Fenomena Ramadhan: Ini Buka Bersama, Bukan Maksiat Bersama

2

Dalam momen Ramadhan, setiap tahunnya pasti selalu ada undangan menghadiri buka bersama. Baik dengan komunitas, teman kuliah, tetangga sebelah kost, teman SMA, sampai teman TK. Yang terkadang, sampai diajak buka bersama bareng mantan … teman maksiat zaman jahilliyah. Nah!

Di setiap agenda buka bersama yang sudah semacam kereta, nggak ada habisnya, itu pasti ada saja yang membuat salah satu atau beberapa anggota tidak hadir. Yang paling menyebalkan, saat diskusi santai untuk mengagendakan buka bersama, pasti ada yang paling antusias sampai ngomelin yang balas ‘belum pasti bisa ikut, nih.’ Tapi, saat acara berlangsung, ternyata dia yang nggak ada kabar bahkan semua media sosial langsung offline.

Nah, fenomena yang sering terjadi buka bersama itu apa saja, sih? Faktor yang terkadang justru membuat acara itu cuma jadi wacana tanpa terlaksana atau tidak sesuai rencana.

1. Banyak rencana saat diskusi, cuma jadi wacana tanpa aksi
Biasanya, kalau sedang mendiskusikan rencana buka bersama itu, pasti terjadi banyak perdebatan, basa-basi, dan acara tetek-bengek yang mbuletisasi. Mulai dari ribet menentukan tempat yang cocok dan disetujui oleh sebagian besar orang sebagai geng buka bersama. Lalu, waktu, makanan, dan minuman. Bahkan dresscode yang sebenarnya juga nggak penting-penting banget dalam perhelatan ini.

Terlebih, dalam diskusi biasanya disambut antusias dan banyak usulan yang muncul, meskipun lebih sering didahului takbir Idul Fitri daripada keputusan untuk buka bersama. Dan, akhirnya disepakati untuk melakukannya tahun depan. Well, coba disaksikan, apakah benar-benar terlaksana di tahun depan?

2. Banyak kawan yang dadakan jadi Islami, ingin mengayomi, tapi menghilang dari Bumi
Alhamdulillah, ada yang bisa mendadak mendapat hidayah di bulan Ramadhan. Biasanya kawan itu terlihat pakaiannya tidak syar’i, sekarang jadi melebihi dari kategori syar’i itu sendiri. Eh? Kembali saat diskusi rencana buka bersama, biasanya akan muncul orang-orang yang memiliki usulan paling banyak atau yang mendadak jadi orang dengan sikap kepemimpinan untuk menjadi koordinator buka bersama.

Dia berikan list tempat yang dekat masjid, atau tempat yang cozy, atau bahkan ingin buka bersama yang berkesan dengan mengadakan kajian, dan banyak pilihan lainnya. Sampai bawa-bawa hadist silaturahmi, supaya banyak yang ikutan. Tapi, saat hari-H ternyata dia sendiri yang tidak datang, dengan berbagai macam alasan yang terkadang nggak nyambung sama sekali.

P.S.: mungkin dia beneran ada urusan, kita berbaik sangka saja.

3. Krisis duit
Di momen apa pun, rasanya uang itu selalu menjadi hal krusial yang harus dihitung secara pasten, konsisten, dan efisien. Termasuk pula dalam acara buka bersama pastinya. Seringkali, ada yang beralasan dengan ketidakadaan uang untuk menu buka bersama. Alasan klasik, padahal banyak sekali masjid yang menyediakan menu buka bersama, meskipun sebenarnya itu lebih diperuntukkan untuk kaum dhuafa. Tapi, nggak ada salahnya, kan? Warga negara ‘+62’ ini, kan, seringkali tidak malu dalam memiskinkan diri demi hal yang gratisan.

Bukan itu maksudnya, ajak kawan ke masjid ikut kajian Ramadhan, itu juga dapat pahala, loh! Jadi, kenapa nggak uang seadanya itu dijadikan sebagai sumbangan saja, sedangkan buka bersama bisa dilakukan di masjid yang menyediakan menu buka puasa. Eits! Bisa jadi ngabuburit penuh pahala dan pengetahuan tentang tradisi tiap daerah, loh! Karena terkadang, tiap masjid ada menu wajib yang dibagikan hanya di bulan Ramadhan.

4. Bulan Ramadhan itu ajang tambah pahala, bukan tambah dosa bersama
Bulan Ramadhan adalah momen spesial bagi kaum Muslim untuk menambah pundi-pundi amal, dengan nilai berlipat ganda dari bulan-bulan biasanya. Momen ini juga bisa dijadikan sebagai ajang silaturahmi dengan teman, kerabat, dan keluarga, melalui buka bersama. Ada berbagai hal yang seringkali terjadi, di tiap momen buka bersama. Salah satunya, maksiat bersama. Kenapa? Jika dalam buka bersama itu sesi ngabuburit dilakukan dengan ghibah berjemaah, itu sangat luar biasa dan sering terjadi juga tanpa disadari. Masa, iya, nggak sadar?

Saat Maghrib tiba, buka bersama terlaksana, tetapi justru melewatkan kewajiban untuk sholat Magrib-nya. Memilih untuk mengobrol, dengan alasan lama tidak kumpul, atau ‘nanti saja, di rumah sholat Maghrib’. Lah, tahu-tahu, adzan Isya sudah berkumandang, sholat sunnah tarawih pun terlewatkan demi obrolan tak keruan. Sholat Maghrib pun berakhir tak dikerjakan. Yang dilanjutkan dengan pulang terlalu malam, hingga keesokan harinya bangun sahur kesiangan. Lengkap, sudah.

Ada yang seperti ini, saat buka bersama? Bukankah lebih nikmat, kalau momen reuni itu dijadikan sebagai ajang menambah pahala juga? Momen apakah yang sering ada saat buka bersama, yuk, share di kolom komentar.

2 COMMENTS

  1. Kalo bukber remaja sekarang (apalagi yang ngga pernah Mondok) mungkin sama yang seperti mbak ceritakan.
    Tapi, alkhamdulillah pendidikan saya berada di tempat yang tepat jadi dapet temen yang bagus, acara bukberpun selalu sesuai syariat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here