Novel Finaira – Mengapa Cinta Harus Jatuh – Bagian Satu

5

PERHATIAN!

Cerita ini berjudul Mengapa Cinta Harus Jatuh yang sempat dipublikasikan di akun Wattpad @finaira_ dan kini akan dialih publikasikan di blog ini. HANYA DI BLOG INI. Jika Anda menemukan konten serupa harap melapor ke Finaira.

Cerita ini hanya diperuntukkan bagi 18+ dan yang tidak alergi terhadap darah. Jika Anda tidak memenuhi kriteria tersebut, mohon mencari bacaan lain yang bisa Anda pilih di menu Finaira.id. Segala kisah dan tokoh merupakan fiksi semata. Silakan tinggalkan komentar jika berkenan. Selamat membaca!

Baca Juga: Cerpen Finaira - Sebait Lagu Cinta

 

 

Satu: Pertemuan Dengan Waktu

“Pernahkah sesuatu terjadi di mana tak ada cinta di dalamnya?” tanya Denna.

“Entah, tapi pasti ada saja hal itu,” jawab pacarnya, Firman.

“Coba?! Pikirkan, tak ada hal yang terjadi tanpa adanya cinta. Melakukan sesuatu pasti didasari oleh cinta, meski melakukan pembunuhan sekalipun.”

“Lalu apa kamu bisa menjawab saat seseorang melakukan kejahatan atas dasar cinta?”

“Tapi apakah kamu tahu, makna cinta itu apa? Beri tahu aku!”

Terdiam.

Pertanyaan semacam itu sering kali terbahas oleh sepasang sejoli ini, sama halnya seperti sepasang merpati yang ingin terbang menuju ke peraduannya. Mereka adalah sepasang sejoli yang ingin terbang dengan cinta ke peraduannya. Dengan awal yang sama, pertanyaan yang sama, dan akhir yang sama, saat keduanya membahas makna cinta. Sebenarnya mereka mengerti apa itu cinta, tetapi mereka hanya tidak tahu bahwa itu adalah makna cinta.

Seragam abu-abu putih menjadi alasan saat terucap kata cinta di antara bibir bibir berpasang-pasang sejoli. Berpuluh-puluh mata menjadi media di mana cinta mulai tersebar adanya. Berekor-ekor merpati putih menjadi saksi indahnya kisah mereka. Bertangkai-tangkai bunga ikut menari saat berpindah pemilik dari si lelaki ke si gadis. Berlembar-lembar kertas menjadi Pak Pos pengirim sinyal rasa rindu mereka.

Hingga hujan pun terkadang menjadi menangis lebih dalam saat mata awan melihat bagaimana perjuangan nasib mereka yang tanpa ikatan pernikahan. Waktu pun tak mengerti bagaimana caranya sepasang sejoli bertemu, tapi saat kedua sejoli bertanya-tanya bagaimana mereka bertemu dan bagaimana nantinya. Mereka selalu menjawab ‘biarkan waktu yang menjawabnya’ bahkan waktu pun tak mengerti apa yang telah dan akan terjadi.

Tiba-tiba saja kedua hati saling jatuh cinta.

Baca juga: Novel Finaira - My Beloved Niqobi Prolog

Bergantinya bulan dan bintang dengan sinar matahari? Langit cerah dengan langit mendung? Bukankah awan hitam pun ingin tampak di langit dan terlihat oleh bola mata manusia? Lalu apakah Tuhan masih tidak adil dengan semua ciptaan-Nya? Betapa waktu pun tetap tak bisa disalahkan? Skenario Tuhan? Tidak! Karena skenario yang dibuat Tuhan akan jauh lebih berarti dan lebih baik bagi semua mahkluk-Nya.

“Kak, bisa bantu aku? Tolong angkatkan ini ke ruang OSIS iya?” Denna berdesis agak keras di depan mushola kepada kakak kelasnya yang sedang lewat saat itu di depannya.

“Ohh, ok,” jawab si Firman kepada Denna dengan mengangkat kardus berisi tugas-tugas peserta didik baru.

Iya. Masa-masa MOS sudah tiba di sekolah Denna. Tak keruan sibuknya mereka, para komite sekolah atau pengurus OSIS , hingga tidak memperkirakan waktunya mereka harus jatuh hati. Mereka tak memperkirakan jam-jam di mana jam itu bisa menjadikan Dewa Asmara bisa berada di dekat mereka dan mengincar keduanya. Tak seperti anak-anak lain yang bahkan memperkirakan dengan tepat meskipun terkadang meleset jauh dari arah pikiran mereka bagaimana mereka akan jatuh cinta tanpa menyalahkan waktu.

Terkadang mereka hanya akan menyalahkan diri mereka sendiri. Bagaimana mereka bertemu pada jam-jam yang tak pernah ada dalam pikiran mereka, atau bisa dibilang tidak masuk akal jadinya. Lalu entah bagaimana nasib kedua hati yang mulai saling mengenal satu sama lain di antara dua pikiran yang sebelumnya bahkan tidak pernah bertemu. Seperti halnya kisah romantis Romeo dan Juliet yang saling jatuh hati pada pandangan pertama. Lalu apa jadinya saat Romeo tidak jatuh cinta dengan Juliet? Apakah Romeo tetap akan bunuh diri? Apakah Juliet akan tergoda dengan pria lain? Hanya waktu yang akan menjawabnya!

Tunggu!!

Waktu tidak tahu menahu soal ini? Bagaimana ia bisa menjawab? Waktu tak pernah membaca dongeng ini, lalu bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan yang menyulitkan semua orang? Bahkan apabila penulis mendapat pertanyaan seperti itu pun mungkin ia hanya bisa terdiam dan tak berbuat apa-apa perihal kisah yang dibuatnya ditelaah begitu dalam hingga ke daerah imajinasi di luar imajinasi pengarang hingga keluar cerita. Mungkin penulis cerita ini akan dihadapkan dengan kisah-kisah yang tidak pernah masuk ke dalam imajinasinya.

Andai saja penulisnya memilih kisah lain.

Apakah Romeo dan Juliet akan tahu dan tercipta meskipun itu ada dalam mimpi remaja-remaja di dunia. Apakah mereka akan berganti cerita apalagi jika si Romeo dikisahkan bersama Laila dalam kisah Laila dan Majnun? Lalu apakah yang akan terjadi jika Juliet jatuh cinta dengan Rama dalam cerita Rama Shinta? Apakah penulisnya akan bertanya pada Tuhan? Apa yang harus ia lakukan dan tuliskan dalam ceritanya? Apakah yang ada dalam pikirannya saat pelukis terkenal Leonardo Da Vinci ditanya mengapa ia melukis Monalisa dan bukan suami dari Monalisa?

“Makasih kak?”

“Ya!” jawabnya singkat seperti biasa. Sama halnya ketika ia bersama kekasihnya saat ini, Vera.

Apa mereka sama? Tidak! Mereka tidak sama, lalu apakah mereka berbeda? Tidak juga! Tapi mereka benar-benar berbeda satu sama lain! Mereka tak selayaknya seperti pasangan. Tapi kenyataannya mereka adalah sepasang sejoli. Apa mereka akan bertahan dengan hal yang berbeda? Bukankah hal yang berbeda itu indah? Seperti berbagai warna pelangi?

Mereka berbeda dengan porsi yang pas dengan gradasi warna yang tak terbiaskan menjadi tak terlihat dengan kasat mata bagaimana halusnya lengkungan yang berisi gumpalan-gumpalan warna karya Tuhan.

Apakah kisah mereka seperti kisah romantis dari buah karya imajinasi penulis-penulis naskah cerita cinta yang luar biasa? Bagaimana mereka bersatu? Bagaimana mereka bertemu? Lalu bagaimana mereka merangkai kata C–I–N–T–A bersama? Apa yang mereka lakukan? Apakah seandainya waktu tidak mempertemukan mereka, mereka akan tetap bersama?

“Faqih!?” tanya Firman kepada temannya yang sekaligus menjadi Wakil Ketua OSIS.

“Iya, Fir? Ada apa!”

“Si Denna itu anak OSIS?” tanyanya lagi sembari memainkan game di HP-nya.

“Iya, kenapa?”

“Nggak, cuma nanya aja?”

“Jangan tanya-tanya soal Denna, nanti kalau kamu tanya soal dia, dia bisa tahu lho?”

Wajahnya mulai berubah mimik dengan ekspresi seram yang tak kalah dengan tokoh dalam serial komedi? Ahh, bukan! Dalam serial horor.

Baca juga: Blogger di Era Revolusi Industri 4.0

“Ahh, emang dia bisa baca pikiran orang?!” Wajahnya ikut berubah mimik.

“Nggak juga sihh,” ucapnya disambung dengan gelak tawa mereka bersama. Tapi saat mereka asyik tertawa tiba-tiba ada bayangan yang masuk dalam pikiran mereka, bayangan itu berjalan mendekat ke arah mereka.

Berjalan pelan mengikuti arah angin dan arah kaki melangkah sesuai jalan pikiran kedua orang yang sedang berdua di ruang OSIS pada jam istirahat. Dan bisa dibilang itu cukup sepi. Apalagi cuaca sedang mendung, suasana itu menambah betapa gelapnya ruang OSIS. Jalan pikiran mereka membuat bayangan itu berjalan mendekati bayangan mereka dan pemilik bayangan itu. Apakah jalan pikiran mereka mengatakan itu? Firman tak pernah menyadari hadirnya bayangan itu, hanya Faqih yang menyadari hadirnya bayangan itu. Tapi Faqih tidak menggubris hadirnya bayangan itu.

Cklek!

Suara pintu terbuka membuat hati bayangan keluar dari tempatnya, hati itu mengeluarkan anak hati yang menggigil ketakutan pula karena suara itu. Faqih dan Firman pun dibuat terkejut akan hal itu, semilir angin menemani hadirnya sesosok perempuan dengan wewangian aroma melati.

“Kak, dicari Ima di Aula!”

Serentak suara halus dan merdu itu membuat jantung mereka keluar dari rongga dada sebelah kanan. Mereka melihat tentang hadirnya sesosok makhluk Tuhan pemilik aroma melati itu berupa gadis perawan atau janda yang mati tercekik oleh pacarnya atau mantan suaminya atau mati tercekik tangannya sendiri karena putus asa. Dengan darah yang keluar dari leher dan mengalir deras terkena kuku-kuku  panjangnya membasahi kedua tangan sampai lengan dan melumuri kerah baju hingga rok yang ia kenakan dengan raut wajah kesakitan. Bergaun putih hitam terkoyak karena lamanya tak terawat meskipun suaranya lirih dan halus bila didengar.

Tapi apalah daya pikir mereka, karena semua tampak baik-baik saja.

Denna sudah duduk di antara Firman dan Faqih. Hati dan jantung mereka juga tidak keluar dari tempatnya. Bayangan mereka juga tidak mengeluarkan hati mereka. Tidak ada darah yang berceceran apalagi sosok wanita yang tercekik dengan balutan darah di tangannya. Semua masih berada di tempatnya. Dunia alam sadar.

“Kak Faqih!” tegasnya di dekat telinga Faqih.

Denna merebahkan tubuhnya di sofa dengan mengikhlaskan sebagian napasnya yang hingga terdengar betapa leganya paru-parunya. Hingga bersuara meskipun suaranya tetap merdu terdengar telinga. Denna pun mencoba menenangkan pantatnya yang sengaja dibantingkan begitu saja ke sofa empuk berwarna coklat.

“De? Kamu sudah sweeping area buat jalan wiyata mandala belum?” tanya Faqih sembari berdiri dan berjalan menuju pintu .

“Mmmm,” deheman Denna dengan tegas dan membuat lawan bicaranya mengerti dan tak bertanya lagi.

“Kamu capek kelihatannya De?! Laper? Udah makan?” tanya Firman.

Diam.

Satu menit kemudian.

Masih diam.

Dua menit kemudian.

“Laper.” Nada lirih dan mendayu di antara keremangan cahaya ruang OSIS dan diwarnai dengan hadirnya dua makhluk Tuhan yang berpikir tak akan bersatu saat ini. Saat ini.

“Mau makan? Nih aku bawa bekal, makan aja?!”

Baca Juga: Kepenulisan

Mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang seukuran 15 centimeter kali 20 centimeter berwarna biru beraroma masakan rumah yang lezat. Terasa sedap dipandang warna hijau dari sayuran, perpaduan antara kuning dan putih yang dihasilkan dari dalam cangkang tercampur dengan minyak panas, ditambah tanakan dari dempuan padi yang dibubuhi asap berbau wangi pandan, luar biasa, kepulan asap yang membentuk tangan dan melambai menjemput tangan lidah Denna. Disambut baik dengan lidah-lidah yang menjulur kesana kemari meneteskan air liur di mana-mana, secara harfiah.

Perlahan gumpalan-gumpalan nasi itu mulai terlihat memasuki ruang tenggorokan dengan gerakan lambat seperti menikmati waktu yang telah diberikan Tuhan disaat-saat terakhir mereka menjadi gumpalan yang pada akhir proses pencernaan mereka akan menjadi gumpalan lagi. Perlahan mereka mulai tenggelam dalam larutan asam lambung di dalam perut Denna yang masih terus melahap makanan.

Hingga gumpalan itu tergelincir semakin cepat dengan dorongan air bening seperti air mata yang tak hentinya mengalir karena tidak dihentikan oleh apapun. Apapun yang terjadi pada mereka, gumpalan demi gumpalan datang hingga memenuhi perut yang sudah tak muat dimasuki segumpal saja. Terkadang mereka hanya mampu melukiskan apa yang mereka pikirkan saja, tanpa menuliskan apa yang mereka rasakan. Pikiran dan perasaan kembali bercampur menjadi satu. Di sisi satu, Denna mencoba menjadikan semua kebiasaannya menjadi biasa saja.

Di satu sisi, Firman mencoba mencairkan situasi yang membuat semua tidak seperti biasa. Semua serba bertolak belakang. Tapi itu semua membuat getaran-getaran semakin bergetar dan serpihan-serpihan semakin menyeringai adanya. Terkadang angin cukup membawa Denna dalam buaian rindu yang mendalam. Tapi terkadang sejuknya harapan membuat buaian itu sirna dalam sekejap tanpa tersisa secuilpun dari semua harapan yang pernah singgah dalam hati maupun  pikirannya.

Baca juga: Kuliner Malang!

“Kamu pernah mikir nggak sih soal pacaran De?” tanya Firman

Diam.

“De?” tanyanya lagi.

Masih diam.

“De, kamu kelihatannya jarang banget ngomong iya? Adek kelas pada takut tuh kalau kamunya diam.” Jengkel.

“Mmm, pacaran iya? Nggak, aku nggak pernah kepikiran soal pacaran apalagi mikirin soal itu, nggak penting.”

“Serius De? Seru tahu pacaran itu?” jawabnya mengakrabkan diri pada orang yang bahkan tak pernah akrab dengan siapapun kecuali dirinya sendiri.

Tanpa ada jawaban dari Denna, gadis berlensa kontak hazel itu langsung berdiri dan tidak menggubris sama sekali celotehan akrab Firman kepadanya. Denna menyambut luasnya dunia di luar Ruang OSIS dan menjalarkan kaki jenjangnya ke aula tempat peserta MOS berkumpul sekarang. Denna membiarkan angin berhembus sejuk menuju paru-paru dalam rongga dadanya. Mungkin itu semua membuat Denna merasakan cukup untuk melampiaskan senyumannya yang hampir tak pernah terlihat terkulum di bibirnya.

Namun, Denna tiba-tiba mengulumkan senyum manisnya. Kepada? … Angin? … Tiada seorangpun di jalan yang Denna lalui saat itu. Seraya mengendus odor dari tubuh yang bergerumul di aula. Supek, panas, dan tak keruan perasaan yang dialami insan-insan baru yang terlihat dongok itu.

_finaira_

 

5 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here