Semua Orang Bisa Menulis! Jangan Baper, Mulai Saja Dulu

0

Seringkali saat memiliki teman yang punya buku terbit sendiri, apalagi karya tersebut sudah mejeng di rak toko buku seluruh Indonesia. Pasti bangga, kan? Meskipun cuma urun jadi teman si penulisnya saja, meskipun terkadang ada saja yang menyelipkan kalimat buku gratisan di antara ucapan selamat karena bukunya terbit. Dari semua pembahasan terkait buku gratisan ini, terasa tidak nyaman saat penulis dimintai oleh teman sendiri. Apalagi temannya itu adalah yang hilang dalam waktu yang lama, lalu mendadak muncul di saat kamu punya buku baru dan siap numpang tenar. Oops!

Kamu termasuk kategori itu? Maaf, tetapi hal itu merupakan hal yang menyebalkan. Meskipun nggak ada undang-undang yang melarang kamu meminta buku gratisan dari teman kamu yang menjadi penulis. Namun, ayolah! Hargai usaha teman kamu yang melakukan banyak hal demi terbitnya atau bahkan demi terselesaikannya naskah yang mau kamu minta secara cuma-cuma itu. Kalau ada teman aku yang merasa pernah melakukan hal ini dan sekarang kamu baca tulisan ini, selamat! Karena kamu berhasil mengetahui isi hati aku.

Jadi, kalau cuma mau buku gratisan, kenapa nggak tulis saja buku kamu sendiri? Bahkan dengan menulis buku kamu sendiri, kamu bukan hanya numpang tenar karena punya teman penulis. Tapi, kamu juga merasakan perjuangan seorang penulis. Supaya kamu nggak bakalan lagi minta buku gratisan. Kok balik ke sini, ya?

“Tapi, aku nggak bisa nulis.”

Bulshit!

Berhenti berbicara bahwa kamu nggak bisa menulis, lalu kalau kamu nggak bisa menulis, apa yang kamu pelajari sejak kecil dari sebelum masuk TK sampai saat kamu bisa membaca tulisan ini? Kamu nggak pernah menulis? Kamu chattingan sama sahabat kamu, apalagi saat curhat tentang si cowok labil yang dekati kamu tanpa bermaksud serius. Bisa panjang kali lebar, mengetik berjam-jam, pada sebuah bilah obrolan pesan kepada sahabat kamu. Itu adalah kegiatan menulis juga. Termasuk pun saat kamu menulis diary, yup! Diary, ada yang masih suka menulis buku diary?

Semuanya adalah kegiatan tulis-menulis. Jadi, jangan pernah bilang bahwa kamu tidak bisa menulis, karena itu adalah sebuah kebohongan besar yang paling dusta yang pernah kamu ucapkan. Kamu mendustakan kemampuan kamu dalam menulis.

“Maksudnya itu kan yang sampai buat novel, gitu.”

Aku kasih tahu, ya, semua orang bisa nulis. Semuanya. Termasuk juga kamu. Nggak ada yang nggak bisa menulis, pun andaikata kamu berasal dari keluarga yang nggak punya keturunan dalam minat dunia tulis menulis. Atau dari kecil kamu nggak suka dalam dunia ini. Kamu masih bisa menulis! Hanya saja kamu perlu sedikit kerja lebih keras daripada teman kamu yang memang punya hobi dalam dunia kepenulisan. Tapi, percaya, deh. Bahwa kamu dan teman kamu, sama-sama punya kesempatan untuk jadi penulis besar yang karyanya bisa mejeng di rak best-seller toko buku terbesar di seluruh Indonesia. Asalkan kamu nggak baper dengan ketidakminatan kamu dalam dunia tulis menulis.

Hajar saja!

Sebagai orang yang hidup di zaman milenial, terutama buat kamu yang sampai sekarang masih bingung mau ngapain. Nulis saja! Nggak ada ruginya kok kamu berkarir dengan tulisan kamu. Tapi, perlu diingat bahwa tidak ada hal di dunia ini yang instan.

Kamu perlu menikmati dan menjalani semua proses jatuh bangunnya, ribetnya, dan segala kebahagiaannya menjadi penulis. Kamu tahu mie instan, kan? Mie yang terkenal instan saja, masih butuh proses memasak dan menunggu hingga mie-nya matang, lalu mencampur bumbu, kemudian sedikit menunggu agak dingin. Baru kamu bisa menyantapnya. Apalagi menjadi penulis besar.

Kamu tahu Luluk HF? Iya, penulis novel EL dan Mariposa yang sukses di pasaran. Demi mencapai taraf sebagai penulis dengan berjuta-juta pembaca, Kak Luluk HF perlu menjalani beragam proses selama kurang lebih 9 tahun untuk bisa berada di posisi saat ini. Dia bukan orang yang punya basic menulis sebagai hobi, bukan juga penulis yang senantiasa punya karya bagus sejak awal masanya menulis. Tapi, dia bisa survive dan kamu sebagai saksi dia bisa berada di posisi ini. Lalu, kamu kapan?

Berhenti di sini, kalau kamu masih enggan untuk melanjutkan. Jadi, penulis itu harus punya motivasi besar untuk bisa tetap bertahan dan mempertahankan gelarnya sebagai penulis. Karena hal yang jauh lebih susah daripada saat awal berdiri adalah bagaimana saat kamu kembali bangkit dari rasa keterpurukan dengan semangat yang lebih besar.

“Lalu aku harus mulai darimana?”

Semua penulis pasti pernah dalam posisi ini, bingung mengawali sebuah cerita. Tapi, yang perlu kamu tahu adalah terdapat kewajiban penulis untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri untuk menyelesaikan apa yang ditulisnya.

Tapi, kamu nggak perlu khawatir. Mulai saja dulu, dengan kegiatan kamu sehari-hari. Semisal, kamu baru saja ditembak sama dua cowok yang satunya berandalan, sedangkan yang satunya pecicilan. Itu merupakan hal yang bisa kamu tulis. Tulis saja sesederhana ide itu muncul, karena ide mudah datang dan mudah pergi. Nggak perlu kamu muluk-muluk mencari hal yang jauh dari diri kamu. Mulai saja dulu dari hal yang paling dekat dengan kamu. Misalnya lagi, menceritakan apa yang kamu rasakan kepada kakak kelas super cantik yang jadi incaran semua cowok di sekolah, kecuali kamu yang lebih tertarik dengan teman kakak kelas itu yang biasa saja tapi manis.
Hal yang perlu kamu perhatikan dan selalu ingat adalah, nggak ada penulis besar yang tidak pernah jadi penulis pemula.

Ingat itu selalu, kamu juga jangan lupakan beberapa hal yang jadi kunci rahasia penulis sukses: niat, banyak berlatih, usaha dan doa, sering baca, dan selalu mencatat setiap ide. Jadi, kamu sudah punya keinginan dan niatan untuk menulis? Atau kamu sedang dalam taraf proses penjajakan diri sebagai penulis? Atau bahkan kamu adalah penulis dengan karya yang mejeng di toko buku seluruh Indonesia? Yuk, tulis di kolom komentar pengalaman kamu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here