Novel Finaira — Mengapa Cinta Harus Jatuh Bagian Tujuh

0

Dia Harus Kembali

Seorang pria berseragam abu-abu putih yang baru pulang dari sekolah rupanya karena masih berseragam. Sepasang earphone terpasang di kedua telingannya. Sedang tangannya memegang sebuah buku. Entah apa yang ia baca di buku itu, sedang hari sudah sangat gelap karena tengah malam. Lagipula mengapa ia masih berseragam? Karena ia ada kegiatan ekstra di sekolahnya. Matanya masih serius membantu otaknya membaca deretan tulisan itu. Hingga matanya memandangi sekeliling yang biasanya sepi.

Kini ada empat orang yang keluar dari sebuah mobil dan melemparkan sesuatu di bak sampah taman. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya dan melihat mobil itu melaju kencang.

Ia fokus kembali dengan bukunya.

“Buang sampah tengah malam, berempat lagi. Macam buang manusia saja,” gumamnya melihat sampah yang baru dibuang empat pria tadi sembari ia kembali membaca bukunya.

Kemudian ia buru-buru menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran buruknya tentang dunia yang semakin kejam.
Enghh. Suara itu mengagetkan pria itu karena ia melepaskan earphonenya sejenak.

Pria itu langsung menoleh menyapu pandangan di sekitarnya. Ia mengusap tengkuknya yang mulai merinding. Hingga suara itu ada lagi. Matanya mengedarkan pandangan dan matanya membelalak ketika ia mendapati sepasang kaki berwarna merah ada di balik bungkusan putih seukuran manusia yang di bungkus.

Enghhh. Suara lenguhan itu kembali, hingga pria itu berlari dan memasukan buku itu dalam tasnya.

Pria itu mengangkat kain putih yang membungkus seseorang. Seperti dugaannya. Kain itu seukuran manusia karena memang manusia, dan mengapa pria pembuang sampah tadi berempat seperti membuang manusia, karena memang mereka sudah membuang manusia.

“Hei, lo nggak apa kan?” tanya pria itu sembari membuka lilitan darinya.
Hingga saat ia berhasil membuka lilitannya dan memandangi wajah itu dengan sekilas. Seorang gadis, berwajah lebam dan tubuh yang tak terbalut sehelai kain pun. Dan bercak darah dari selangkangannya hingga kaki.

Lo habis diperkosa empat orang tadi, ha? batin pria itu tak tega melihat seorang gadis di hadapannya. Hingga matanya kembali memandangi wajah gadis itu yang memucat dan penuh luka serta lebam.
Darah masih mengucur di sudut bibir dan pelipis gadis itu. Matanya membulat sempurna ketika ia menyadari jika gadis yang ia tatap sekarang ini adalah seorang gadis yang ia kagumi dalam diam dan keegoisannya. Matanya berkaca-kaca dan hatinya seakan remuk tak berbentuk melihat gadis itu. Tangisnya pecah seketika.

“Denna?!” ucapnya sembari menepuk pelan pipi Denna.

“Denna? Bangun, sayang? Bangun!”

Pria itu mengangkat kepala Denna dan memeluknya di dada. Dengan tangisan yang masih memecah heningnya malam di taman belakang lapangan basket dekat danau itu pun terdengar miris dan sangat kesakitan.

“Please, aku berharap ketemu kamu dan bisa peluk kamu. Tapi nggak seperti ini kondisinya, bangun sayang. Please,” ucapnya tersiksa.

Ia menyelimutkan kain putih tadi ke tubuh Denna dan mengangkatnya. Ia merutuk kesal dirinya sendiri yang tak membawa kendaraan karena ia berencana untuk pulang dengan berjalan menyusuri taman membayangkan jika ia bertemu dengan Denna sang pujaan hati, meskipun ia masih SMP ia tampak cerdas dan cantik serta berwibawa. Apalagi Denna seorang ketua OSIS di sekolahnya dan tergabung dalam organisasi semacam OSIS namun mengatasi segala masalah yang terjadi dalam satu yayasan, SD, SMP dan SMA yang didirikan oleh satu nama. Pria itu menggendong Denna dengan setengah berlari dan mulutnya hanya sibuk memanggil nama Denna dengan cemas.

Air matanya pun masih berurai. Hingga kakinya sampai di depan rumah sakit yang tidak jauh dari sekolah keduanya.
Tunggu sebentar, kita sudah sampai di rumah sakit, ucapnya lembut kepada Denna yang masih diam tak membuka mata dan memucat.

“Dokter! Suster?!” teriaknya mengagetkan setiap orang yang ada di lobi rumah sakit. Saat tak ada satu pun dokter maupun suster yang merespon teriakannya pun ia menjadi geram.

“Bantuin! Pacar gue lagi sekarat lo diam saja, ha?! Dokter macam apa lo!?” teriaknya seketika membuat orang-orang yang mematung sejak tadi membalikkan wajah kagetnya dengan mimik khawatir. Dua orang suster dan dua orang dokter mengampirinya dengan membawa brankar rumah sakit. Mereka mendorong brankar itu menuju UGD.

“Please, sayang. Bangun ya?” ucapnya dengan nada kesakitan. Dokter yang mendengarnya hanya mengiba.

“Tunggu di luar nak, saya akan menyelamatkan pacarmu,” ucap dokter itu membuat matanya seakan ingin membunuh. Namun, ia tepis karena ia masih waras dan membiarkan empat orang tadi mengobati Denna.

Ia menyandarkan diri ke dinding rumah sakit tak jauh dari pintu UGD yang sejak 30 menit lalu belum juga terbuka. Kakinya seakan melelehkan tulangnya. Ia tersimpuh dengan punggung yang memesut tembok dari ia berdiri hingga ia tersimpuh kini. Tangannya mengacak rambutnya kesal. Batin dan pikirannya masih bertanya-tanya. Siapa yang berani melakukan hal keji ini kepada Denna, sosok yang sangat tegas, cantik, pintar, berwibawa, ceria, baik kepada semua orang, bahkan dermawan dan murah senyum. Ia ingat ketika melihat darah hampir menyelimuti tubuh Denna. Saat memikirkan hal itu.

Malah ia dibuat tak lagi berpikir waras.

Cklek!

“Sayang.” Suara dokter itu yang tengah memegangi pundak putranya yang butuh kekuatan saat ini. Dokter yang menangani Denna adalah Mama pria tadi.

“Ma, gimana Denna, Ma? Dia hidup, kan? Dia sehat, kan? Dia nggak luka, kan? Dia baik, kan? Ma, jawab aku?” ucapnya dengan suara bergetar dan Mamanya jelas tak sanggup melihat putranya seperti itu. Ia memeluk putranya dan mengusap kepalanya. Pria tadi hanya menangis dalam pelukan Mamanya sembari terus bertanya dengan pertanyaan yang sama.

“Dia baik sayang,” ucap mamanya langsung membuat hatinya lega.

“Beneran dia baik Ma?”

Mamanya hanya tersenyum melihat putranya yang tersenyum cemas memikirkan sesuatu. Mamanya menyadari apa yang dipikirkan putranya. Mamanya melihat ada satu tanya yang ingin ditanyakan oleh putranya, namun tak sanggup meuluncur dari mulutnya.

“Kamu jangan pikirkan hal lain, sekarang temani dia. Dia butuh kekuatan, dia harus kembali ke dunia ini. Kondisinya kritis.” Kalimat mamanya ini benar-benar membuat ia tak sanggup lagi menahan air matanya.

Ia berlari memasuki ruangan itu. Ia mendekati Denna yang kini tak lagi seperti biasanya. Tidak lagi ada Denna yang selalu tersenyum dan ceria, tak ada Denna yang memarahi temannya saat melakukan kesalahan. Tak ada Denna yang tegas. Yang ada di hadapannya kini adalah Denna yang diam, pucat tanpa senyum, tangannya dingin, tanpa senyuman hangatnya, sorot mata yang meneduhkan jika dipandang pun tak ada lagi karena tertutup oleh kelopak matanya.

“Sayang? Maaf aku panggil kamu sayang, dik. Karena aku memang sayang sama kamu. Kamu bangun ya?” ucapnya sembari menggenggam tangan Denna.

Semalam suntuk, pria itu menjatuhkan lututnya dan mengikat jiwa Denna dengan cintanya agar ia bangun dan kembali lagi. Selama 3 tahun, Denna mampu membuatnya tetap semangat sekolah dan kembali dari keterpurukannya ketika papanya bercerai dengan mamanya karena tak lagi sepaham dan bersaing soal bisnis di perusahaan mereka masing-masing.

Enghh. Suara lenguhan yang sangat miris terdengar di telinga membuat pria yang sejak tadi malam hanya memandangi wajah Denna tanpa tidur pun kaget. Sekaligus senang karena Denna membuka matanya perlahan. Denna memandangi pria yang masih berlutut di samping brankarnya. Denna mengerjapkan matanya memandangi pria di hadapannya yang berurai airmata.

“Kak Bimo?” lirih Denna melihat pria di hadapannya yang ia kenal sebagai ketua OSIS di SMA yang satu yayasan dengannya.

Pria itu pula yang selalu menolongnya dan membantu dalam setiap masalah yang ada. Pria itu juga tergabung dalam organisasi persatuan antara SMP dan SMA nya. Sudah banyak yang mengira mereka berpacaran. Namun, keduanya tak mengaku jika ada kedekatan. Karena Bimo selalu mengacuhkan perasaan cintanya pada Denna. Meskipun, Denna tak mengacuhkan perasaannya. Namun, melihat sikap Bimo. Ia mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan perasaannya.

Mereka adalah dua orang bodoh yang jatuh cinta tanpa tahu apa itu cinta dan tak mengerti bagaimana itu cinta.

“Iya, ini aku Den. Kamu apa kabar?”

Pertanyaan yang sama setiap bertemu dengan Denna. Dan akan dijawab dengan dua opsi jawaban jika tidak ‘Iam very fine and still cute’ atau jika ia sakit ia akan jawab ‘I sick but still cute like a candy’ dua jawaban itu yang sedang Bimo nantikan. Tapi saat ia melihat mata Denna lagi, mata itu hanya menatap mata Bimo kosong tanpa makna apapun. Namun, Bimo mengerti tatapan itu seperti sebuah rintihan kesakitan. Hingga sakitnya tak dapat lagi digambarkan Denna oleh pandangan matanya. Terlalu sakit.

Kamu kok diam saja sih, apa mau aku panggil kamu sayang lagi? ucap Bimo dan mecolek hidungnya dengan gemas sembari tersenyum mencoba untuk menghibur gadisnya dan menyembunyikan kesakitan hatinya pula.
Denna tetap diam dan menatap mata Bimo, seakan Denna butuh pertolongan untuk melepaskan semua beban yang ada dalam hidupnya. Bimo, menarik bibir Denna dari dua sudut dengan dua jarinya secara bersamaan.

“Kamu harus senyum sayang, kamu tahu? Kak Bimo di sini jaga kamu, loh?” ucap Bimo sembari mengerucutkan bibirnya.
Denna melihat tingkah Bimo yang menirukan dirinya ketika ia sedang ngambek saat Bimo ada masalah dan tak tersenyum. Karena Denna selalu berpikir jika senyuman akan memudahkan segala kesusahan hati. Bukan untuk menyembunyikan betapa sakit hatinya. Denna hanya diam melihat tingkah Bimo saat itu. Bimo yang menyadari tak mendapat respon apapun dari Denna pun memandangi mata biru safir gadisnya itu lekat.

Bimo menemukan kesakitan di sana. Karena terlalu sakitnya, hingga sorot mata itu tak mampu menggambarkan apapun tentang kesakitan itu. Bimo berusaha untuk menahan airmatanya saat memandang Denna yang hanya diam tak menggubris setiap sapaannya yang selalu lakukan setiap bertemu.

Kemana jawaban Denna yang seperti biasa? Kemana kalimat-kalimat yang menyenangkan hati itu? Kemana tatapan meneduhkan dari mata itu? Kemana suara lembut yang menenangkan hati itu? Kenapa tak ada satu kalimat pun terucap? Kenapa mata itu hanya memandang kosong penuh kesakitan? Kenapa suara lembut itu berganti dengan lirihan kesakitan? Tuhan, kenapa Kau biarkan gadisku seperti ini? batin Bimo yang masih menatap Denna tanpa menyadari jika tangan Denna sudah memegang jarum suntik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here