Novel Finaira — Mengapa Cinta Harus Jatuh Bagian Enam

0

Fengopobia

“Egh … engghh.”
Suara serak khas seseorang yang masih mengumpulkan nyawanya setelah terbaring lama menikmati mimpi yang lebih indah daripada dunia nyata. Ia mengulet dan bergegas turun dari kasurnya. Sekejap ia melirikan pandangannya ke arah nakas di samping tempat tidurnya.

Morgen,” ucapnya kemudian sembari menyapukan pandangan matanya ke seluruh penjuru kamar.

Suasana pagi hari yang nyaman, ditambah dinding kamar yang berwarna coklat dipadukan dengan warna hitam dan krem. Terkesan mewah dan elegan. Matanya tertahan di sebuah kanvas yang tertempel di dinding. Kanvas yang masih putih tanpa setitik cat pun menggores permukaan kanvas itu. Ia berjalan perlahan ke arah kanvas yang kosong itu.

“Kosong,” gumamnya sembari menyapukan tangannya di permukaan kanvas itu. Matanya mengekori gerakan tangannya. Hingga tangannya berhenti pada sinar matahari yang menyinari kanvas putih itu.

Perlahan bibir tipisnya yang merah merona mengulumkan senyum. Namun, matanya menatap cahaya itu nanar. Matanya menyorotkan nada kemarahan bercampur kebencian. Napasnya memburu. Lagi-lagi matanya menyorotkan tatapan membunuhnya. Seketika tangannya bergetar, mulutnya berkomat-kamit, matanya melotot, dan kakinya bergetar.

Ia berlari menjauhi kanvas itu.

Kemudian, ia berteriak sembari menarik-narik rambutnya yang hitam bergelombang, indah. Tangannya yang bergetar mengambil vas bunga yang ada di nakas lalu melemparkan ke kanvas itu. Matanya masih menyorotkan kebencian, ia menyabet gelas berisi susu hangat lalu melemparkannya pula ke arah kanvas itu. Mulutnya menyeringai penuh kesakitan. Matanya berkaca-kaca namun menyorotkan kebencian.

Tangannya yang masih bergetar kini memegang sebilah pisau yang ada di atas piring bersama buah-buahan. Tidak terlalu tajam, namun cukup untuk membuat seseorang mati jika tertusuk.
Ia berjalan mendekat ke arah kanvas itu, lalu pisau yang ia genggam ia arahkan ke sinar matahari itu. Namun, matanya menatap bingung seakan mencari. Cahaya itu tiada. Ia menyapu dinding kamar itu. Lalu memutarkan badannya, hingga ia tampak menyeringai seperti menemukan sesuatu.

Cahaya itu.

Ia mengangkat pisau dan bersiap menusukan pisau itu ke perutnya.
Ya. Cahaya itu ada di perutnya.
Sebelum ia benar-benar menusukan pisau itu ke perutnya. Suara pintu yang dibuka paksa dari luar pun terdengar menggema di ruangan. Namun, suaranya tak dapat hirauan dari seseorang yang menggenggam pisau. Tangannya ditahan oleh seorang pria yang mendobrak pintu tadi.

Namun, sorot matanya beralih dari cahaya yang ada di perutnya ke mata arah pria itu. Tatapan membunuhnya beralih ke pria itu. Namun, pria itu tetap tersenyum dan menggenggam erat tangan yang memegang pisau itu. Pria itu menatap orang itu dengan lembut.

“Kembalilah, jangan seperti ini Denna, ucap pria itu.”

Ya. Dennalah wanita yang sedari tadi memegang pisau itu. Denna meronta dan berusaha melepaskan cekalan tangan pria itu. Meskipun begitu, pria itu tetap tersenyum dan berusaha menyadarkan Denna.

“Kumohon, sayang. Kembalilah,” ucap pria itu kemudian.

Hingga mata Denna berhenti pada manik mata pria yang ada di hadapannya. Tatapan lembut dan penuh kasih sayang meracuni Denna yang tengah mengamuk. Tatapan membunuhnya perlahan sirna dan melembut. Hingga rahang yang sedari tadi mengeras kini tiada lagi. Seringai yang tadi pun tak ada. Bibirnya memucat dan pisau itu terjatuh dari tangannya. Lalu perlahan lutunya tertekuk.

Namun, pria itu menahannya. Jika tidak, mungkin lututnya akan bernasib sama seperti telapak kakinya yang sobek dan tertancap pecahan beling di lantai. Tak hanya satu luka, tapi banyak. Hingga di lantai tak hanya beling yang berserakan menghiasi lantai putih itu. Namun, darah segar yang berbau anyir turut mewarnai lantai itu. Pria itu dengan kuatnya menggendong tubuh Denna dan mendudukkannya di sofa dekat pintu. Tak lupa pria itu menutup jendela dengan gorden berwarna hitam.

“Sayang? Kaki kamu luka parah banget. Aku obati ya?”

Pria itu mengusap pucuk kepala Denna dengan lembut dan menatap penuh kasih sayang.

Kembalilah Denna, aku tak sanggup jika melihatmu seperti ini setiap saat. Melihatmu yang ingin membunuh semua makhluk, bahkan sinar matahari pun tak kau izinkan hidup. Kau sangat ingin membunuh dirimu sendiri yang kau anggap kotor. Kau ingin membunuhku kah? Mengapa tidak? Kumohon kembalilah. Aku sudah tak sanggup melihatmu menderita.

“Kamu mau sarapan apa hari ini?” tanya pria itu yang masih sibuk mengobati kaki Denna yang menganga.

Sedang Denna tak menggubris kata-kata pria itu. Bahkan ia tak meringis kesakitan saat pria itu membersihkan beling-beling yang menancap di kakinya tanpa obat bius. Matanya memandang kanvas yang sudah ternoda darahnya dengan tatapan kosong.

Pria itu masih menjahit luka-luka Denna di tangan dan kaki. Dengan telaten pria itu mengobati luka Denna, hampir setiap ia lupa menutup gorden jendela tiap pagi. Dalam satu bulan setelah masa itu berlalu. Denna masih tak bicara maupun melakukan kegiatan positif tanpa insting membunuhnya. Bahkan saat pria itu mengajaknya memasak di dapur. Denna mencincang daging dan sayur-mayur dengan garang, bahkan tak peduli tangannya yang berdarah. Denna pun pernah menggoreskan pisau di lengan pria itu.

“Bunda, Denna mengantuk. Denna tidur dulu iya?”

Tak berselang lama Denna pun tertidur di kamarnya, sengaja ia tidak menutup pintu karena ia pikir Denna akan bangun dan mengambil sesuatu di dapur dan kembali ke kamar. Tapi Denna lupa akan hal itu. Pengalaman pahit pun dimulai. Denna melihat kamarnya dipenuhi lilin beraroma terapi berwarna merah, dihiasi bunga mawar merah yang cantik di atas tempat tidur yang telah diberi tirai berwarna putih menjuntai dari atas ranjang hingga ke lantai.

Denna melihat seorang pria berbaring di atas ranjangnya. Namun, ia tersenyum kepada pria itu. Denna menidurkan diri di atas ranjang di sebelah pria yang tak mengenakan baju itu. Pria itu kemudian mengecup bahu Denna yang masih berbalut baju tidur berwarna biru muda. Kemudian dengan gerakan lembut pria itu melepas seluruh kain yang membalut tubuh Denna. Denna hanya diam tanpa ekspresi. Matanya terpejam. Hingga Denna melenguh karena menyadari dirinya tak lagi berbusana dan sesuatu menindih tubuhnya.

Denna mengerjapkan mata.
Ia berusaha melihat apa yang menindih tubuhnya. Denna mencoba menafsirkan pandangannya. Mimpikah? Jika ya, mengapa terasa sangat nyata? Jika tidak, mengapa mereka melakukan hal ini dan ia tak menyadarinya.

“Aaaaa!!”

Denna menjerit dan meronta ingin melepaskan diri saat menyadari dirinya diperkosa tiga pria yang ia kenal sebagai tiga teman sekolah kakaknya. Namun, teriakannya dan rontaan tubuhnya hanya berlangsung sekejap karena tangan seorang pria lain lagi tiba-tiba menyumpal mulutnya dengan kain. Denna hanya memandang pria itu dengan nanar. Siapa pria itu? Kakaknya. Tiga pria yang sempat menghentikan aktivitasnya kini melanjutkannya kembali. Hingga ketiga pria tadi memegangi kaki serta tangan Denna dengan keras.

“Tuhan!! Selamatkan aku. Tolong. Hentikan kebejatan kakakku!! Kumohon? Aku tak ingin seperti ini. Kumohon?!! Dimana Dirimu Tuhan!! Kemana Kamu Tuhan? Jika caramu seperti ini aku tidak akan membenciMu, tapi aku akan membenci cinta!”

Denna hanya menangis dan mencoba meronta kembali hingga ia benar-benar lemas dan tak sanggup merota lagi.
Pandangannya mengabur.

“Tuhan Kau lihat aku? Kau ingin aku tersiksa? Tuhan!! Kau ingin aku membencimu dengan cara seperti ini? Tidak!! Aku tidak akan membencimu. Tolong bantu aku. Aku tak sanggup lagi. Bantu aku. Aku tak ingin ada dalam lubang kehinaan selamanya. Sungguh aku tak sanggup lagi. Kak Bimo, tolong aku! Kumohon.”

Itu hanya ucapan batinnya yang tak terselesaikan karena pandangannya berganti hitam tanpa cahaya.
Denna pingsan.

Sedang keempat pria tadi hanya menyeringai dan memperlakukan tubuh Denna dengan biadab. Tak seperti seorang kakak. Ia malah menyuruh ketiga temannya memperkosa adiknya setelah ia mengambil keperawanan Denna dengan keji. Ketiga pria lain itu pun memperkosa Denna pula.
Kejam.

Fin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here