Jenis-jenis Majas dan Contohnya

0

Oleh Finaira


Majas atau gaya bahasa merupakan makna bukan sebenarnya dari suatu kalimat atau kata yang digunakan oleh seseorang, atau makna kiasan, baik untuk memuji secara berlebihan atau menyindir orang lain. Majas terbagi menjadi:

Majas Perbandingan

  1. Personifikasi: memberikan sifat manusia kepada benda mati. Sehingga benda itu tampak seperti benda hidup. Contoh: buku itu berbisik pada angin yang menari.
  2. Metafora: melukiskan sesuatu dengan perbandingan yang menyerupai sifat asli dari benda yang dimaksud. Contoh: dewi malam telah hilang. Dewi malam bermakna bulan.
  3. Eufimisme: melukiskan dengan kata-kata yang lebih lembut. Contoh: gelandangan diganti menjadi tunawisma, bisu diganti dengan tunawicara, dan lain sebagainya.
  4. Sinedokhe, dibedakan menjadi 2:
Baca juga: Ini Dia Cara Penulisan Gelar yang Sesuai Kaidah Kebahasaan

– Pars pro toto, majas sinedokhe yang menulis sebagian tetapi bermakna seluruhnya. Contoh: Adi mempunyai lima ekor Aku tidak melihat batang hidungnya sama sekali hari ini.

– Toten pro parte, majas sinedokhe yang menuliskan keseluruhan tetapi yang dimaksud sebagian. Contoh: Kaum wanita memperingati hari Kartini.

5. Alegori, memperlihatkan perbandingan utuh yang akan membentuk kesatuan yang menyeluruh. Contoh: hidup ini diperbandingkan dengan perahu yang berlayar di laut. [Suami sebagai nahkoda; istri sebagai jurumudi; topan, gelombang, tsunami sebagai cobaan hidup; tanah seberang sebagai tujuan]

Baca juga: Kosakata Baru Bahasa Indonesia

6. Hiperbola, majas yang melukiskan sesuatu secara berlebihan. Contoh: Ayah membanting tulang demi keluarga.

7. Litotes, bisa disebut pula sebagai hiperbola negatif, majas untuk mengungkapkan keadaan sebaliknya dari yang diucapkan. Dengan maksud merendah. Contoh: mampirlah ke gubuk [rumah]

8. Simbolik, melukiskan sesuatu dengan memperbandingkan benda sebagai simbol. Contoh: dari dulu tetap saja aku yang menjadi kambing hitam.

9. Alusi, majas yang merujuk secara tidak langsung dengan karya seseorang, tokoh, atau peristiwa. Contoh: Rupanya Adya makan tangan hari ini. [banyak rezeki]

10. Perifrasis, perbandingan dengan menguraikan sepatah kata yang mengandung makna sama dengan kata yang digantikan. Contoh: Petang dia baru pulang >> menjadi ‘Ketika matahari baru tenggelam dia baru pulang.’

Baca juga: Apa Makna Bahasa Sebenarnya? Dan Bersifat Seperti Apa?

11. Asosiasi, majas yang memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena adanya kesamaan sifat. Contoh: Wajahnya muram bagai bulan kesiangan. [wajahnya pucat]

12. Metonimia, majas yang menggunakan nama merk dagang atau produk, hingga itu menjelaskan benda serupa. Contoh: Ayah memperbaiki Sanyo. [Sanyo merupakan merk pompa air]. Ibu mengendarai Honda. [Honda merupakan merk motor] Andi membeli Odol di warung Bu Imah. [Odol merupakan merk pasta gigi].

13. Antonomasia, menyebut seseorang dengan menggunakan sifat yang paling menonjol. Contoh: si jangkung, si gendut, dan sebagainya.

14. Tropen, membandingkan perbuatan atau pekerjaan dengan kata lain yang memiliki pengertian sejalan. Contoh: Ia menjual suaranya untuk makan sehari-hari.

Majas sindiran

Baca juga: Langkah Pengembangan Kosakata Bahasa Indonesia
  1. Ironis, menyindir dengan mengatakan yang sebaliknya dari kenyataan. Contoh: Harum benar baumu sore ini.
  2. Sinisme, sindiran dengan menggunakan kata sebaliknya, tetapi lebih kasar daripada ironis. Contoh: bisa diam tidak?
  3. Sarkasme: sindiran yang terkasar serta langsung. Contoh: otakmu memang otak udang!

Majas Penegasan

  1. Pleonasme, memperjelas yang sudah jelas. Contoh: ia masuk ke dalam Pak Dayat naik ke atas panggung.
  2. Repetisi, pengulangan. Biasa digunakan dalam pidato. Contoh: kita junjung ia sebagai pemimpin, kita junjung dia sebagai panutan, kita junjung dia sebagai pembebas.
  3. Pararelisme, pengulangan, tetapi digunakan dalam puisi. Dibagi menjadi 2, yaitu: (1) anafora, pengulangan di awal kalimat; dan (2) epifora, pengulangan di akhir kalimat.
  4. Tautologi, pengulangan kata dalam satu kalimat, tetapi memiliki makna yang sama untuk mempertegas maksud. Contoh: saya sedikit khawatir dan was-was akan keselamatannya.
  5. Simetri, majas penegasan yang menggunakan kata, kelompok kata, atau kalimat yang diikuti oleh kata, kelompok kata, atau kalimat bermakna seimbang. Contoh: Aku berjalan tergesa-gesa, seperti dikejar anjing gila.
  6. Enumerasia, melukiskan beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan. Contoh: Angin berembus, laut tenang, bulan memancar lagi.
  7. Klimaks, menggunakan kata-kata yang makin lama makin memuncak pengertiannya. Contoh: anak-anak, remaja, dewasa datang menyaksikan film ‘Naga Bonar’.
  8. Antiklimaks, kebalikan dari klimaks. Semakin lama makin melemah pengertiannya. Contoh: Jangan seribu, atau seratus, serupiah pun tak ada.
  9. Retorik, penegasan dengan menggunakan kalimat tanya yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Contoh: mana mungkin orang mati hidup kembali?
  10. Koreksio, penegasan dengan membetulkan ucapan atau tulisan sebelumnya, baik sengaja atau tidak. Contoh: Hari ini sakit hati, eh … maksudku sakit kepala.
  11. Asidenton, penegasan yang menyebutkan beberapa benda, hal, atau keadaan secara berturut-turut tanpa kata penghubung. Contoh: Kemeja, sepatu, kalung, gelang, cincin, dibelinya di toko itu.
  12. Polisidenton, penegasan yang menyebutkan beberapa benda, orang, hal, atau keadaan secara berturut, menggunakan kata penghubung. Contoh: Aira tidak tahu, tetapi tetap saja ditanyai, akibatnya dia marah-marah.
  13. Ekslamasio, memakai kata-kata seru sebagai penegas. Contoh: Amboi, indahnya pemandangan ini!
  14. Interupsi, penegasan yang bermaksud semakin memperjelas hal atau benda yang disebutkan sebelumnya. Contoh: Aku, orang yang sudah banyak berkorban untuk perusahaan ini, belum pernah disapa oleh Bos Besar.

Majas pertentangan

Baca juga: Kamu Mau Curhat sama FInaira? Klik Disini
  1. Antitesis, melukiskan sesuatu dengan mempergunakan kepaduan kata yang berlawanan arti. Contoh: kaya atau tidak, miskin atau kaya, bukanlah tolok ukur keberhasilan seseorang.
  2. Paradoks, menggambarkan pendapat yang bertentangan dengan pendapat umum atau kebenaran. Contoh: Di tempat yang ramai ini, hatiku merasa sepi.
  3. Okupasi, melukiskan sesuatu dengan bantahan, tetapi kemudian diberi penjelasan beserta kesimpulan. Contoh: merokok itu merusak kesehatan, tetapi banyak perokok yang tidak mau berhenti merokok. Akibatnya, industri rokok menjadi berkembang pesat karena laba yang besar.
  4. Kontrakdisio interminis, menentang penjelasan semula. Contoh: semua alumni angkatan 37 hadir, kecuali dia.

Demikian beberapa majas beserta contoh yang dapat digunakan dalam karya tulis. Semoga bermanfaat._fin_


Sumber: Bahan Ajar Sastra Indonesia SMA


Pict from br.freepict.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here