Jangan Malas Hanya Karena Omongan Netizen

2

Kamu sudah mulai menulis? Sudah? Cukup, bersyukurlah bahwa kamu adalah orang yang telah menjadi penggerak perubahan bagi diri kamu sendiri. Karena Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu yang berusaha untuk mengubahnya.

Tidak ada orang yang bisa menjadi baik bagi semua orang. Karena kamu adalah peran antagonis di kisah orang lain. Camkan itu! Kamu tidak bisa selalu menjadi baik bagi semua pihak, karena ada kalanya hal baik yang kamu lakukan untuk salah satu pihak justru dinilai buruk oleh pihak lainnya. Jadi, hentikan menjadi pahlawan bagi dunia. Dan jadilah pahlawan bagi diri kamu sendiri.
Kamu tidak perlu khawatir dengan semua nyinyiran orang lain terhadap karya kamu. Karena yakinlah bahwa mereka tidak akan berkomentar buruk tentang kamu, kalau kamu tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Itu kode dari Allah, kalau kamu spesial.

Hidup itu kita yang jalanin, Allah yang nentuin, netizen yang komentarin.
Lalu kamu justru berhenti berkarya, hanya karena kamu mendapat perlakuan atau komentar buruk dari orang-orang di sekitar kamu? Kamu hanya akan menjadi pemalas yang tidak mampu menghadapi segala hal untuk mengatasi kemalasan hati dalam menjawab semua komentar buruk itu dengan karya. Kamu bisa menjadi baik, setelah kamu tahu bahwa apa yang kamu lakukan sebelumnya dalah langkah yang tepat. Tapi, kamu bisa menjadi yang terbaik, saat kamu tahu bahwa apa yang kamu lakukan sebelumnya adalah langkah buruk yang harus senantiasa kamu perbaiki.

Lagipula, tulislah apa yang ada dalam diri kamu. Tulis apa yang menjadi jati diri kamu, jangan terlalu memaksakan diri untuk menuliskan kisah sebaik orang lain. Atau sebaik penulis favorit kamu, temukan jati diri kamu sebagai penulis. Karena banyak sekali penulis di luaran sana yang memiliki kemampuan menulis lebih baik daripada kamu! Jadi stop untuk menjadi yang lebih baik dari mereka, seperti kata Raditya Dika, jadilah penulis yang beda. Kenapa? Supaya kamu tidak tergilas roda perubahan, dimana orang-orang yang lebih baik dari kamu juga mencoba menuliskan apa yang mereka anggap mereka terbaik di genre itu.

Sebagai penulis, kamu haruslah bekerja keras, bekerja cerdas, dan juga bekerja ikhlas. Setelah kamu bekerja keras untuk melakukan banyak perubahan dan perbaikan, lalu kamu juga sudah membperbaiki segala step dalam diri kamu, kamu juga harus meningkatkan pola rasa kamu. Karena sejak awal aku sudah katakan, bahwa menjadi penulis memiliki tanggung jawab dan proses yang tidak sebentar. Kamu harus ikhlas kalau orang lain dengan genre yang sama dengan kamu, justru lebih melejit daripada kamu. Bagaimana caranya ikhlas? Berpikirlah bahwa dia pasti telah berusaha jauh lebih keras daripada usaha yang kamu lakukan.

Sekeras apa usaha kamu? Kamu pasti bosan mendengar, bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Tapi, kali ini aku akan katakan hal berbeda. Bahwa Allah tidak akan membiarkan segalanya sia-sia begitu saja.

Mungkin saja, saat kamu terlena dalam lelapnya mimpi indah berlama-lama, lalu bangun kesiangan, lalu hanya diam dengan duduk chattingan dan menulis saat merasa mood kamu sedang baik. Teman kamu itu justru senantiasa terus berjuang untuk memperbaiki diri, memperbanyak karya, dan memperkaya khasanah pengetahuannya untuk tulisannya. Tidak ada yang berhak mengetahui setiap perjuangan orang, kecuali orang itu sendiri.

Orang lain tidak perlu tahu bagaimana proses kamu merangkak untuk menjadi penulis berkualitas dengan genre yang menjadi karakter kamu. Namun, semuanya akan menjadi jelas saat kamu sukses. Orang-orang pasti akan dengan sendirinya berpikir, dia adalah orang yang selalu bekerja keras.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here