Pencapaian Terbesar di Hidupku, Aku dan Mental Illness

1

Mental illness adalah hal yang paling menakutkan dan mengejutkan bagiku, bukan karena aku menolak kenyataan kalau aku itu manusia normal yang bisa sakit, tetapi lebih seperti aku yang sulit percaya aku sakit. Sebagai pribadi dengan identifikasi karakter INFP (tipe persona berdasarkan tes MBTI), memang lebih sering memikirkan terlalu dalam hal-hal yang bukan tentang dirinya.

“Apakah akan menyinggungnya?”

“Apa aku menjadi beban untuknya?”

“Apa yang akan mereka pikirkan kalau aku pakai baju ini?”

Hal-hal seperti itu terlintas secara sadar dan nggak sadar terus berlanjut tanpa bisa dihentikan. Kadang orang lain menganggapku adalah orang egois yang tidak suka bersosialisasi, alergi manusia, sombong, cuek, dan kosakata lain. Perkataan itu mungkin hanya bercanda atau selayang pandang dikatakan, tapi tidak bagiku dan mungkin banyak orang lainnya juga. Kemudian bersarang makin dalam menjadi mental illness.

Mental illness? Kenapa Bisa?

Masih banyak orang menganggap penyakit mental itu sama dengan gila. Padahal mental illness itu ada banyak jenis, sebab, dan gejalanya. Hal terburuknya adalah para pengidap penyakit mental cenderung menganggap dirinya kuat dan baik-baik saja, seperti menyimpulkan kalau tidak bisa tidur terus menerus itu hal wajar, mual tiap kali makan, atau menangis tersedu tanpa sebab langsung. Mental illness cenderung diabaikan, oleh penderitanya sekaligus lingkungan.

Stigma Mental Illness yang Dianggap Kurang Iman

Sering sekali teman-teman penderita mental illness cerita, mereka bercerita tentang keluhan psikisnya, tetapi bukan didengarkan malah mendapat judgement dia orang manja yang kurang ibadah. Memang agama adalah dasar dari tiap tindakan, tapi jangan sampai karena itu kita jadi mabuk agama dan menyepelekan perkara lain. Beragamalah yang berakal dengan cinta.

Mental illness ini sebenarnya adalah sebuah tanda kalau jiwa dalam kondisi tidak tenang atau lelah.

1 COMMENT

  1. Makanya ada istilah toxic positivity juga ya. Saat curhat kalo lg kenapa2 ditanggapi dgn “ah kamu kurang bersyukur. Si ini lebih menderita lagi drpd lo”
    Huft
    Kayanya emg skrg kalo uda ga ada temen ato org yg bisa diajak bertukar pikiran ttg kesehatan mental kita, mending langsung ke ahlinya
    Sebelum terlambat ya kan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here