Novel Finaira — Mengapa Cinta Harus Jatuh Bagian Lima

0

Negeriku Indonesia

Gardenna Mardeenish.
Nama itu tertulis jelas dan besar di sebuah papan dari kertas karton yang dibawa oleh seorang pria bermasker hitam, mengenakan jaket kulit hitam, celana jeans hitam panjang, dan sepatu hitam. Bodyguard. Tampangnya seram. Sangar. Bengis. Kejam.

“Saya Gardenna Mardeenish.”

Menyerahkan map yang sama kepada bodyguard dengan map yang dibawa Denna setelah keluar dari ruang kepala sekolah. Denna tengok kanan kiri. Selepas itu Denna masuk mobil limosin. Mewah. Tapi terkesan diam dan hilang. Kosong. Perjalanan dari arah Cengkareng menuju arah Bulungan, Jakarta Selatan. Melewati berbagai jalan yang terlihat sama dari balik kaca mobil mewah gaya Eropa berwarna hitam mengkilat.

Apapun yang dilihat selalu jalan yang sama. Bangunan-bangunan besar yang terlihat sama tingginya. Tetapi di balik itu semua tersimpan banyak cerita. Di antara pondasi-pondasi gedung pencakar langit yang tidak lebih tinggi dari gedung-gedung kaca di Singapura ataupun di Brunei atau bahkan di Malaysia.

Tersimpan banyak cerita, di samping rumah-rumah mewah yang berdiri kokoh.
Gedung-gedung ber-lift yang berdiri tegak membelakangi sungai-sungai kotor berwarna colat keasaman dengan sampah yang ikut berenang di alirannya. Membelakangi rumah-rumah kumuh penduduk dengan berbagai cerita pula di dalamnya. Antara rumah satu dengan rumah lainnya yang berbeda cerita.

Terlihat di perjalanan yang sempat terhenti karena lampu merah di perempatan jalan Jakarta, bagaimana kehidupan orang-orang Jakarta yang merasa mendapatkan pekerjaan namun tidak terdaftar sebagai pekerjaan di Kementrian. Manakah ada menteri yang bernama Menteri Pekerjaan Pengemis, Pengamen, dan Pengangguran Tanpa Makna Indonesia? Betapa tidak pentingnya semua ini.

Garden Killer: Aku hampir sampai. Jangan ada siapapun, apalagi wanita.

Mr. Cappucino: Hahaha. You are the one and only, bae. ♥ [Read]

Terdengar dari dalam mobil ini di telinga Denna, suara si balon yang dinyanyikan ada lima dengan lima buah yang diberikan bonus balon warna hijau oleh seorang anak berusia sekitar 6-7 tahun di bumi. Penampilannya kumal, lusuh, compang-camping, raut wajahnya terlihat lemas dan lesu, kelaparan. Inilah hal yang membuat mata Denna tak mampu memandang ke sisi itu. Denna berfikir siapa yang menciptaan lampu merah yang selalu membuat semua kendaraan berhenti saat menyala meskipun tidak ada penjagaan dari polisi.

Denna mulai berpikir siapakah yang menciptakan aturan untuk berhenti hanya karena lampu di persimpangan jalan. Bukankah akan layak berhenti jika yang berada di persimpangan jalan itu adalah tasasul dari tasbih?

Dimana semua akan memandang heran dan lama kelamaan mata mereka akan terbiasa dengan apa yang mereka saksikan setiap harinya. Maka semua akan memandang iba kepada tasasul itu dan membuat mata mereka semakin jemu kepada apa yang dilihatnya. Mereka semakin muak dan akhirnya mereka mengancaikan apa yang mereka lihat. Hingga tasasul itu mengalami pandangan distopia terhadap manusia.

Terlihat seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya dengan selendang bercorak batik warna merah setengah memudar karena paparan terik sinar matahari setiap siangnya. Lantas apa yang mereka buru hingga malam hari begini?
Terkadang ada di antara mereka memiliki ponsel pintar yang lebih mahal dibanding ponsel pejabat? Bayangkan saja setiap harinya mereka bisa mendapatkan 700 ribu! Satu minggu? Satu bulan? Gajinya bisa melebihi gaji Manajer Pemasaran Perusahaan!! Betapa beruntungnya orang-orang Indonesia yang baik hati ini.

Mereka memberikan uang amal mereka kepada orang yang salah. Bukan. Bukan pemberi yang salah. Hanya si penerima yang kurang tau diri. Ada seorang pengemis di Malang yang setiap pulang perginya ia berdinas ia di antar-jemput oleh mobil mewah. Luar biasa.

Meskipun tidak semua pengemis atau peminta-minta seperti itu. Ibu-ibu tadi memasang muka lesu dengan pakaian kumal, anaknya yang berkulit hitam terlihat semakin masam oleh keringat di gendongan ibunya.

Denna melihat itu semua letih. Matanya semaik letih, pupilnya terasa tak kuat lagi menahan semua cahaya yang masuk kedalamnya. Meskipun Denna di balik kaca mobil yang membuat matanya tak terlalu mendapatkan cahaya, namun saat ia mendapatkan pemandangan itu.
Pupilnya serasa mengelak semua.

Tok tok tok! Terdengar suara kaca mobil yang diketuk letih, membuat Denna menoleh dan melihat ke arah suara itu.

“Permisi Kak, aku hanya memanggilmu Ayah di saat ku kehilangan arah, aku hanya mengingatmu ayah di saat ku tlah jauh darimu ….”

Lagu dari Seventeen berjudul Ayah itu melantun tak merdu karena sang penyanyi terlihat letih. Suara itu. Bukan. Lagu itu membuat Denna merasakan kembali nostalgia bersama keluarganya, Ayah, Bunda, dan Kakaknya. Tapi ia merasa membenci itu semua kemudian setelah ia mengingat apa yang telah ia dapatkan dari kakaknya.

“Bunda, Denna mengantuk. Denna tidur dulu iya?”

Tak berselang lama Denna pun tertidur di kamarnya, sengaja ia tidak menutup pintu karena ia pikir Denna akan bangun dan mengambil sesuatu di dapur dan kembali ke kamar. Tapi Denna lupa akan hal itu. Pengalaman pahit pun dimulai. Denna melihat kamarnya dipenuhi lilin beraroma terapi berwarna merah, dihiasi bunga mawar merah yang cantik di atas tempat tidur yang telah diberi tirai berwarna putih menjuntai dari atas ranjang hingga ke lantai.


Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here