Novel Finaira – My Beloved Niqobi — Bagian 2

0

Nikah, yuk!

Hari masih pagi, Maira memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kota yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor itu. Berada di pusat pemerintahan kota madya memang ramai, cuaca panas meskipun tidak sepanas di Ibukota. Karena di Malang masih banyak tertanam pohon di sepanjang jalan. Selain itu, area pegunungan dan kawasan pantai yang turut menyumbang udara sejuknya.
Maira mengambil beberapa buku, sembari menunggu matahari agar semakin meninggi. Berdiam diri di perpustakaan dengan sebuah buku tebal, membuat Maira betah berlama-lama di tempat ini. Memilih meja paling ujung, sehingga sepi dari pengunjung lain. Meskipun perpustakaan sepi di hari kerja seperti ini.

Terlihat hanya ada beberapa pengunjung, mahasiswa yang tengah mencari bahan untuk mata kuliahnya, dan pengunjung yang sudah berusia banyak.

“Assalamualaikum, Bah?” ucapnya sedikit berbisik kepada Abah yang menelepon.

“Waalaikumussalam, ini Ummi. Kamu di mana? Sudah selesai urusannya?” tanya Ummi di seberang sana dengan nada khawatir dan terburu-buru.

“Ohh, Ummi. Maira di perpustakaan kota. Ummi baik-baik saja?” tanya Maira khawatir yang menyadari jika Ummi tidak pernah berbicara secepat itu.

“Kamu bisa pulang setelah Ashar? Mau ada yang kami bicarakan dengan kamu.”

“Kalau sekarang Maira pulang, nggak masalah kok, Um.”

“Jangan! Pulanglah setelah Ashar. Mengerti?” Maira semakin khawatir ketika Umminya mendadak bersuara sedikit keras kepadanya di telepon.

“Baik, Um.”

“Ya sudah. Assalamualaikum.”

Ummi langsung memutuskan sambungan telepon sebelum Maira mejawab salam. Maira hanya menggelengkan kepala mendapati sikap Umminya yang tidak seperti biasa. Kemudian ia memutuskan melihat jam di wallpaper ponselnya, tiga jam sudah ia di perpustakaan. Ia memutuskan untuk berjalan ke masjid sembari menunggu adzan Dhuhur berkumandang. Karena jaraknya yang cukup jauh dari perpustakaan kota. Maira berjalan di bawah terpaan sinar matahari yang hampir meninggi tepat di atas kepala.
Maira segera memasuki masjid dan berdiri di shaf khusus wanita. Di tempat ini, ia merasa tidak menjadi pusat perhatian. Ia merasa sama dengan sekitarnya, terlihat beberapa wanita yang tengah berada di masjid juga mengenakan niqob seperti dirinya.

Seusai menunaikan sholat, Maira duduk di teras masjid meluruskan kakinya. Karena perintah Ummi yang menyuruh Maira untuk pulang selepas Ashar. Maira duduk memandangi sekitarnya.

“Assalamualaikum. Boleh duduk di sini?”

Maira menengok ke sampingnya, ada seorang perempuan dengan gamis panjang bermotif bunga sakura berwarna pink pastel dan khimar panjang berwarna senada. Ia tersenyum ramah dengan wajah cantiknya.

“Waalaikumussalam, silakan.'”

“Azizah.” Perempuan itu mengulurkan tangannya setelah duduk di samping Maira.

“Maira. Anti berkunjung atau tinggal di Malang?”

“Tinggal sementara di Malang, baru wisuda bulan lalu.”

“Oh, ya? Kita seumuran ternyata. Wisuda juga bulan lalu. Asli mana?”

“Kediri, Ukh. Anti tinggal di Malang? Sedang sibuk apa sekarang?”

“Naam, sekarang sedang cari pekerjaan.”

“Sekarang sulit ya, Ukh, mencari pekerjaan. Apalagi dengan gamis dan khimar panjang.” Maira terkekeh kecil mendengar penuturan Azizah. “Sudah berapa kali melamar?”

“Belum sama sekali.”

“Kenapa belum, Ukh? Bingung mau cari di mana?” Maira menggeleng.

“Belum taruh berkas lamaran saja sudah disuruh pergi.” Maira terkekeh kecil mendengar kalimatnya sendiri.

“Kenapa, Ukh? Apa karena seorang Niqobi?” Maira memungkinkan pertanyaan Azizah dalam hatinya. Namun, ia segera menepis prasangka buruknya. Meskipun, mungkin itu yang benar-benar ia alami.

“Allah memiliki pekerjaan yang lebih istimewa di depan sana untuk saya.” Azizah tersenyum mendengar jawaban Maira.

“Oh ya, anti harus hati-hati saat jauh dari rumah. Pernah dengar soal modus penculikan yang terbaru, kan?”

“Pria yang menggunakan gamis dan ber-niqob?” Azizah mengangguk membenarkan, pikiran Maira tertuju pada berita yang sedang marak saat itu. Lalu, tiba-tiba seorang pria dengan kemeja biru muda dan celana hitam, menghampiri mereka. Azizah tersenyum mendapati pria itu menghampirinya. Maira mengerutkan keningnya melihat mata Azizah yang berbinar, walau wajah Azizah menunduk sedari tadi.

“Permisi. Azizah, ayo pulang?” Azizah mengangguk kecil. Azizah menengok Maira kemudian di dibalas anggukan kecil oleh Maira. Pria itu berjalan di depan perempuan yang senyumnya semakin lebar dengan pipi sedikit merona, lalu mendadak berhenti setelah dua langkah.

“Azizah!” Azizah yang baru saja berdiri segera menatap punggung pria yang tepat ada di hadapannya.

“Ya?” Suara Azizah membalas lirih, namun dapat didengar oleh pria itu dan Maira.

“Nikah, yuk!”

Wajah Azizah bersemu merah mendengar kalimat ajakan. Ah! Lamaran pria yang ada di depannya. Maira pun tertegun dengan lamaran yang mendadak didengarnya. Azizah tak bersuara sedikitpun, ia terkejut mendapat lamaran yang sederhana dan mendadak. Di teras sebuah masjid, selepas sholat berjamaah. Pria itu berbalik dan menghadap Azizah yang kini tengah menunduk dengan pipi memerah sempurna.

“Saya akan datang ke Kediri, untuk melamar kamu.”

“Mas … serius?” Azizah bergumam tampak ragu dengan hal yang baru saja didengarnya.

“Saya serius sama kamu,” tegasnya, memperlihatkan bahwa ia sedang tidak main-main dengan ucapannya. Saya akan segera berkunjung ke Kediri, dengan orang tua saya.

“I-iya, Zizah tunggu.” Pria berkacamata itu kini tersenyum lega mendengar jawaban perempuan yang baru saja dilamarnya, di teras masjid. Kemudian pria itu berjalan mendahului Azizah yang masih mematung karena keterkejutannya. Maira mendekati Azizah, dengan senyuman lebar di balik niqob-nya.

“Selamat, calon imam sudah datang meng-khitbah.” Azizah tersenyum dengan mata berkaca-kaca, lalu merangkul Maira.

“Terima kasih, Ukh. Ternyata penantian saya tidak sia-sia selama ini,” ucap Azizah yang kini dengan isakan kecil di pelukan Maira.

“Allah tidak akan membuat penantian itu sia-sia. Sudah, cepat pulang. Kabarkan berita baik ini kepada keluarga anti.” Maira melepas pelukan Azizah dan menghapus air mata Azizah dengan tangannya yang terbalut sarung tangan.

“Baik, saya permisi, Ukh. Semoga bisa berjumpa kembali. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.”

Azizah berlalu dari teras masjid dan segera menghilang dari pelataran masjid. Meninggalkan Maira yang masih tersenyum karena kejadian beberapa saat lalu di hadapannya.

Maira mengambil sebuah mushaf kecil yang selalu menemaninya saat bepergian. Mengabaikan terik matahari yang masih meninggi. Teras masjid yang penuh cerita bagi Azizah, dengan hawa sejuk dan dinginnya lantai marmer berwarna pastel. Getaran ponsel dalam tasnya menyadarkan Maira yang fokus terhadap mushaf-nya. Melihat beberapa pesan dari nomor Abah. Ia melirik jam yang masih pukul 14.35 WIB, beberapa menit lagi adzan Ashar akan berkumandang. Maira membuka pesan dari Abah.

Abah Ganteng: Assalamualaikum, di mana, Ra?
Abah Ganteng: Apa sudah makan? Pulanglah selepas Ashar.
Abah Ganteng: SMS-kan, kamu di mana. Supaya Abah jemput kamu.

Tiga pesan berturut-turut dari nomor Abah, Maira tersenyum membacanya. Lalu mengetikan balasan kepada Abahnya. Pesan kedua dari Abah membuat ia tersadar jika, dirinya belum makan siang.

Qhumaira: Waalaikumussalam, Maira di masjid jami Bah. Maira lupa makan, hehe. Naik angkutan umum juga nggak masalah, kok.
Abah Ganteng: Kebiasaan, lupa makan. Abah jemput sekarang.
Qhumaira: Maaf, Abahku ganteng. Bidadari mau sholat Ashar di masjid jami dulu.
Abah Ganteng: Ya, Abah kan juga mau sholat di masjid jami itu. Ngomong-ngomong, nama kontak Abah diganti pakai kata tampan, saja.

Maira kembali terkekeh membaca pesannya dengan Abah.

Qhumaira: Lebih keren pakai kata ganteng, orang Malang banget. Ya sudah. Cepat Abah, karena beberapa menit lagi sudah adzan.
Abah Ganteng: Baiklah, bidadari surga Abah.

Maira kembali terkekeh membaca pesan Abah, ia memasukan kembali ponselnya ke tas. Lalu berjalan memasuki shaf sholat di dalam masjid.


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here