kamu jatuh cinta hingga sangat dalam. (Meski Fin sendiri nggak menyangkal bahwa hal itu bisa saja terjadi, cinta adalah hal misterius, kan? Sama dengan manusia.)

Foto asli Kim Woo-Jin dan Lee Jong Suk

Jika Menjadi Kecil, Maka Semua Akan Menjadi Baik-Baik Saja

Memilih untuk membahas poin satu ini adalah hal yang semoga tidak sia-sia, karena menurut Fin hal ini adalah pengandaian yang sangat menyakitkan. Di mana kita sudah dewasa dan dituntut untuk selalu berlari mengikuti dunia, hati yang sebenarnya sudah lelah mengikuti alurnya, dan akhirnya membuat sebuah dunia kecil penuh mimpi pengandaian yang jika diteruskan–mungkin akan menjadi semacam self-healing bagi beberapa orang, tetapi hal ini sebenarnya bisa menjadi sangat berbahaya dan berubah menjadi racun. Karena sebenarnya, dunia tidak akan menjadi seperti apa yang diandaikannya. (Ibarat, kamu dipaksa menikah sama orangtua, tetapi kamu masih ingin men-Jomblo, dan akhirnya kamu berandai-andai apabila kamu bisa menikah dengan jodoh impian kamu–ini apa hubungannya, sih?)

Iya, dalam drama ini, Kim Woo-Jin adalah seorang penulis yang mungkin juga dialami bagi sebagian penulis (mendapatkan penentangan dari keluarga, karena menulis dianggap bukanlah sebagai profesi.) Padahal, Kim Woo-Jin menganggap menulis adalah caranya untuk bernafas dari sesaknya kehidupan yang sudah mencekiknya selama bertahun-tahun. Dan lagi, dia berasal dari keluarga berada yang di mana biasanya pada masa tersebut (mungkin juga sekarang, seperti masih begitu) pernikahan bukanlah menyatukan dua hati untuk saling menjalin kehidupan. Namun adalah sebuah cara untuk mempererat atau memperkuat silsilah keluarga.

Menjadi sebuah hal biasa, jika menjadi putra atau putri dari keluarga konglomerat memiliki kehidupan yang sudah ditentukan. Dari awal, sepertinya Woo-Jin masih memiliki beragam kesepakatan dengan ayahnya (Kim Sung-Gyu, yang diperankan oleh Kim Won-Hae) untuk menjalani studi di Tokyo di jurusan Sastra Inggris.

Nah, di episode awal, ada hal menarik lagi untuk menjelaskan betapa renggang dan efek penentangan Kim Sung-Gyu tentang hobi menulis Woo-Jin, yaitu, “di mana kamu tidak pernah meletakkannya di mejamu.” (dalam surat Sung-Gyu).

Dan beberapa saat setelahnya, jawaban mendadak muncul dengan perkataan Yun Sim-Deok, “seorang penulis harusnya meletakkan bukunya di atas meja.”

Poster film

Latar Masa Penjajahan, Sejalan dalam Mencintai Negara

Fin cukup salut dengan karakter Woo-Jin sebenarnya, di mana dia adalah orang yang menginspirasi dengan caranya dalam mencintai dan berbuat sebisanya untuk negara. Juga rekan-rekannya yang bahkan tidak gentar, di mana pada masa penjajahan, bicara soal kebebasan negara terjajah adalah hal yang dilarang oleh penjajah, kan? Karena pastinya akan dianggap sebagai upaya untuk pengerahan masa untuk melakukan pemberontakan. (Penjajah mana yang mau negara yang dijajahnya melakukan hal tersebut secara terang-terangan tanpa pengawasan? Ada kok. Bahwa hal tersebut sebenarnya bisa dibilang mencari upaya untuk menggenggam negara terjajah menjadi lebih berketergantungan dengan pengakuan.)

Drama ini menyuguhkan cerita Woo-Jin dan Sim-Deok di tahun 1921 di mana pada masa tersebut Korea berada dalam kekuasaan Jepang, tentu saja nasib negara terjajah penuh dengan penderitaan dan ketidakbebasan. Di mana satu kalimat saja berisi penyemangat yang dinilai bisa menimbulkan pemberontakan, bisa diucapkan dengan seharga kepala kamu dan keluarga. Meskipun, banyak adegan di dalamnya yang berlatar belakang Tokyo, rasanya seperti tidak melihat Tokyo dalam drama tersebut. Entahlah, ini Fin yang memang tidak merasakannya, atau memang pada zaman itu Tokyo memang seperti itu. (Dan, yang menjadi guru vokal Sim-Deok apa yang berperan sebagai Baeksiljang dalam Hotel Del Luna?)

Dua sosok ini adalah orang-orang yang menginspirasi dengan kecintaannya pada negara, meski awalnya Sim-Deok punya pandangan berbeda soal bela negara. Pada akhirnya, keduanya sejalan juga. (Duh, sejalan, barengan. Fin sendirian melulu, kapan barengannya?) Bukan melalui jalan kekerasan, pandangan mereka soal bela negara adalah hal yang luar biasa. Mendadak mengingatkan Fin akan film 99 Cahaya di Langit Eropa, dalam adegan di mana tokoh Khan yang asal Palestina, bersama Ayahnya yang memberitahu untuk berjuang dengan pena.

Kecintaannya pada negara bisa dilihat pula dari dialog-dialognya, seperti pada saat episode terakhir saat Sim-Deok diundang ke Kantor Pemerintahan Jepang Korea. Dia tetap menggunakan keberaniannya dengan berbicara Hangeul–alias bahasa Korea. Hal itu juga dilakukan Woo-Jin saat berada di Tokyo, tepatnya saat dia dan tim tengah berlatih untuk pementasan tur Joseon pada tahun 1921. Mendadak ada tentara Jepang yang menyergap, karena menganggap perkumpulan itu adalah usaha untuk membuat upaya pemberontakan terhadap pemerintahan Jepang. Namun, Woo-Jin tetap berbicara bahasa Korea, meskipun pistol sudah teracung aktif di depan keningnya. (Melihat ekspresi Jong-Suk yang terlihat benar-benar mendalami karakternya, sekaligus seluruh keberanian Woo-Jin. Salut!)

Praise of Death

Karakter Sim-Deok sendiri, juga merupakan tokoh nyata yang merupakan penulis lagu Hymn of Death, yang merupakan penyanyi Sopran pertama di Korea yang juga mendapat kesempatan untuk belajar di Tokyo karena bakat menyanyinya luar biasa. (Bahkan dalam suatu adegan, Woo-Jin mengatakan kalau dia tidak bisa berkata-kata dan terdiam melihat Sim-Deok bernyanyi. Ada di episode 1.)

Karakternya adalah sosok yang punya mimpi tinggi dengan usaha keras, juga diimbangi dengan bakat. Bagi para pemimpi yang sedang pesimis dalam perjalanan meraih mimpi, wajib mencontoh kedewasaan Sim-Deok dalam mempercayai bahwa mimpi tidak perlu adalah hal yang mewah, cukup apa yang mampu membuat kita bahagia saat melakukannya.

“Ambil penamu, Woo-Jin. Aku menyukai tulisanmu.”

Fin paling menyukai bagian manis ini dalam drama Death Song, kalimat sederhana yang mampu membangkitkan segala cita-cita dalam jiwa. (Asyiiik, nggak perlu baper dalam menyikapi setiap episode dalam kehidupan. Karena bagaimanapun, menjadi seseorang yang besar itu butuh usaha dan pengorbanan. Ibarat dalam kamus ekonomi, ini adalah sebuah opportunity cost alias biaya kesempatan yang harus dibayarkan saat mengambil pilihan.)

Sekian dulu pembahasan soal drama lawas ini, akan disambung dalam tulisan lainnya dalam periode selanjutnya yang akan membahas lebih dalam dan lebih jauh.

#Tabik
#BloggerJomblo

12 COMMENTS

    • Kalau dalam drama ini, juga belum ditunjukan selama berapa tahunnya, sih, Mbak. Hanya saja, di sini mengambil latar tahun 1970-an. Tapi setahuku, Korea dalam masa Kekaisaran Jepang mulai tahun 1910-1945, kalau nggak salah awalnya gara-gara Perjanjian Ganghwa tahun 1870-an.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here