Novel Finaira – My Beloved Niqobi – Prolog

1

“Wa’aataakum min kulli maa sa’altumuhu, wa in ta’udduu ni’matallaahi laa tushuuhaa, innal insaana ladholuumun kaffarun.”[1]

“Aku belum mampu memalingkan pendengaranku, begitu pula kekagumanku terhadapnya,” lirih seorang perempuan ber-niqob yang bersandar di dinding sebuah masjid. Membelakangi seorang lelaki yang tengah membaca mushaf dalam masjid.

Ia meletakkan telapak tangan di dadanya, merasakan degup kecil yang selalu hadir saat mendengar suara itu. Senyuman terkembang di wajahnya. Matanya berbinar. Seakan itu adalah murotal termerdu di dunia. Terdengar menyejukkan hati. Niqobi itu sering mencuri dengar ketika lelaki yang ia kagumi dalam diam, tengah membaca mushaf. Seperti sore ini.

“Kamu sedang apa?” Niqobi terkejut mendapat teguran dari seorang perempuan yang seumuran dengannya. Perempuan cantik dengan gamis dan khimar berwarna hijau. Sepasang lesung pipit pun menghiasi kedua pipinya ketika tersenyum.

“Eh!? Hmm … aku sandaran saja di sini.”

“Aku juga tahu.” Keduanya terkekeh.

“Ayo ke ndalem[2], tadi kamu sama akhi[3] Ibrahim dipanggil Abah.” Niqobi mengangguk. Sementara perempuan berkhimar hijau memanggil lelaki yang tengah berada dalam masjid.

Kedua perempuan tadi  berjalan beriringan di belakang lelaki berparas tampan, berkulit putih dengan sedikit rambut di dagu dan di sekitar rahang bawahnya. Ia mengenakan jubah krem dan celana cingkrang berwarna senada. Tidak lupa sebuah kopyah putih di kepala. Ketiganya hanya diam selama perjalanan dari masjid utama ke ndalem. Meski, pada akhirnya mereka berhenti di halaman sebelum masuk ndalem.

“Ini yang dicari-cari, akhirnya kesini.” Ketiganya tersenyum saat ada seorang pria berjenggot tengah bersuara.

Assalammualaikum, Kyai Rozaq!”

Waalaikumussalam. Ibrahim, saya mau kasih tahu. Kalau perpindahan kamu ke cabang dua sudah siap. Lusa kamu bisa langsung berangkat.” Niqobi tertegun. Ibrahim tersenyum.

“Terima kasih, Kyai. Prosesnya cepat juga ternyata.”

“Iya, karena perpindahan santri putra lebih cepat.” Kyai Rozaq mengalihkan pandangannya pada Niqobi. “Maaf, tapi perpindahan kamu tidak diizinkan oleh Kiai Umar.” Niqobi menghela napas kecil, ia tersenyum. Apa aku boleh su’udzon sekarang? Bahwa ini adalah cara Abah menjauhkanku darinya, batin Ibrahim.

“Kenapa Kyai? Apa saya tidak memenuhi kualifikasi?”

“Bukan, tapi kami membutuhkan kamu di sini.”

“Maksudnya bagaimana, ya, Kyai?”

“Jadi, beberapa waktu lagi. Kyai Umar dan saya akan membuka program hafidzah[4]. Kyai Umar menyarankan agar kamu yang menjadi pengajar di kelas itu. Sedangkan santri putra, kan sudah ditangani Kyai Umar.”

“Apa saya cukup pantas melakukannya?”

“Tenang saja, nanti akan ada istri Kyai Umar.”

“Ummi saya juga ikut mengajar?” tanya Ibrahim tatkala mendengar kalimat Kyai Rozaq.

“Iya, Ummi-mu yang jadi pengajar utama. Katanya dia mau memastikan kalau pondok ini benar-benar punya santriwati berprestasi,” ucap Kyai Rozaq sembari melirik perempuan ber-niqob yang berdiri di samping putrinya.

Keempatnya terasa sangat dekat, selain ketiga keluarga itu memang dekat sebelum anak-anak mereka bertemu, kediaman mereka juga terbilang berdekatan.

Mereka asyik membicarakan program pondok, hingga tidak menyadari jika ada sepasang mata berbinar yang turut memperhatikan salah seorang dari mereka. Memandangi indahnya perempuan surga yang tengah berada di dunia, dengan sinar matahari sore yang menerpa tubuhnya. Pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali bagian mata dan jemari mungilnya.

Kyai Rozaq mengajak perempuan di sisinya meninggalkan Ibrahim dan perempuan ber-niqob itu di halaman terbuka. Tidak bermaksud demikian memang. Hanya situasi yang membuat keduanya berada di tempat yang sama. Hening.

“Selamat karena sudah terpilih jadi pengajar di sini.”

Suara Ibrahim yang penuh kelembutan menyapa ruang dengarnya, menelusup seperti kalsium hingga ke dalam tulang lalu mengokohkannya. Terasa seperti beradu dengan angin guna membelu belai hatinya. Senyum lelaki itu mengembang, kedua iris coklat kehitamannya berbinar. Menyorotkan cinta dan rasa penuh kekaguman.

“Terima kasih.”

Hening. Lagi.

“Hmm, aku … sekalian pamit.” Ibrahim menggaruk tengkuknya dengan pipi sedikit memerah. Kalau perempuan itu tampak pipinya, akan terlihat rona yang sama seperti lelaki di hadapannya.

“Iya.”

“Aku akan pulang saat sudah pantas mempersuntingmu.” Ibrahim berkata demikian mantap. Ia memandangi jemari mungil perempuan di hadapannya yang saling tertaut karena gugup. Ia cukup tahu, bahwa perempuan di hadapannya menaruh rasa yang sama sepertinya. Siapa yang tidak jatuh hati dengan perempuan shalihah sepertinya?

Niqobi itu selalu jatuh lebih dalam setiap saatnya. Ia terasa menjelma menjadi hujan, jatuh berkali-kali. Tidak peduli rasa sakit dan resiko selepasnya, ia memilih untuk tetap jatuh pada pesona yang sama, setiap saatnya. Berharap akan datangnya hari akad, berharap akan manusia. Tanpa ia sadari, bahwa berharap pada manusia adalah hal terpahit di dunia.

“Aku tunggu.”

Ibrahim mengerti. Kyai Umar hanya ingin mengatakan, jika langkahnya mendekati perempuan itu adalah salah. Ini saatnya menempa diri agar lebih pantas ketika bersanding dengan perempuan shalihah ini. Ibrahim tersenyum.

“Seperti cerita kamu beberapa waktu lalu di masjid barat, ketika Ali bin Abi Thalib dan Fatimmah Az-Zahra saling jatuh cinta. Keduanya saling menjauh dan berusaha untuk lebih dekat dengan cinta Allah. Karena jatuh cinta kepada Allah, adalah rasa cinta yang tak akan pernah menimbulkan luka.” Ibrahim menghela napasnya dan tersenyum lebih lebar.

“Aku pamit, jaga diri kamu. Assalammualaikum, Maira.”


[1] Q.S. Al-Ibrahim ayat 34, artinya: “Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”

[2] Kediaman pemimpin pesantren dalam lingkungan pondok, biasanya untuk menerima tamu juga.

[3] Panggilan semacam ‘Mas’ dalam bahasa Arab.

[4] Sebutan untuk perempuan penghafal Al-Qur’an

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here