Cerpen Finaira – Kamu Bapakku Bukan?

16

“Anak gila!! Di mana otakmu??!”
Suara seorang perempuan dari balik jendela, dengan suara melengking dan nada tinggi, kasar.
“Kau bisa gambar Bapakmu jika kau mau! Kenapa kau marah padaku?” jawabnya kesal dan bersungut-sungut.
Mudi beranjak dari tempat ia menggambar, berjalan perlahan dengan wajah belepotan karena warna spidol yang ia gunakan. Ia mempercepat langkah. Sedikit berlari. Ia tersenyum. Ia berlari lebih cepat. Ia membuka mulutnya.

“Nana na nanana!!”
Lalu ia tertawa lebar. Hingga mata yang berada di tempatnya masing-masing seakan ingin beranjak dari tempatnya demi menyaksikan kegilaan Mudi yang semakin menjadi dari waktu ke waktu.
Di setiap tembok-tembok apartemen, setiap tembok rumah tetangga sudah tak berupa dinding polos berwarna-warni. Semua dipenuhi gambaran Mudi, garis yang bertemu dengan garis lainnya. Lengkungan demi lengkungan, membentuk sudut-sudut yang penuh dengan warna amarah. Dengan gambar bulatan yang menonjolkan kemurkaan. Menanggalkan bilur-bilur luka yang digoreskan kehidupan. Warna-warna amarah yang tak sedikit pun tersentuh warna warni kebahagiaan, semua sepi yang menemani Mudi selama ini tergambar jelas dengan warna-warna kemurkaan.

Garis putus-putus tertabrak dengan lubang tembok dan dihiasi dengan tekstur tembok batu bata dan semen. Di setiap rumah, bahkan di ujung kelokan gang kecil pun penuh dengan tabrakan antar garis, lengkungan, dan bulatan. Khayalan-khayalan kesepian hidup Mudi mengental, membulat, mengeras, hingga usianya hampir tujuh belas tahun. Rambut sebahu yang setengah merah dan hitam tak legam mengeriting selama belasan tahun hingga kini menggimbal. Wajah kuyu, dengan penampilan yang tak pernah rapi. Bahkan bersih pun tak pernah. Wajahnya tak pernah terkena air sesering gadis normal seusianya.
Namun ia seorang gadis yang berhormon normal, gennya pun normal, hanya cara hidup yang membuat hidupnya tidak normal. Paras ayu tak pernah dirawat dengan baik sejak kecil. Bibir yang merah tak merona ditutupi dengan warna hitam tak pekat, nampak mengerikan ketika ia menyeringai di tengah malam dengan giginya yang tak putih bersih apalagi berkilau.

Malam itu ketika mentari tengah menyinari belahan bumi di sisi yang lain. Seperti malam-malam sebelumnya berabad-abad yang lalu ketika mentari diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mudi makan malam dengan Ibu yang sudah rapi dengan gaun merah darah sepanjang dua jengkal tangan orang dewasa dari pinggang dan menampakkan pahanya yang putih mulus. Bibi di ruang makan yang posisinya dekat dengan dapur tanpa sekat. Ia memandangi piring yang ada di depannya, lalu memandang Ibu. Garpunya beradu dengan sendok dan piring putih polos yang di atasnya terdapat seporsi nasi beserta lauk.
“Ibu mau pergi?”
Pertanyaan yang sama setiap malam, ketika selesai makan malam dan Ibu Mudi sudah siap dengan kostum dan segala pernak-pernik di tubuh. Mulai dari rok serba mini, gincu merah, serta riasan yang sedikit medok. Namun, Ibu Mudi tampak cantik dengan hal itu. Sangat cantik.
“Kenapa?” tanya Ibunya lagi setengah kesal.
“Bapak!! Ibu cari Bapak iyaa? Kalau sudah selesai kerjanya.”
Kalimat itu membuat wajah Ibu seketika memerah. Seperti udang yang tengah direbus.Tangan halus Ibu begitu cepat menyambar pipi dan mendarat tepat di pipi Mudi yang masih duduk memelas memegang garpu dan sendok yang tak lagi bergerak.

Ohh Ibu mengapa kau selalu menganggapku sebagai seekor kecoa yang tak pernah bisa menjadi manusia? Dan harus siap digilas ketika ia mendekati Ibu?
Ibu langsung beranjak pergi, membanting pintu. Di depan sana, belum satu menit Ibu keluar rumah. Sudah terdengar suara deru mobil di halaman rumah yang tak terlalu lebar.


Baca juga:

Daftar Novel Psikopat

Baca juga:

Cerpen FanFiction KPOP – Segelas Cappuccino


Malam yang sama seperti malam-malam sebelumnya, Mudi mengikuti Ibu menggunakan sepeda butut milik pamannya dulu. Saat pamannya belum meninggalkan bibi karena wanita lain. Nampak dari kejauhan, mobil yang sedari tadi Mudi ikuti berhenti tepat di depan sebuah motel mewah. Tidak ramai. Hanya terdengar bunyi alunan musik mengalun perlahan dengan warna-warna cahaya lampu yang membuat kesan vintage dan elegant. Mobil mewah berwarna hitam mengkilau itu memuntahkan penumpang dari balik pintu.
Tampak keduanya bertemu di depan bamper mobil lalu tangan Ibu menggelayut di lengan pria yang kini memakai setelan jas hitam mewah, seperti pria-pria sebelumnya yang selalu mengenakan jas dan mobil mewah untuk membawa wanita yang Mudi panggil Ibu ke hotel berbintang. Para pria yang setiap malamnya berbeda, dengan pakaian yang berbeda, dengan gaya yang berbeda, dengan mobil yang berbeda, dengan jabatan yang berbeda, dengan wangi tubuh yang berbeda, dengan status sosial yang berbeda pula bak di atas awan. Mereka meninggalkan istri-istri mereka yang terlelap di atas ranjang dalam istana dengan gelar sosialita yang masih menempel erat di tubuh mereka. Bahkan mungkin dalam pikirannya saat terlelap telah memikirkan, membelanjakan isi dompet mereka.

“Apa dia Bapakku?”
Mudi bertanya lirih pada angin malam setelah menyaksikan Ibu masuk dengan pria itu ke dalam motel. Mudi lantas berjongkok di samping sepedanya. Bersandar pada sebuah pohon besar yang disekitarnya terdapat semak-semak. Perlahan ia memejamkan mata. Sesaat suasana hening dengan balutan suara musik perlahan dari dalam motel. Cahaya remang juga menyoroti semak-semak di sebelah Mudi bersandar.
Tiba-tiba dedaunan yang sedari tadi tak bergerak meskipun didera angin malam yang tak pelan juga tak kencang. Mudi terkejut dan menoleh. Ia pun menyibak semak itu dan mendapati dua sejoli sedang memadu kisah kasih di bawah sinar rembulan.

Tak malu di lihat bintang? Tidak malu kah dengan dirimu? Jalang, tunggu. Walaupun ibuku wanita jalang. Namun, ia lebih terhormat. Ia selalu berada di hotel mewah. Tak seperti mereka yang memamerkan nafsunya pada bulan.

“Kamu yang pria!?” tanya Mudi saat meyibak semak itu dan kedua insan itu sontak menoleh ke arah Mudi.
“Apa kamu Bapakku?” Mudi menanyakan pertanyaan yang sama pada setiap pria yang ia temui di jalanan. Seperti seorang yang merindu benar merindu. Seolah ia tak pernah lelah menanyakan itu dan mendapat hasil yang sama. Cacian.
“Dasar gila, pergi sana. Mengganggu saja!!” bentak si wanita, lalu keduanya melanjutkan aktivitas itu.
Hingga Mudi beranjak dari tempatnya saat itu dan mengayuh sepeda. Dengan hasil yang sama seperti malam sebelum-sebelumnya. Ia memutar sepeda memandangi motel itu bergantian semak di belakangnya secara bergantian. Lalu ia mengayuh sepedanya. Ia menundukan kepala di tengah sepinya malam di jalanan yang tak lengang sedikitpun. Ia kembali. Pulang.
Seketika itu pula Mudi naik ke kamar. Ia membanting dirinya ke atas kasur berseprai warna putih kusam yang tak pernah dicuci atau dibersihkan. Lalu ia terbangun dari tidur dan beranjak ke tepian kusen jendela. Lalu duduk di sana, mengarahkan pandangan ke bintang di langit yang nampak terlihat keseluruhan memenuhi langit. Rasi-rasi bintang itulah yang sejenak dapat membuatnya lupa akan kesepian dalam hidup. Ia tak pernah mendapat seorang teman di lingkungannya, bahkan ia tak pergi bersekolah karena dianggap gila, dianggap sebagai pembawa sial. Bahkan oleh Ibu sendiri.

“Bapak? Dimana kamu Bapak? Aku ingin melihat batang hidungmu sekali saja, aku ingin tahu,” ungkapnya yang tak berbisik maupun dalam hati. Ia bersuara.
Bibi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar Mudi dan mendengar celoteh Mudi seperti celoteh burung camar yang tak indah apalagi merdu. Mudi bercerita jika ia melihat Bapaknya ada di mana-mana. Bibi terkadang dibuat gila dengan tingkah kemenakannya yang selalu membawa masalah u dari para tetangga yang mengadukan Mudi karena menggambar di tembok rumah mereka, atau mengejek suami-suami mereka.

“Heh!! Anak gila, mana bisa Bapakmu mendengarmu? Bapakmu banyak!”
Bibi bersuara ketika tak sanggup lagi mendengarkan segala imajinasi Mudi yang tak pernah masuk akal sedikitpun di akal sehat manusia. Mudi menoleh ke arah Bibi yang berdiri di ambang pintu reyot berwarna putih yang sudah tak polos dan penuh dengan gambarn Mudi.
“Siapa yang gila? Jangan kau hina Bapakku. Buatlah Bapakmu sendiri!”
Mudi mengamuk dan melempar vas bunga kaca di atas meja yang terletak disampingnya saat itu. Bibi marah, lalu keluar kamar Mudi dengan menutup pintu keras-keras. Mudi tak memedulikan berapa banyak benda yang ia lemparkan kepada Bibinya setiap hari. Mudi hanya berpikir jika semua hal itu akan ia dapatkan kembali ketika ia bertemu Bapak yang tampan dan kaya raya.

Namun, sepanjang hidupnya 16 tahun ini ia tak pernah bertemu bahkan mendengar nama Bapak. Tiap malam ia bertanya, ia selalu mendapat jawaban yang sama. Lamunan akan wajah bapaknya semakin menusuk jiwa yang sudah terlanjur penuh luka. Khayalan kehidupan akan kasih sayang Bapak semakin menjadi dan meneroka batin yang sudah hidup dengan sepi. Batinnya sudah dijejali dengan warna sepi kehidupan, tema malam yang gelap dan tak pernah dihiasi dengan sedikit senyuman pun. Dingin dan gelap malam-malamnya ia lalui dengan suasana sepi dan kesenyapan tanpa kasih.

Brakk!!
Lamunan Mudi terhenti seketika, membuat kepalanya menoleh ke arah suara pintu yang dibanting keras-keras. Berdiri seorang wanita. Bibi. Berdiri mematung, dengan sebuah tali, semacam badan sabuk berwarna hitam. Mata bibinya menyala merah penuh amarah. Mudi berdiri dari duduknya.
“Jangan buka pintu keras-keras!! Telingaku bisa tuli mendengarnya!”
Mudi mencercakan makian kepada Bibi yang tak menggubrisnya. Bibi hanya diam lalu maju perlahan mendekati Mudi yang tengah berdiri membelakangi jendela kamar. Bibi kemudian berada di depannya tepat berjarak satu meter. Bibi hanya memelototkan mata yang hampir keluar dari tempatnya. Ia mengangkat tangan yang menggenggam sabuk itu, lalu mengayunkannya ke tubuh Mudi. Karena kerasnya hingga sabetan sabuk itu berbunyi keras dan meninggalkan luka di kulitnya yang nampak memerah.


Baca juga:

Novel Psikopat – Mengapa Cinta Harus Jatuh?

Baca juga:

Camkan! 7 Hal Ini Wajib Kamu Terapkan Saat Hendak Menulis


Pukulan itu tak hanya satu dua kali diluncurkan kepada Mudi. Hampir setiap hari ia mendapatkan goresan luka semacam itu. Namun, ia tak peduli. Mudi hanya peduli jika saja bapaknya datang dan menolong dari semua perlakuan bibinya dan kesepian hidup tanpa Bapak. Setelah bibinya puas menyiksanya malam itu, Mudi hanya melipat kaki dan duduk merengkuh lutut di sudut kamar yang tak pernah ada sinar lampu barang 5 watt di kamarnya selama ini. Suasana gelap dengan udara malam yang dingin karena jendelanya tak pernah ditutup, agar sinar rembulan masuk dan menyeruak ke dalam kamar.
Mudi hanya duduk dan diam tanpa suara tangis maupun napas yang tersengal. Nafas teratur, seperti ia tak merasakan sakit di tubuhnya. Ia selalu merindukan Bapak. Hingga sinar bulan digantikan dengan hujaman sinar-sinar mentari yang tengah merasuk dari jendela, ia tak beranjak dari posisinya.

Malam itu seperti malam sebelumnya, Mudi dan Ibu makan di ruang makan. Ibu juga telah siap dengan gaun yang hanya sepanjang 2 jengkal telapak tangan, berwarna coklat muda hingga melukiskan lekuk tubuh. Ibu pergi beranjak dari meja makan setelah menghabiskan sepiring nasi dan lauk, keluar rumah dengan segala aksesoris dan tata rias serta rok mininya.
Baru Mudi ingin mendapatkan sepiring nasi di meja makan, ia dibuat tertegun karena terdengar suara pintu dibanting keras. Terlihat Ibu masuk dengan terburu tanpa sepatu, wajah lebamdan bibir berdarah. Belum beberapa menit ia keluar.

Mudi hanya memandangi pintu yang masih terbuka lebar dan menunjukan dunia malam kepada matanya, ia tak melihat ibunya yang sudah lari terbirit masuk ke dalam dengan luka memar. Lalu beberapa saat kemudian muncul seorang pria berpakaian rapi namun berwajah sangar, berkumis tebal, beralis tebal, tinggi, besar dan menggenggam belati.
Melihat hal itu Mudi tak segera beranjak dari tempat, ia hanya memandangi lelaki itu masuk dan memandangi sekeliling rumah dengan tatapan sinis. Sejenak matanya bertemu dengan pria itu. Pria itu masuk dan berjalan seperti seorang raksasa mengangkangi sebuah rumah. Bibi yang sedari tadi melotot segera berlari keluar rumah dan entah pergi kemana. Mudi berjalan masuk menuju arah pria itu masuk. Ia menautkan alisnya serasa menemukan sesuatu dalam otaknya. Ia mengikuti pria itu. Lalu ia melihat lelaki itu berdiri di pintu kamar ibunya, ia tersenyum kepada Mudi.

“Kamu Bapakku, bukan?”
Mudi bertanya kepada pria itu tanpa melihat tangan pria itu yang tengah memegang belati berlumur darah hingga ke lengan. Pria itu tertawa mendengar pertanyaan Mudi. Pria itu tak menjawab, lalu ia melepas ikatan sabuk dan membuka celana di depan Mudi. Mudi memperhatikan apa yang pria itu lakukan dengan ketidakmengertian.
Apa pria itu akan mengencingiku? Pria itu tak berhenti tertawa.

“Supaya kamu tidak bertanya kepada Ibumu, kenapa aku membunuhnya. Karena Ibumu telah menularkan penyakitnya padaku.”
Pria itu tetap tak menutup celananya.
“Mungkin pria lain yang membuatmu ada di dunia ini.”
Pria itu menutup kembali celana dan mengikat sabuknya. Hal itu semakin membuat Mudi tak mengerti. Pria itu tidak mengencinginya. Pria itu keluar dan pergi beranjak, lalu Mudi mengalihkan pandangan kepada ibunya yang tidur tersungkur di pojok kamar dengan baju yang semula coklat muda kini tengah berubah menjadi merah karena darah. Entah perasaan apa yang tiba-tiba saja merasuk ke dalam pikirannya hingga angin malam mebuai dan membuat matanya menitikan air mata dari sudut mata.

“Hal itu pantas Ibumu dapatkan!” Suara Bibinya yang tiba-tiba berdiri di belakang Mudi. “Karena Ibumu itu pelacur!!”
“Ibuku memang wanita malam tapi dia sudah punya anak dari suami yang tampan dan kaya!!” Mudi membela ibunya.
“Pria mana? Kamu tahu bapakmu?” Bibinya tertawa. “Ibumu saja nggak tahu siapa Bapakmu!! Pria mana yang jadi Bapakmu, yang ia tahu Bapakmu adalah salah satu pria jalang yang menggelepar di balik semak di jalanan!!!” Bibi tertawa lagi.
Mudi langsung berlari menuju kamar dan meringkukkan tubuh di atas kusen jendela. Lalu ia melihat sekeliling, tembok kamar yang hampa. Hanya berwarna putih polos tanpa hiasan apapun.

“Bapak?! Jawablah anakmu ini! Kemana kamu saat Ibuku dibunuh pria itu?” Mudi berkata kepada dinding yang masih kosong itu. Dinding yang hanya benda mati tak menjawab Mudi. Mudi menitikan air mata dari sudut matanya.
“Bapak jawablah, aku ingin tahu bagaimana rupamu.”
Mudi menempelkan keningnya ke tembok dan menangis sejadi-jadinya. Tangannya memukuli tembok dengan hingga tangannya berdarah. Lalu terdengar suara mengalun perlahan dan semakin keras semakin keras, Mudi melihat tembok di depannya bergerak namun tidak berpindah. Ia mengambil keningnya dari tembok itu, lalu ia bergerak memutar. Jam dinding pun tak lagi berada di tempatnya. Seluruh tembok kamar berubah menjadi warna klasik dan menjadi gambar retro kehidupan. Lalu seluruh coretan di dinding tadi menghilang ditelan gambar yang sekarang ada di seluruh tembok itu. Ia bermata dua, berhidung dan bermulut.

“Iya nak, inilah Bapakmu. Inilah rupa Bapakmu!”
“Kamu Bapakku?”
“Iya, aku Bapakmu. Puaskah kau melihat rupaku?”
“Rupanya aku benar selama ini, biar sajalah aku yang membuatmu. Jika Ibu tak pernah mampu membawamu kepadaku. Jangan kemana-mana, temani putrimu.”
Ia tersenyum lalu Mudi memutar badan dan mengedarkan pandangan, semua dinding kamar berubah seperti semula. Ia mulai melukis dinding kamar. Mulai dari sebuah garis lurus, lengkungan, lalu bulatan. Menggabungkan garis dengan garis lainnya. Lengkungan satu dengan lainnya. Bulatan dengan bulatan lainnya. Goresan-goresan kesunyian hati ia gambar dengan warna-warna amarah, kesendirian menusuk pikirannya. Senyapnya rumah itu membuat terkungkung akan sepi kehidupan. Hingga ia menemukan sebuah rupa yang tepat untuk jadi Bapak. Ia tak peduli apa yang akan dilakukan Bibi padanya, ia hanya ingin membuatnya tak jauh dari sosok Bapak. Mudi menjadi seonggok manusia perindu.
Mudi melihat lukisannya dari jauh, lalu ia tersenyum. Ia tertawa lebar melihatnya.


Baca juga:

Cerpen Remaja – Sebait Lagu Cinta

Baca juga:

Novel Young Adult – Anomali Cinta

Baca juga:

Novel Thriller – Traumatizing Chocolate


“Bapak! Kau harus jadi Bapak yang baik bukan, jadi lah Bapakku yang menemaniku, mengawasi pertumbuhanku, dan menjadi guruku!”
Mudi berteriak keras lalu ia berlari keluar rumah dan mulai menggambar rupa Bapak di mana pun ia ingin menggambar Bapak. Sebuah rupa yang tak pernah terbayangkan akan digambar dengan jelas di mana pun. Mudi teringat Ibu tak pernah mau melahirkan dirinya, bahkan selalu berusaha membunuhnya, membuatnya tak sehat, membuat putrinya terlahir abnormal. Mudi selalu merindukan Ibu, tangan Ibunya di kening dan mengecup keningnya seperti ibu-ibu lain kepada anak mereka. Ibunya bahkan menganggap ia sebagai seekor serigala yang lahir karena kelamin pria-pria jalang. Yang selalu ia gambar dan ajak berbincang tentang keluhan hidupnya, yang ia anggap sebagai seorang Bapak.

Jika Mudi teringat akan wanita yang tengah tersungkur di sudut kamar itu, ia ingin menolong dan membiarkan wanita itu supaya merangkak saja di padang darah atau ke lautan penuh batu, daripada ia membiarkan pria-pria jalang membenamkan diri di pelukan Ibu yang tak pernah sekalipun memeluknya. Sepeninggal Ibu, Mudi masih tetap menggambar Bapak di manapun. Dengan berbagai rupa, ia melukiskan dasi, terkadang topi, dan kumis.
Setiap malam Mudi selalu bercakap dengan Bapak. Terkadang dengan puncak gunung yang Mudi yakini Ibutengah ada di sana memandangi dan merindu pula. Mudi semakin menjadi seonggok manusia perindu. Merindukan segala hal yang tak pernah ada dalam kehidupannya. Menanggalkan impian-impian manisnya dengan sebuah keluarga kecil dan beberapa temannya tertawa di sebuah tempat yang bisa disebut dengan rumah. Dan membuat Mudi mempunyai sebuah benda yang bisa dipanggilnya ‘Bapak’.


Ditulis oleh Finaira untuk Komunitas Pemuda Berkarya


16 COMMENTS

  1. waw, mantap sekaleeeee.
    kata2nya disusun rapi dan apik, membuat pembaca enggan utk melirik ke tempat lain.
    susunan kalimat penyambung kalimat juga dibuat bagus..

    keren2.
    bikin noveelll coba

  2. Seorang anak yang rindu akan jati diri seorang bapak. Sungguh ironi dalam alur ceritanya.
    Ini yang Aisha suka dari karya sastra dan seni. Selalu membuat orang terbawa akan suasana sang penulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here