Cerpen Remaja Ala Korea – SEGELAS CAPPUCCINO

0

Cerpen ini ditulis oleh Wita CREW


Belajar dan hidup di negeri asing merupakan cita-cita yang kuimpikan semenjak aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Sekarang, aku berhasil mewujudkannya. Aku masuk program pertukaran pelajar dan sekarang aku bisa melanjutkan studiku di Korea Selatan. Benar-benar menakjubkan.
Pagi hari di negeri gingseng ini sungguh aneh bagi orang yang berasal dari negara tropis sepertiku. Bagaimana tidak, matahari sudah sumringah menampakkan wajahnya namun hawa disini masih seperti saat dini hari tadi. Begitu kubuka pintu apartemen, udara dingin serasa menusuk-nusuk kulitku, aku langsung meggigil hebat, apalagi saat ini sedang musim dingin di Korea Selatan. Kulakukan peregangan sebentar di depan pintu, lalu aku segera menuju jalanan kota untuk lari pagi.
“Brukk!”
“Aww..” aku menabrak seseorang hingga terjatuh.
“Ohh.. Mian..” ia mengulurkan tangannya, aku menggamitnya. Meskipun aku tidak bisa sepenuhnya bahasa Korea, tapi setidaknya aku sering mendengar teman-temanku di kampus mengucapkan beberapa kata yang umum seperti yang baru saja orang ini katakan, ‘mian’ yang artinya maaf.
“It’s okay. I have to go!” aku segera meninggalkan sosok pemuda asing tadi. Aku takut begitu melihat penampilannya yang tertutup pakaian serba hitam, kecuali mata, kulit dan sepatunya. Jadi, aku langsung meninggalkannya tanpa berbasa-basi lagi.
Ketika musim dingin seperti ini, hampir seluruh sekolah libur. Hanya beberapa saja yang mungkin ada kepentingan untuk tetap melakukan pembelajaran atau kepentingan lain. Hal ini kumanfaatkan untuk bekerja paruh waktu sebagai katrol biaya kuliahku disini. Selain itu, aku ingin segera pergi ke tanah air untuk menjenguk kedua malaikat yang dikirimkan Tuhan kepadaku, orang tuaku. Aku kerja di sebuah kafe di salah satu sudut kota Seoul.
Selain untuk belajar, sebenarnya aku memilih negara ini sebagai tempatku menuntut ilmu adalah aku ingin bertemu salah satu artis Korea favoritku, walaupun sebenarnya aku tahu itu sangat mustahil. Bahkan orang tuaku juga menganggap aku pergi ke korea bukan untuk belajar, tapi untuk menonton konser dan bersenang-senang. Tapi, setelah aku menjelaskan perlahan, akhirnya kedua orang tuaku mengijinkan aku terbang ke Korea Selatan.


Baca juga:

Penulisan Gelar yang Sesuai Kaidah Bahasa Indonesia

Baca juga:

Daftar Novel Thriller Psikopat!

Baca juga:

Ngeri! Ini Dia Sosok Psikopat Dalam Novel Thriller karya Penulis Malang


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 waktu Korea. Sudah waktunya aku pergi bekerja. Aku harus sampai di kafe pukul 10.30 waktu Korea.
“Sarra!” suara riang yang selalu menyambutku begitu aku sampai di pintu kafe. Itu Mira, mahasiswa Indonesia sepertiku yang juga sedang menuntut ilmu sambil membanting tulang di negeri boyband ini.
“Hai..! Kurasa suaramu naik dua oktaf pagi ini. memangnya ada kenaikan gaji, ya?” ledekku.
“Aiisshh… kau ini. Bukan. Cepatlah ganti bajumu dulu, nanti kuberi tahu.”
“Oke!” aku menuju ke ruang ganti untuk mengganti bujuku dengan seragam kafe tempatku bekerja. Setelah itu aku mulai melakukan rutinitas yang melelahkan.
“Mira, ada apa?” tegurku pada gadis berambut pendek sebahu itu.
“Emm.. sebentar. Aku melayani dia dulu. Eh.. tuh ada yang pesen lagi. Layanin gih, nanti kuceritain.”
“Hmm…” aku mencubit lengannya seraya menuju seorang pembeli yang dimaksud Mira.
“ Two cappuccinos, please!” aku segera membuatkan pesanannya. Sembari menunggu, aku melap meja kasir walau sebenarnya hanya modus agar aku terlihat sebagai pegawai yang rajin.
“Sarra! Super Junior akan melakukan Super Show lagi.” Mira tiba-tiba muncul di sampingku.
“Lalu?” ucapku datar.
“Kau ini. Tentu saja aku harus bisa mendapat tiketnya kali ini. Kau mau ikut?”
“Tunggu, jangan bilang kalau kau menunjukkan wajah ceriamu yang membosankan itu pagi ini padaku hanya karena itu?”
“Ohh..You’re right, hunny!” ia menjentikkan jari-jarinya.
“Em.. sebentar.” Aku membuat dua cappuccino pesanan pelanggan tadi dengan meninggalkan Mira di tempatnya. Aku memberikan dua gelas cappuccino itu padanya.
“Memangnya kau tidak suka SuJu? lalu kau fan siapa?” Mira masih melanjutkan perbincangan kami yang terhenti.
“EXO!” jawabku singkat.
“Thank you!” ucapku pada pelanggan tadi.
“Sejak kapan kau tertarik dengan si juniornya Super Junior? Eh? Kok aneh ya? Si juniornya Super Junior?”
“Udaahh.. cepet selesein, nanti kuberi bonus waktu curhat 30 menit!” ujarku padanya.
“Of course, Miss!”
Sore ini Mira sangat sukses membuat kata Super Junior masuk ke memori otakku. Sepanjang perjalanan pulang kerja hingga ia berkunjung sebentar ke apartemenku, ia terus mengoceh boyband yang satu itu. Aku sangat lelah, ditambah Mira yang menghabiskan waktu extra 30 menit istirahat tubuh ini.


Baca juga:

Novel Thriller Seram! Wajib Baca

Baca juga:

Deretan Kopi ini Salah Satunya yang Wajib Coba


Pagi ini aku terlambat bangun pagi. Mungkin aku terlalu lelah kemarin hingga alarm pun tak mampu mengusik ketenangan tidurku. Jadi, jadwal lari pagi kuhilangkan untuk kegiatan hari ini. aku langsung melakukan pekerjaan rumah dan bersantai sejenak. Hingga akhirnya tibalah waktuku untuk bekerja.
“Sarra!”
“Haa.. kenapa? turun satu oktaf? gagal dapet tiket?” ucapku menggodanya.
“Bahkan untuk pembelian tiketnya belum dibuka, ibuuu…” aku hanya tertawa dengan jawabannya. Aku langsung menuju ke ruang ganti dan mulai bekerja.
“Sarra, tolong pembeli disebelah sana!”
“Okee..” aku segera menuju pembeli tersebut.
“Two cappuccinos, please!” aku segera melayaninya.
“Here…” aku menyuguhkan dua gelas cappuccino kepada pembeli itu.
“This one, for you..” ia menyodorkan segelas cappuccino beserta uang lalu pergi. Aku bingung memendanginya keluar dari pintu kafe.
Aku mengambil segelas cappuccino itu, sepucuk surat berada di bawah gelas. Aku membaca surat itu

Maaf sudah menabrakmu kemarin. Cappuccino buatanmu sangat enak. Maaf kemarin aku menguping pembicaraanmu dengan temanmu, walalupun sebenarnya aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Hanya ada beberapa kata yang bisa kumengerti, salah satunya saat kau menyebut nama ‘EXO’. Aku tidak tahu kau menyukai EXO atau tidak, tapi jika boleh aku berharap kau menyukai mereka. Terima kasih untuk cappucinonya hari ini, kuharap kau meminumnya sebagai tanda kau memaafkanku.

Suho-EXO

Deg!

Aku tidak tahu apa yang kuimpikan semalam. Tapi, ini semua terjadi padaku. Suho mengirimku sepucuk surat. Aku spontan berlari keluar kafe, berharap ini bukan mimpi di siang bolong. Ketika aku menoleh ke perempatan seberang jalan, seseorang melambaikan tangan ke arahku, lewat kaca mobil. Aku memperhatikannya lebih saksama, ia muncul dari balik kaca mobil. Suho muncul dari balik kaca mobil itu dan tersenyum kearahku. Lalu, ia pergi.
“Sarra, ada apa?” Mira menyusulku dengan tergopoh-gopoh.
Aku tersenyum. “Tidak ada!”


Pernah diterbitkan dalam Majalah WITA tahun 2016, dengan judul yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here