Esai Kepenulisan by Finaira

0

“Menulis adalah pekerjaan untuk keabadian.”

Kalimat Pramoedya Ananta Tour itu membuat saya berani melangkah lebih jauh ke dunia kepenulisan. Kebiasaan Ibu yang suka membaca menularkan hobi yang sama kepada saya. Hingga saya ingin menciptakan karya akibat perasaan iri atas karya-karya yang saya baca. Kalau saya bisa membaca karya orang lain, kenapa saya tidak bisa berkarya untuk dibaca orang lain?

Berawal dari keinginan itu, saya mulai mengikuti kelas-kelas kepenulisan online yang berasal dari laman kepenulisan, Wattpad. Cukup lama berkutat di dunia kepenulisan fiksi, sejak umur 9 tahun hingga usia 15 tahun. Lalu beralih ke dunia jurnalisme selama 2 tahun di SMA dan kembali menulis fiksi setelah itu hingga sekarang.

Merasa seperti spon yang selalu menyerap air dan mengeluarkan kembali air itu. Saya pun ingin menerima ilmu di dunia kepenulisan dan menyalurkannya kembali kepada rekan-rekan. Lama berkutat di kelas kepenulisan online, hingga akhirnya saya mendapat info dari salah satu kelas kepenulisan itu mengenai Forum Lingkar Pena Malang. Lalu, mengikuti acara bedah buku—The Curse of Ilveon by Tiara Hakim—bersama rekan-rekan dari FLP Malang. Hal itu berakhir dengan saya mencari tahu info-info mengenai FLP Malang yang menggugah ketertarikan saya untuk bergabung pula.

Saya mengajuk dan yakin bahwa FLP akan membuat saya lebih terikat dengan dunia kepenulisan. Dengan harapan, bahwa saya akan menerima ilmu baik dalam berorganisasi yang saya gemari—karena saya selalu tergabung dalam organisasi sejak SMP, saya merasa aneh ketika sekarang tak terikat dengan kegiatan organisasi apapun di kampus—dan ilmu kepenulisan. Karena melihat karya-karya yang saya tulis masih membutuhkan perbaikan, ilmu yang belum mumpuni, membutuhkan rekan-rekan yang memiliki hobi yang sama—menulis, dan histeria ketika memeluk buku hasil karya saya. Ditambah ketika ada ulasan-ulasan anggota mengenai kegiatan FLP yang saya baca di blog pribadi mereka, saya semakin tertarik dengan FLP.

Dengan mengikuti serangkain kegiatan pendaftaran ini, saya harap dapat bergabung bersama FLP dan meraih keabadian yang dikatakan Pramoedya. Seperti Augustus Water, salah satu hal yang saya takutkan dari kematian adalah menjadi terlupakan.


Esai singkat tentang kenapa Fin tertarik bergabung dengan FLP Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here