Novel Finaira – My Beloved Niqobi Bagian Tiga

2

Maira turun dari motor Abahnya dan segera mencium punggung tangan, telapak tangan, dan kedua pipi Ummi bergantian. Ummi tengah berdiri di depan pintu untuk menyambut dua manusia berharga di hidupnya. Senyuman terkembang begitu manis di wajahnya, hingga menampakkan kerutan-kerutan di pelipisnya.

Gamis yang sama dengan pagi tadi masih rapi melekat. Setelah menyuruh putrinya masuk ke rumah. Ia menyambut suaminya, tidak lupa mencium tangan suaminya. Menggandeng lengan Abah, untuk masuk ke dalam rumah bersama.

Maira duduk di pinggir ranjang sembari menatap nanar sebuah amplop coklat yang tadi dibawanya. Berangkat ke alamat kantor pusat atau berdiam di rumah. Ia menghela napas perlahan demi mengusir gelisah di hatinya. Sampai suara dering dari ponsel mengejutkannya.

Shifa Azzahra: Assalamualaikum, Ra. Jangan lupa besok ada seminar alumni sekaligus penggalangan dana Save Al-Aqsha, Pray for Palestine di dome kampus jam 09.00.

Maira menepuk keningnya pelan saat membaca pesan dari sahabatnya di universitas sejak semester awal perkuliahan. Sosok yang terkadang mampu menjelma seorang kakak. Tapi, terkadang juga mampu berubah menjadi seorang adik yang manja dan kekanakkan. Perempuan cantik bermata sipit dan berkulit putih, khas keturunan Chinese, itu pula yang selalu membantu Maira.

Termasuk menjadi pengingatnya, seperti sekarang. Sifat pelupa Maira akan acara-acara kampus membuat Shifa selalu mengingatkannya—terbiasa.

“Kenapa aku bisa lupa acara sepenting itu?”

“Kenapa, Ra?” Entah sejak kapan, Ummi berdiri di ambang pintu sejak tadi. Maira tak menyadarinya.

“Ini, Um. Besok Maira ada seminar penggalangan dana, gitu. Terus Maira lupa.” Ummi hanya menggeleng pelanmerasa turut terbiasa dengan sifat pelupa Maira yang sering terjadi.

Penggalangan dana?” Maira mengangguk.

“Iya, Um. Untuk korban tragedi perang Al-Aqsha dan Palestina.”

“Ummi boleh bantu? Hmm, menyumbang sesuatu?” Mata Maira berbinar mendengar kalimat Umminya, lalu mengangguk cepat.

“Ya, sudah. Besok pagi Ummi berikan ke kamu. Sekarang istirahat, ya?” Setelah Ummi keluar dari kamarnya, ia mengingat jika pesan dari Shifa belum ia balas. Ia mengambil ponsel yang sempat ia letakan di nakas dekat ranjangnya.

Qhumaira: Hampir aku lupa. Jazakillah Shifa, sudah mengingatkan, aku akan datang pukul 8.

Keesokan pagi, Maira sudah duduk di meja makan dengan sepiring brokoli kukus dan sosis goreng di hadapannya. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Abah akan sibuk membaca surat kabar harian yang diantar peloper setiap pagi. Maira membaca headline surat kabar yang terpampang di hadapannya, karena Abah tengah membaca halaman di baliknya. Keningnya berkerut mengingat pertemuanya dengan Azizah kemarin, di masjid jami Malang. Pria bercadar, modus baru penculikan, suaranya dalam hati.

“Dunia semakin menggila sekarang,” komentar Abah sembari melipat koran itu kembali.

“Kenapa, Bah?” sahut Ummi dari dapur yang terletak di satu ruangan dengan meja makan.

“Ada saja modus penculikan anak terbaru. Minggu lalu, penculik pakai permen, sekarang pria ber-niqob.” Abah menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah serius menanggapi berita yang serius pula.

“Ya mereka kan pasti nggak mau melakukan kesalahan yang sama, Abah. Setelah tahu bahwa modusnya diketahui, otomatis mereka akan cari alternatif lain.
Kalau begini, bisa-bisa semua yang ber-niqob bisa dituduh penculik, Um.”

Maira hanya diam mendengar kedua orang tuanya yang saling melemparkan komentar mengenai berita, itu hal yang biasa terjadi setiap pagi. Saat ada berita yang menurut Abah akan ikut membahayakan keluarganya. Ummi dan Abah menatap Maira secara bersamaan.

“Kenapa Ummi dan Abah lihat Maira, begitu?”

“Kamu harus hati-hati, Ra.”

“Kan Maira bukan anak kecil, jadi nggak mungkin diculik, dong?” jawab Maira dengan nada polosnya membuat Ummi yang tadinya serius menjadi terkekeh geli.

“Badan kamu masih setinggi ketiak Abah, gitu? Dikira little niqobi, kamu nanti.” Abah ikut terkekeh mendengar penuturan istrinya menyangkut porsi badan putri tunggalnya yang tidak tinggi dan kecil.

“Maira lebih tinggi dari ketiak Abah, Ummi.

“Masih tinggi ketiak Abah, Ra. Percaya sama Ummi.”

“Ummi ….”

“Kenapa jadi bahas ketiak Abah, sih?” Abah menahan tawanya sembari berusaha mereda perdebatan kecil antara Maira dan Ummi. Tidak dengan suasana panas, hanya saja Maira akan mencembikkan bibirnya jika terusmenerus diejek pasal porsi badannya.

“Ummi itu Bah, Maira kan sudah tumbuh lebih tinggi.”

“Ummi bercanda, Ra. Sudah, yang jelas kamu harus hati-hati.”

“Iya, Abah.”

“Kamu juga ber-niqob, Abah takut kalau kamu justru dituduh sebagai penculiknya. Karena kamu ada dalam situasi dan posisi yang salah.” Raut wajah Abah serius namun terpancar sorot kekhawatiran terhadap keselamatan putrinya.

“Kalau terjadi sesuatu, Abah pasti datang menolong Maira. Jadi, tenang saja. Bidadari Abah yang cantik ini, akan selalu aman, tenteram, dan sentausa. Ok?” ucap Maira menggebu-gebu dengan mengangkat tangan kanannya ke udara yang memegang sendok membuatnya seperti berdemo.

“Baiklah, baiklah. Kamu tidak berangkat sekarang?”

Maira sampai di dome kampusnya lebih siang, meleset tidak seperti rencananya. Ia menyapukan pandangan ke seluruh ruangan yang sudah dipenuhi manusia. Entah mahasiswa, alumni, atau orang-orang yang tergabung dalam organisasi keagamaan di kampus. Terlihat beberapa teman yang seangkatan dengannya sudah duduk manis di kursi. Salah satunya melambaikan tangan ke arah Maira, membuatnya berjalan mendekat untuk duduk bersama.

“Assalamualaikum, sudah lama?”

“Waalaikumussalam. Belum, acaranya juga belum dimulai. Bagaimana kabarmu, hmm?” tanya Shifa yang duduk tepat di samping Maira.

“Alhamdulillah, baik. Kamu sudah diterima bekerja di kantor tempat kamu magang dulu?”

“Iya. Aku dapat panggilan dari Ardinata Inc. tepat satu minggi pasca-wisuda. Karena sudah pernah magang, kata staff HRD-nya aku nggak perlu wawancara lagi.” Maira mengangguk-anggukan kepalanya, “kamu gimana?”

“Entahlah, mungkin aku akan menerima tawaran menjadi staf pengajar di pesantren Kiai Rozaq.”

“Sabar, ya Ukhti kesayanganku. Kalau aku kerja di Ardinata Inc. aku coba cari info untuk kamu, hmm? Sekalian bisa curi pandang dengan bos-nya.” Shifa memeluk Maira yang mengangguk-angguk, kemudian segera menepis lengan Shifa.

“Tetaplah gadhul bashar, Fa!”

“Baik-baik, maaf. Aku hanya bercanda.”

“Ingat! Jangan sampai kamu meloloskan pandangan. Aku tidak ingin perempuan cantik dan istimewa seperti kamu terluka … karena jatuh cinta.”

“Iya, aku tahu kalau pandangan mata itu amat berbahaya. Aku akan tetap menundukkan pandanganku. Dengan begitu akan terjaga pula perasaanku.”

Maira tersenyum mendengar pernyataan Shifa, mengangguk membenarkan. Seolah ia benar paham akan bahaya pandangan mata. Ya, kamu benar. Pandangan mata adalah racun berbahaya di dunia, batin Maira.

“Ngomong-ngomong apa kamu nggak punya keinginan untuk memperlihatkan wajahmu padaku? Sudah empat tahun kita bersama, tapi aku belum pernah melihat wajahmu. Kamu kejam sekali sama aku.”

“Sudahlah, kapan-kapan saja. Bagaimana kabar Ummi dan Abimu?”

“Dasar! Pandai sekali mengalihkan pembicaraan.” Shifa tertawa menampakkan sepasang lesung pipitnya kemudian menghela napas, “kemarin, Abi tanya kapan aku ber-niqob sepertimu,” ujarnya dengan wajah yang menyendu. Hal itu membuat Maira semakin dalam menatap mata rekannya dari balik burqah yang ia kenakan.

Lalu?”

“Hmm …, aku belum siap menerima ujian yang lebih berat. Aku bukan wanita kuat sepertimu, Ra.” Tatapan mata Shifa semakin menyendu.

“Hei! Muslimah adalah wanita yang kuat, kamu belum meyakinkan hati kamu saja. Setelah yakin istiqomahlah, semua akan terasa indah dan nikmat. Sulit memang, tapi perjalanan hijrah itu penuh kenikmatan.” Maira menangkup kedua pipi Shifarekan seangkatannya yang selalu bersamanya, membantunya sejak ia di Malang.

Saat itu, Maira tidak mengenal seluk-beluk kota Malang karena sejak Mts, ia memilih untuk bermukim di pondok pesantren. Shifa yang tidak pernah menginjakan kaki di bumi pesantren, justru iri dengan kesempatan Maira bisa berada di pondok selama enam tahun. Maira selalu digoda olehnya untuk membuka niqob, karena ia sangat ingin melihat wajah Maira. Tapi, Maira selalu menolak dengan berbagai alasan meski hal itu diperbolehkan. Ia hanya ingin menjadi insan yang asing, tidak dikenal.

“Jadi, kamu jangan lupa memberi kabar padaku saat kamu menikah,” lanjut Maira yang dihadiahi cubitan kecil di lengannya dari Shifa.

“Kamu yang akan terlebih dulu di-khitbah. Aku berdoa demikian tiap selesai qiyamul lail. Jadi tunggulah, Maira!”

“Sudahlah, itu MC sudah naik. Diamlah.”

Fin

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here