DIFTERI, Selaput Putih Mematikan!

0

Oleh Finaira


Difteri, penyakit menular yang mematikan. Meskipun penyakit ini tak terlalu dikenal oleh masyarakat dan mungkin dianggap penyakit yang biasa saja. Lalu, apa sih difteri itu?

Difteri merupakan sebuah penyakit saluran pernafasan akut yang disebabkan toksin dari bakteri Corybacterium Diphtheriae. Faktor penambah berat dftori yaitu penderita mengalami kurang gizi, kekebalan tubuh rendah, atau pederita memiliki riwayat penyakit kronis lain.

Penyakit ini dapat menular dengan cepat melalui berbagai media, sebagian besar melalui bercak ludah (droplet) yang dikeluarkan saat bersin atau batuk, atau juga kumannya sendiri yang ikut berterbangan dan terhirup. Gejala awal sulit dideteksi karena gejalanya mirip dengan penyakit lain (prodomal) seperti flu biasa. Gejala prodomal ini antara lain batuk, pilek, demam tinggi, lemas, pusing, dan tenggorokan sakit.

Apabila bakteri difteri masuk ke dalam tubuh, maka ia akan berinkubasi selama 2-5 hari. Setelah itu diikuti oleh pembentukan selaput atau membran berwarna putih keabu–abuan (psedomembrane) di tenggorokan dan mudah berdarah jika disentuh. Membran ini pula yang menyebabkan sakit di tenggorokan dan susah bernafas karena bakteri C. Diphtheriae menginfeksi jaringan di hidung dan tenggorokan. Jika kondisi selaput membran cukup tebaldan lapisan ini diangkat secara paksa, bisa terjadi pendarahan. Pada kondisi berat, terkadang harus dilakukan pembuatan jalan nafas buatan dengan lubang yang dibuat di tenggorokan agar dapat bernafas. Karena saluran pernafasan tertutup oleh membran.

Dalam tubuh, kuman difteri akan mengeluarkan racun (toksin). Toksin inilah yang akan merusak organ–organ tubuh, termasuk menyerang sistem pernafasan khususnya tenggorokan di mana konduksi saraf yang buruk dapat menyebabkan kesulitan menelan. Bahkan saraf pada lengan dan kaki juga bisa meradang yang menyebabkan otot menjadi lemah. Jika racun ini merusak otot–otot kontrol yang digunakan untuk bernafas, maka otot–otot ini menjadi lumpuh.

Selain menyerang sistem pernafasan, toksin ini juga menyerang otot–otot jantung sehingga menyebabkan myocarditis (peradangan jantung). Akibatnya, akan terjadi kerusakan jantung permanen. Kalaupun penderita berhasil sembuh, tapi tetap akan terjadi kecacatan pada jantung.

Penderita diftori harus dirawat di rumah sakit dengan perawatan intensif, karena dapat menyerang jantung, ginjal, saluran pernafasan, dan lain sebagainya. Penanganan penyakit ini harus tepat karena langkanya serum antidifteri dan fasilitas penanganannya pun sudah jarang. Selain penanganan juga diperlukan proses diagnosis seperti pemeriksaan lendir (swab) untuk pemastian pasien menderita difteri atau tidak. Setelah dilakukan proses diagnosis, penderita baru mendapatkan perawatan medis seperti pemberian antitoksin untuk menetralkan toksin difteri yang sudah terkontaminasi dalam tubuh dengan dosis bertahap. Ditambah dengan pemberian antibiotik seperti penisilin atau eritromisin untuk membunuh bakteri dan membersihkan infeksi.

Difteri dapat dicegah melaui pemberian vaksin difteri kepada seseorang yang masih belum positif mengidap difteri, dikombinasikan dengan vaksin untuk tetanus dan pertusis. Vaksin terbaru dikenal dengan vaksin DtaP untuk anak–anak dan vaksin Tdap untuk remaja dan dewasa. Pemberian vaksin dapat dilakukan saat masih bayi dengan lima tahapan yakni, 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan. 12–18 bulan dan 4–6 tahun. Vaksin ini sangat efektif untuk mencegah difteri. Namun, pada beberapa anak mungkin menimbulkan efek samping berupa demam, rewel, mengantuk atau nyeri pasca pemberian vaksin. Untuk beberapa anak dengan gangguan otak progresif tidak dapat menerima vaksin DtaP karena dapat menyebabkan alergi berupa shock atau kejang.

Nah, meskipun penyakit ini jarang didengar atau tidak terkenal namun sangat berbahaya karena yang diserang merupakan organ vital tubuh manusia. Meskipun seperti itu, mencegah lebih baik daripada mengobati bukan? Jadi untuk apa menunggu sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. _fin_


Ditulis berdasarkan sumber relatif terkait dan buku pembelajaran

Pict from TribunNews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here