Kongres Bahasa Indonesia, Pengembangan Bahasa Masa ke Masa

2

Bahasa selalu mengalami pengembangan, mulai dari bahasa gaul dan bahasa lain untuk memenuhi fungsinya. Termasuk Bahasa Indonesia sendiri yang semakin berkembang seiring dengan tren penggunaan bahasa di kalangan masyarakat penuturnya. Seperti beberapa waktu ini yang seringkali terdapat kosakata serapan untuk istilah dari bahasa asing atau bahasa gaul, misalnya baper, ambyar, swafoto, dsb. Hal ini perlu ada kesepakatan untuk membahas dan mengetahui arah perjalanan bahasa Indonesia di masa mendatang, di mana ini merupakan alasan mengapa kongres bahasa perlu diselenggarakan.

Lalu, selama bahasa Indonesia diresmikan sebagai bahasa persatuan Bangsa Indonesia, sudah berapa kali kongres bahasa diselenggarakan? Dan apa saja yang dibahas serta menjadi keputusan dalam kongres itu? Berikut kongres bahasa yang pernah diselenggarakan di Indonesia:

1. Kongres Bahasa Indonesia I [Solo, 25-27 Juni 1938]

Mengamanatkan agar bahasa Indonesia dikembangkan dengan mengambil kata-kata asing untuk ilmu pengetahuan dari perbendaharaan umum. Pengambilan kosakata harus memenuhi syarat sumber dari kriteria tertentu. Kongres pertama ini membahas beberapa hal dan dihadiri oleh berbagai golongan dari berbagai daerah. Beberapa tokoh yang menyampaikan praeadvies atau prasaran, yaitu: Mr. Amir Sjarifoeddin, St. Takdir Alisjahbana, Mr. Muh. Yamin, K. St. Pamoentjak, Adi Negoro, Ki Hadjar Dewantara, Soekardjo Wirjopranoto, dan Sanoesi Pane.

Di mana tiap prasaran menghasilkan beberapa keputusan yang diambil dari persetujuan kongres, seperti: dalam perguruan menengah diajarkan juga ejaan internasional; menjadikan bahasa Indonesia yang sah dan bahasa untuk undang-undang negeri; demi kemajuan masyarakat Indonesia, penyelidikan bahasa  dan kesusastraan, perlu segera didirikan perguruan tinggi kesusastraan.

Baca juga: Apa Makna Bahasa Sebenarnya? Dan Bersifat Seperti Apa?

2. Kongres Bahasa Indonesia II [Medan, 28 Oktober-2 November 1954]

Memberikan arah hubungan timbal balik positif antara pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah dianggap berada di titik yang tidak bisa dipertemukan. Pada kongres ini mencoba memberikan batasan agar kedua kutub bisa dipertemukan dengan pola hubungan harmonis. Bedanya dengan Kongres Bahasa I yang diselenggarakan dari prakarsa pribadi, kongres kali ini diselenggarakan oleh pemerintah di bawah naungan Jawatan Kebudayaan Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan.

Dalam kongres ini juga dibuka secara langsung oleh Presiden Soekarno di Gedung Kesenian Medan. Sedangkan pameran buku dibuka oleh istri Presiden Soekarno, Ibu Fatmawati. Kongres Bahasa II ini menghasilkan beberapa keputusan seperti: saran agar dibentuk badan yang kompeten untuk penyempurnaan bahasa Indonesia, saran untuk pembaruan ejaan, sementara hal yang berkaitan dengan pembuatan film agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik tanpa memaksanya dan berimbas pada ketimpangan cerita dalam film, dan lain sebagainya.

3. Kongres Bahasa Indonesia III [Jakarta, 28 Oktober-3 November 1978]

Kongres ke III ini diselenggarakan di Hotel Indonesia Sheraton, di mana pada saat itu dihadiri dan dibuka dengan Pidato Peresmian Pembukaan Kongres Bahasa Indonesia Ketiga oleh Presiden Soeharto. Juga ada pidato pengarahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daoed Joesoef. Kongres kali ini membahas tentang pengembangan kosakata yang tidak dilandasi oleh wawasan bahasa yang baik, seringkali menjurus ke pertumbuhan yang kurang teratur.

Sehingga disimpulkan kalau bahasa itu merupakan suatu unsur yang berpadu dengan berbagai unsur dalam jaringan kebudayaan dan merupakan sarana pengungkapan nilai budaya. Di mana juga disebutkan kalau pelajaran sastra masih diajarkan sebagai sambilan dalam pelajaran Indonesia. Dan beberapa keputusan serta tindak lanjut dari berbagai permasalahan yang ada, seperti pemodernan bahasa Indonesia, kemudian penyeragaman istilah dalam berbagai bidang keilmuan agar bahasa asing dipakai di samping istilah bahasa Indonesia.

  1. Kongres Bahasa Indonesia IV [Jakarta, 21-26 November 1983]

Diselenggarakan di Hotel Kartika Chandra, di mana pada kongres keempat ini menghasilkan keputusan dalam rupa usulan tindak lanjut terkait hubungan-hubungan di bidang kebahasaan, pengajaran bahasa dan pembinaannya yang berkaitan dengan fungsi serta kedudukan bahasa Indonesia sebagai sarana pembangunan nasional. Bahasa Indonesia sendiri di masa ini sudah mengalami perkembangan yang cukup pesat, tidak hanya sebagai alat komunikasi sosial dan administratif, tetapi juga dalam komunikasi keilmuan dan keagamaan.

Kemudian, disampaikan juga perlunya menyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia yang memuat leksikon dan lafal dalam kategori sintaksis setiap kata dan batasan serta pemakaian yang lebih lengkap. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan kaidah bahasa Indonesia agar tidak menyimpang dari ragam aslinya. Juga adanya pengusulan bahasa Indonesia dimasukan dalam Wawasan Nusantara dan menyensus data kebahasaan yang sahih dan lengkap dari sensus penduduk Indonesia.

  1. Kongres Bahasa Indonesia V [Jakarta, 28 Oktober-3 November 1988]

Dilaksanakan di tempat yang sama dengan kongres sebelumnya, kongres kali ini mengarahkan pengembangan bahasa Indonesia lebih luas dan beragam. Bahwa pengembangan bahasa Indonesia harus dilakukan dengan landasan temuan penelitian bahasa Indonesia yang dilakukan secara terarah dan terpadu.

Namun, meskipun begitu dalam proses pengembangannya untuk menjadi bahasa yang ilmiah dan modern, maka penutur seharusnya tidak membentuk sikap nasionalisme sempit yang berlebihan (chauvinisme). Karena dalam prosesnya, dapat membentuk/mengadaptasi kosakata baru sesuai dengan keadaan dan keperluan. Selain itu juga terdapat simpulan tindak lanjut untuk memasukkan bahasa Indonesia dalam delapan jalur pemerataan atau menjadi jalur kesembilan dalam GBHN.

  1. Kongres Bahasa Indonesia VI [Jakarta, 28 Oktober-2 November 1993]

Diadakan di Hotel Indonesia dan diikuti oleh 770 peserta dari seluruh Indonesia dan 52 peserta dari luar negeri. Upaya tindak lanjut yang disimpulkan adalah kegiatan penelitian bahasa dan sastra yang perlu ditingkatkan dalam jumlah dan mutu untuk memaksimalkan pengembangan bahasa dan sastra.

Lalu, terkait dengan pengalihan bahasa, perlu adanya kamus dwibahasa untuk meningkatkan mutu terjemahan, baik menyangkut karya ilmiah maupun kasusastraan. Dalam upaya memberikan kesempatan mengembangkan kreativitas, maka pengarang perlu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk berkarya.

Baca juga: Sumber Pengembangan Kosakata dalam Bahasa Indonesia

7. Kongres Bahasa Indonesia VII [Jakarta, 26-30 Oktober 1998]

Mengerahkan agar pengembangan kosakata baru perlu ditingkatkan dengan memprioritaskan pada pengembangan peristilahan dalam berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi.

8. Kongres Bahasa Indonesia VIII [Jakarta, 14-17 Oktober 2003]

Perlu pengembangan bahasa Indonesia dalam kaitan fungsi bahasa inisebagai sarana komunikasi dalam pengembangan ilmu dan teknologi serta seni. Pemerkayaan bahasa Indonesia perlu juga memanfaatkan berbagai sumber dari bahasa daerah secara proporsional.

9. Kongres bahasa Indonesia IX [Jakarta, 28 Oktober-1 November 2008]

Telah diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan. Tujuan pengembangan kosakata antara lain: (1) menyediakan kosakata ilmu bahasa; (2) memperlengkap kata-kata; (3) menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmiah dan modern.

Sumber-sumber pengembangan kosakata: (1) kata-kata asing kosakata umum; (2) kata asing dan istilah yang telah biasa dipakai; (3) kata-kata dari bahasa daerah dan serumpun diutamakan.

10. Kongres Bahasa Indonesia X [Jakarta, 28-31 Oktober 2013]

Bertemakan ‘Penguatan Bahasa Indonesia di Dunia Internasional’ menyiratkan bahwa bahasa Indonesia seolah sudah siap bersaing dengan bahasa asing lain. Tantangan terhadap bahasa Indonesia justru harus memberi stimulans positif guna memperkuat diri sekaligus mempersiapkan strategi demi eksisnya bahasa Indonesia di mata dunia. Termasuk salah satu program demi menunjang hal ini adalah dengan adanya BIPA.

11. Kongres Bahasa Indonesia XI [Jakarta, 28-31 Oktober 2018]

Kongres terbaru ini dilaksanakan di Hotel Grand Sahid Jaya dengan tema Menjayakan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dihadiri oleh 27 pembicara kunci dan 72 pemakalah seleksi dari dalam dan luar negeri. Salah satu pembicara kunci yang berbicara pada hari pertama kongres yaitu Ahmad Tohari, dengan bahasa Ragam Bahasa dan Sastra dalam Berbagai Ranah Kehidupan.

Di mana dalam kongres ini diluncurkan beberapa produk kebahasaan dan kesastraan: KBBI Braille, buku Sastrawan Berkarya di Daerah 3T, buku Bahasa dan Peta Bahasa, Kamus Vokasi, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia Daring, Aplikasi Senarai Padanan Istilah Asing, 546 buah buku bacaan literasi, Korpus Indonesia, dan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Daring.

Begitu serangkaian kongres bahasa yang pernah diadakan di Indonesia, setelah kongres bahasa Indonesia yang ke III. Kongres dipustuskan untuk diadakan setiap 5 tahun sekali di bulan Oktober dan/atau November. Untuk yang berkenan membaca usulan lengkap serta pembahasan lengkap dari setiap kongres dalam mengakses laman resmi website Kemdikbud.

Baca juga: Jenis-jenis Majas dan Contohnya

Sumber: Buku Ajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA/sederajat | Laman Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Gambar: KampoengNgawi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here