Novel Finaira – Mengapa Cinta Harus Jatuh Bagian Empat

1

Empat: Bunga-Bunga Cahaya

Kepulan asap dari tanakan nasi yang bertumpuk rapi di atas piring berwarna putih  bercorak burung angsa dengan bunga tulip Belanda di tengahnya. Aroma telur mata sapi yang digoreng dengan margarin tampak sedap dipandang mata. Membuat mulut tampak mengentaskan air liur yang meronta keluar dari tempatnya. Tangan yang berpegang pada sendok besi tak terasa memberatkan jari-jari yang mulai menggerakkan sendok ke arah setumpuk nasi ditemani telur mata sapi tadi. Sesendok demi sesendok makanan tadi beralih tempat menuju perut Robby.

“Ma, Robby berangkat dulu,” sapa Robby kepada Mamanya.

“Iya, hati-hati di jalan jangan ngebut, nitip sesuatu iya?”

Suatu hal yang menyebabkan ia berhenti tepat di gerbang. Seperti terpencar suatu pendar-pendar romansa cahaya dari satu titik. Entah apa yang membuat ia melihat pancaran cahaya yang begitu berpendar. Tampak di balik cahaya itu ada sesosok wanita berkacamata dengan rambut kuncir kuda ditambah rambut yang sedikit menjuntai di leher. Pemandangan itu mencuri pandangan mata Robby dan beberapa mata lain di sekitarnya.

Apalagi di sekeliling sosok berpendar cahaya itu ada beberapa wanita yang masih berada dalam situasi MOS.

Seperti melihat keajaiban Tuhan, mulut-mulut itu berdecak kagum. Hanya saja mata mereka mulai buta karena pendar cahaya itu tidak segera hilang dari sekeliling sosok itu. Mata-mata di sekitar sesosok itu mulai bersembunyi di balik kelopak mata.

Bukan! Sosok itu bukan tokoh utama. Tapi sesosok pemeran utama dalam kehidupan ini. Terasa kelu lidah untuk mencercap sapa kepada pemilik cahaya itu. Terasa aneh memang jika Robby berangkat sangat dini hari, lagipula ia bukan gabungan dari panitia. Jadi terasa aneh saat ia terlihat begitu rapi dengan menggendong tas ransel berwarna hitam merah bertuliskan merek bersablon. Matanya masih tetap memandang dan membuat tubuh itu tidak bergeming sama sekali.

“Mas, mau ngapain berangkat pagi banget? Mau MOS lagi?” Disambut tawa oleh Rio yang bertugas di gerbang pagi ini.

“Ahh, nggak … ada titipan.”

Sambil menengok ke arah sosok bercahaya tadi yang mulai menyembunyikan cahayanya. Hanya tampak seperti hewan yang bercahaya. Kunang – kunang berkumpul di sekeliling Denna. Ya. Sosok wanita berpendar cahaya tadi. Denna.

“De?!” teriak Rio kepada Denna, mengisyaratkan untuk bergegas menuju ke arah Rio berada. “Kamu di atas aja iya?”

“OK.”

Singkat jawaban yang diberikan Denna, tanpa mengurangi wibawanya. Robby menuntun motor matic-nya ditemani Denna menuju parkiran, sekaligus mengawasi peserta MOS yang memarkir sepedanya.

“Ehh, Denna, aku ada titipan buat kamu,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna biru putih.

“Apa?”

Menerima kotak bekal itu.

“Buat kamu.”

Thank’s,” jawabnya singkat dan berjalan kembali tanpa memberikan respon yang lain.

Denna masuk ke Ruang OSIS dan membuka kotak bekal itu. Berisi nasi goreng yang dicampur dengan sosis, wortel, buncis, dan bakso. Apakah spesial, atau hanya sekedar makanan sisa yang dibuat untuk keluarga dan tidak habis dibuat sarapan. Tanpa pikir panjang, nasi goreng itu perlahan mulai berkurang, dan habis.

Tidak terjadi apa-apa kepada Denna.

Padahal saat ia memakan nasi goreng itu, Denna tersedak lalu Denna jatuh tersungkur di lantai. Denna kemudian tidak mampu untuk bernafas dan membuatnya menjadi putri tidur karena keracunan nasi goreng. Pria tampan datang dan menciumnya, lalu menikahinya di dalam castil mewah dan megah.

Tetapi itu semua tidak akan terjadi di zaman ini.

Semua hanya akan menjadi replika. Karena saat ia selesai melahap nasi goreng itu, ia hanya merasakan kenyang dan perut yang penuh namun ketagihan akan rasa kasih sayang yang sepertinya ada dalam nasi goreng itu.

Sementara Denna bertugas, Firman dan Johan pun bertugas. Mereka tampak terlihat memandang ke arah Denna. Apakah mereka jatuh cinta? Lantas apa itu cinta? Mengapa cinta dapat jatuh? Lantas? Apa yang jatuh? Bukankah cinta itu sebuah rasa? Seperti sebuah bulir-bulir jeruk yang berada di minuman-minuman instan dan dijual di kios-kios pinggir jalan juga supermarket. Bagaimana cara bulir-bulir itu diambil?

Bagaimana bulir-bulir itu bisa berbentuk sedemikian rupa dan tidak terpotong sama sekali? Bukankah itu diambil dari jeruk? Tak pernah tahu apa yang terjadi dan apa yang membuat cinta itu jatuh?

“De, kamu dipanggil sama kepala sekolah, katanya ada tamu dari Jakarta,” tegur Alda.

“Hem.”

Tanpa bicara panjang lebar, Denna langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah. Denna berjalan dengan wajah datar seperti biasa, Denna terlihat seperti narapidana yang berjalan di antara para santri. Orang-orang yang mendengar kabar Denna dipanggil kepala sekolah mungkin sudah biasa, tetapi ada tamu untuk Denna? Hal itu cukup membuat Denna menjadi pusat perhatian. Saat Denna masuk ke ruang kepala sekolah.

“Ahh… itu dia, Gardenna Mardeenish, jurnalist muda di sekolah kami Pak,” tegur Kepala Sekolah kepada tamu saat melihat Denna memasuki ruang kepala sekolah.

“Iya, saya tahu itu Pak. Namanya seperti bukan orang Indonesia? Ayo masuk Denna.”

“Hem.”

Sifat asli Denna masih saja dibawa hingga ke ruang kepala sekolah. Tiada sepatah kata yang keluar dari mulut Denna. Hanya deheman demi deheman yang berarti tanda mengiyakan. Obrolan panjang pun dimulai oleh ketiganya.

5 menit?

10 menit?

Lebih dari itu mereka membincangkan hal-hal yang sangat serius. Hingga Denna mengambil bolpoint berwarna hitam mengkilat dipadukan dengan warna emas di bagian atas dan tulisan merk. Denna menggoreskan tinta dari bolpoint tersebut di atas kertas dengan isi beberapa karakter kalimat yang tersusun rapi dengan ukuran normal dan formal.

Tertulis di sana nama Gardenna Mardeenish, di bawah materai tempel 6000. Denna membubuhkan tanda tangannya di atas materai tempel 6000 itu dengan lincah dan sigap. Tampak seperti sebuah kesepakatan di antara ketiganya mereka berjabat tangan. Denna keluar dengan wajah yang sama ketika dia masuk dari ruangan itu.

Dingin.

Tapi, ada yang berbeda dari sebelumnya. Kini Denna membawa sebuah map plastik yang tampak rapi dan berisi berkas penting. Denna masuk Ruang OSIS kembali dan memasukkan map itu dengan hati-hati.

“Kak Faqih, aku pulang dulu bisa?” tanya Denna kepada Faqih di lapangan basket saat apel sedang berlangsung sebelum ada kegiatan jalan wiyata mandala.

“Tanya ke Ima De, aku boleh aja, ada job iya? Sibuk banget?!” jawab Faqih tanpa ada respon dari Denna, ia langsung berjalan ke Ima. Ketua pelaksana kegiatan MOS tahun ini.

Denna meminta izin ke Ima, semua orang di sekolah tahu kalau Denna pasti sering izin dari sekolah tiap pagi menjelang siang. Karena ada jadwal untuk mengudara di acara berita pagi hari. Jadi, Denna pasti mudah izin karena sekolah pun menyadari kegiatan Denna.

“OK, hati-hati iya De. Cepet balik, sukses!” sahut Ima setelah mendengar izin dari Denna.

Denna menuju gerbang, celingukan, tengok kanan tengok kiri. Denna bingung harus pulang dengan siapa, tidak seperti biasa Denna membawa motor sendiri jadi lebih enak saat mendapat telepon dari manajer. Tanpa harus bingung ke kantor dengan siapa dan dengan cara apa. Tapi Denna tidak tampak bingung sekalipun oleh situasi yang sedang dihadapi. Situasi segenting apapun yang dialami Denna pasti tidak akan membuat Denna merasakan bingung di wajahnya. Apapun situasinya.

Seperti semua situasi dalam hidup Denna datar-datar saja setiap saatnya, tidak ada naik turunnya. Tidak pernah terasa ada dinamika hidup yang dialami Denna.

Dinamika rasa yang biasa-biasa saja.

Seperti bunga-bunga yang terpendar cahaya syurga. Hanya terlihat cahaya putih menyilaukan dan entah mengapa hal itu bisa terjadi seketika. Terlihat dari arah dalam sekolah, sepeda motor matic yang tampak bergerak perlahan menuju gerbang dengan pemiliknya dibaliknya. Sepeda itu keluar menuju gerbang dan membawa pemilik menemui Denna lalu Denna naik ke atas motor. Menembus teriknya matahari pagi.

Si pengendara motor tampak hapal dengan jalanan kota dan tidak kebingungan sama sekali. Ia mengambil setiap tikungan, belokan, pertigaan, perempatan, lampu merah,  jalan satu arah, jalan dua arah, dan jalan kembar sekalipun. Melewati berbagai taman kota, kantor pemerintah, masjid, rumah sakit, rumah makan, hotel, dan berbagai macam tempat di arah kabupaten hingga kota di Malang.

Terik matahari pagi menambah kenikmatan saat melihat sruputan air es di dekat bandar udara Abdul Rahman Shaleh yang tampak luas karena digunakan untuk pesawat yang begitu besar. Berapa kali puluh manusia.

Bahkan seratus orang pun bisa masuk kedalamnya. Bergerak dengan bebas. Siapa penemunya? B.J Habibie, putra terbaik Indonesia yang diminta Negara Jerman untuk menetap di sana. Lantas? Beliau mencintai Indonesia? Lalu? Iya apakah yang dilakukan seseorang yang mencintai sesuatu? Denna menyalami si pengendara tadi.

Denna berjalan sampai di lobby bandara. Sesaat ia menoleh kebelakang dan melambaikan tangannya ke arah pengendara motor itu. Dan ia tersenyum kepadanya. Bagaimana? Hatinya seakan terbang. Siapa? Pengendara motor tadi.  Namanya? Siapa yang membawa motor matic? Sudahlah, jangan mengganggu perjalanan cerita yang berpendar bunga-bunga cahaya.

“Denna mengulumkan senyuman padaku?” tanya pengendara motor kepada hatinya.

Hatinya hanya mendehem keras tanda ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh tuannya. Berjaket gaya sweater abu-abu yang membalut seragam putih abu-abunya. Motor matic putih dengan helm putih dihiasi stiker band hardcore lokal.

Robby.

_finaira_

Chapter Sebelumnya:

Mengapa Cinta Harus Jatuh Bagian Satu

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here