Novel Finaira – My Beloved Niqobi — Bagian 1

0

“Niqob yang Dipermasalahkan”

Maira—Qhumaira Khairina, perempuan lemah lembut dengan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia memandangi wajahnya yang tersembunyi di balik niqob, lalu tersenyum. Menghela napas perlahan, kemudian mengambil ransel hitam bergambar kartun niqobi. Tangannya meraih sebuah map coklat berisi surat lamaran pekerjaan.
Maira keluar dari kamar, berjalan menuju ruang makan. Ia melihat Ummi tengah berkutat di dapur dan Abahnya yang membaca koran di meja makan dengan secangkir kopi susu full cream di sampingnya. Ia berjalan mendekati Ummi dan memeluknya dari belakang.

“Sobahul Khoyr, Ummi!”

Wanita yang tengah memasak telur mata sapi itu berjingkat terkejut karena pelukan putrinya. Tapi, ia segera tersenyum dan mengelus puncak kepala putrinya.

“Sobahunnur, Bidadari. Kamu sudah mau berangkat?” tanya wanita paruh baya dengan senyuman di wajahnya yang dibalas senyuman dari balik niqob oleh Maira. Meskipun tak terlihat, Ummi tahu, bahwa Maira tengah tersenyum.

“Iya Ummi. Maira tunggu Abah selesai sarapan dulu.”

Maira berjalan ke meja makan dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Abah. Pria paruh baya dengan kacamata minus di pangkal hidung itu melipat koran yang dibacanya. Ia menatap mata putri tunggalnya yang tertutup kain.

“Kamu yakin langsung melamar pekerjaan lagi?”

“Iya, Abah. Maira mau bantu Abah sama Ummi. Lagi pula, kalau Maira di rumah terus. Bisa-bisa, Ummi akan tanya tentang jodoh.” Maira merengek dan beralih duduk di kursi samping Abahnya. Abah hanya terkekeh mendengar putrinya merajuk manja.

“Jangan-jangan, kamu benar mau di-khitbah?” sahut Ummi yang berjalan sembari membawa dua piring, satu piring berisi sebuah telur mata sapi dan beberapa brokoli kukus untuk Maira. Satu piring lagi, berisi nasi goreng dengan irisan sosis dan beberapa sayuran.

“Memangnya siapa yang mau khitbah dia? Masih suka manja sama Abah begini?” Abah mengedipkan sebelah matanya ke Maira yang tengah memakan sarapannya.

“Itu loh, Bah. Kakak tingkat Maira di pesantren dulu. Namanya Ibrahim, hafidz, loh.”

Maira tersedak mendengar penuturan Ummi, mengingat dia tidak pernah lagi mengungkit-ungkit nama itu dalam pembicaraan mereka. Seketika, ingatannya kembali terbuka pada sosok tampan yang telah menetap dalam hatinya dan menjadi satu-satunya pria selain Abah yang ia sebut dalam doa. Mendoakan adalah cara mencintai yang paling rahasia, bukan? Tapi entah kenapa, meski terkesan sederhana, hal itu merupakan sesuatu yang istimewa.

“Ohh, cucunya Kiai Umar itu, ya?” Abah setuju saja. Lamunan Maira terbuyarkan.

“Ummi, Abah, kok Maira diledekin terus?” Maira menyahut setelah meminum segelas air putih dan rasa sakit di tenggorokannya hilang.

“Ummi nggak ngeledekin kamu, kok.”

“Sudah-sudah, kita lanjutkan sarapannya.” Abah menghentikan sesi menggoda Maira pagi ini, lalu melahap sarapannya pula.

“Ingat Maira! Dia belum saatnya ada di hati kamu. Jangan sampai, rasa cinta di hati kamu justru menjadi penghalang dekatnya kamu dengan Allah.”

“Iya, Abah. Maira mengerti.”

Abah mengelus puncak kepala putri tunggalnya itu lembut sembari tersenyum. Senyum yang turut menghadirkan raut bahagia di wajah Maira, meski kerutan pun ikut timbul karena senyum manis Abah. Kalimat Abah mengingatkannya akan kesalahan fatalnya beberapa tahun lalu di pesantren yang ia tinggali selama 6 tahun sampai saat ini. Sejak itu, Maira memilih untuk menutup kedua matanya dan menggunakan sarung tangan.
Ia menutup seluruh tubuh dan hatinya. Walaupun, hatinya tak benar-benar kosong dan terkunci.

“Kalau dia sudah menjabat tangan Abah di depan penghulu sambil ijab qobul, sih. Nggak masalah.” Maira kembali tersedak mendengar penuturan Abah. Kedua manusia paruh baya itu kembali terkekeh karena menggoda putrinya.

Keluarga Maira, bukanlah keluarga kaya yang hidup bergelimang harta dengan barang-barang mewah. Pak Ahmad, Abah Maira, seorang guru agama di Madrasah Tsanawiyah dengan penghasilan yang tidak banyak. Istrinya, Ummi Fatimah, yang juga seorang guru agama di SD dengan gaji yang tak besar pula. Namun, rumah ini selalu dipenuhi dengan tawa dan kebahagiaan.

“Maira, hati-hati. Nanti kalau sudah selesai, telepon saja biar Abah jemput,” ucap Abah saat menghentikan laju motornya di depan sebuah perusahaan.

“Nggak perlu Abah. Nanti, Maira naik angkutan umum saja.”

“Ya sudah. Bitaufiq wannajah.” Abah berangkat dulu. Maira mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Abahnya.

“Abah hati-hati. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.” Abah tersenyum dan segera melajukan motor menuju madrasah tempatnya mengajar.

Maira mengamati sejenak gedung tinggi yang hampir seluruh bagiannya dibuat dari kaca. Lalu menghela napas perlahan untuk mengurangi rasa gugup di dalam hati. Ia melangkahkan kakinya perlahan memasuki gedung itu. Beberapa orang yang duduk di lobi kantor menghentikan aktivitas mereka. Lalu, mengalihkan pandangannya ke pintu masuk. Melihat Maira dengan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, masuk ke gedung tersebut. Ia melangkah perlahan menuju meja penerimaan surat lamaran pekerjaan. Di meja itu terlihat seorang wanita dengan wajah cantik ditambah riasan di mukanya.

“Permisi, saya mau melamar pekerjaan di perusahaan ini,” ucap Maira kepada wanita yang sibuk menulis.

Wanita bernama Fara Angeline, tertulis di name tag yang ada di jas kerjanya, menoleh ke Maira. Matanya memicing melihat kain hitam yang menutupi wajah Maira. Wanita lain yang duduk di samping Fara menoleh pula. Lalu mendekatkan wajahnya ke telinga wanita bernama Fara tadi.

“Suruh ke kantor pusat saja. Bisa turun reputasi kantor kita, menerima pegawai seperti itu. Bisa jadi dia teroris lagi,” bisiknya yang tak dapat ditangkap ruang pendengaran Maira. Wanita itu tersenyum kaku lalu menulis di selembar sticky note berwarna kuning.

“Mbak, datang ke kantor pusat, ya? Di sini sudah penuh.” Maira menerima kertas itu lalu mengangguk kecil dan segera berlalu dari meja tersebut.

Ia berjalan lebih cepat daripada langkahnya saat masuk, ia melihat beberapa wanita yang duduk di lobi kantor ini. Rok hitam di atas lutut yang menampakan paha, lalu kemeja putih yang sedikit transparan, rambut bermacam-macam gaya, dan riasan wajah. Maira mengalihkan pandangan pada kertas tadi. Ia memupuk semangatnya kembali, bertekad untuk datang ke kantor pusat.

“Nggak gerah apa pakai baju seperti itu, warna hitam lagi? Aku saja kepanasan pakai pendek seperti ini,” ucap seorang pelamar kerja yang tadi sempat diperhatikan Maira ketika melangkah keluar kantor.

“Dia pasti ditolak sebelum menaruh lamaran. Mana ada perusahaan yang mau menerima karyawati seperti itu.”

“Sudah, kalian diam saja! Itu haknya, lagian kita juga belum tentu diterima di kantor ini. Meskipun pakaian kita seperti ini,” ucap wanita lain yang duduk berdekatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here