Anatomi si Kembar: Kenali dan Sadari untuk Menyayangi Diri Sejak Dini

58

Sebagai perempuan yang tentu saja dekat dengan permasalahan kewanitaan, Fin seringkali ikut dalam kegiatan relawan kesehatan atau kegiatan lainnya dan berbicara mengenai topik yang perlu diketahui oleh para perempuan. Namun, berbicara mengenai payudara seringkali masih dianggap tabu dan hal yang seharusnya ‘tidak’ dibicarakan. Mengenai fenomena ini, sebenarnya perlu sekali adanya edukasi bahwa permasalahan kesehatan bukanlah hal yang tabu dibicarakan, daripada Fin tanya soal jumlah saldo tabungan, kan? (Wkwkwk, money is more tabu then sex, isn’t?)
Memiliki payudara memang merupakan sebuah anugrah dari Allah azza wa jalla, bukan hanya soal fungsinya bagi regenerasi, juga sebagai salah satu keindahan dalam tubuh perempuan. Dari segudang manfaatnya, sudahkan kita memperhatikannya secara layak? Apakah kita telah memberikan perawatannya dengan benar? Bagaimana kondisi kesehatan ‘si kembar’ saat ini?

Carcinoma Mammae, Kanker Payudara

Sayangnya, menurut data Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, angka kanker payudara tercatat sebanyak 42,1 per 100.000 penduduk dengan tingkat kematian rata-rata 17 per 100.000 penduduk. Hal ini juga terbukti dengan data yang pasien yang dihimpun oleh RS Kanker Dharmais, pada tahun 2009 urutan teratas ditempati oleh kanker serviks. Sedangkan pada tahun 2010, tangga teratas ditempati oleh kanker payudara sebesar 37%. Disinkronkan dengan data dari WHO, bahwa setiap tahunnya terdapat 7 juta penderita kanker payudara di dunia, dan mirisnya adalah 5 juta di antaranya meninggal dunia.

Riset tentang penderita kanker payudara di Indonesia dan Dunia

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar oleh Kemenkes pada tahun 2013, penderita kanker payudara juga merupakan salah satu prevalensi tertinggi di Indonesia, sebesar 0.5%.
Nah, kanker payudara ini sendiri merupakan keganasan dari sel-sel di jaringan payudara. Alias pertumbuhan dan perkembangan se di luar sel normal yang tidak terkendali yang kemudian merusak bentuk dan fungsi organ. Pada kanker payudara, struktur yang paling sering diserang adalah saluran air susu (duktus) yakni sebesar 30%. Sedangkan sisanya adalah kanker yang menyerang pembungkus, lobulus, atau jaringan ikat.
Kanker payudara sendiri pada umumnya dibagi menjadi dua kategori, yaitu: Invasif, di mana kanker jenis ini dapat menyebar di luar payudara karena berkembang pada sel-sel pembentuk saluran payudara, duktal invasif. Non-invasif, biasa ditemukan melalui mamografi (pemeriksaan payudara) dan seringkali disebut sebagai pra-kanker dan jarang menimbulkan benjolan. Menurut data dari Kemenkes, jenis yang paling banyak dari kanker payudara adalah duktal karsinoma in situ, yaitu jenis kanker yang bersifat jinak dan ditemukan dalam duktus, dan belum menyebar.

Siapa Saja yang Mungkin Berisiko?

Kanker payudara memang lebih sering terjadi pada perempuan, apabila diambil sebuah perbandingan maka 1:100. Namun bukan tidak mungkin, jika laki-laki dapat dikatakan bersih dari risiko. Justru saat menyerang laki-laki, penyebarannya menjadi lebih cepat karena jaringan sekitar payudara tidak setebal perempuan. Mengapa lebih banyak persentase kepada perempuan? Hal ini karena terdapat lebih banyak ada pada hormon esterogen dan progesteron. Memang terdapat faktor genetis untuk mendapatkan kanker payudara dari leluhur, tetapi persentasenya relatif kecil yakni sebesar 5% hingga 10%.

Dalam prosesnya, bisa jadi kanker payudara disebabkan oleh beberapa risiko seperti gaya hidup tidak sehat dan beberapa faktor lainnya, seperti: obesitas, perokok aktif maupun pasif (menyebabkan efek karsinogen dan memengaruhi risiko penyakit kronis melalui mekanisme hormonal), konsumen alkohol (karena alkohol dapat meningkatkan kadar esterogen endorgen yang menyebabkan meningkatnya aktivitas tumor), perempuan yang memasuki usia menopause karena efek progesteron dan esterogen yang lebih besar.
Risiko kanker payudara lainnya dapat meliputi: faktor usia, hormonal terutama yang disebabkan oleh penggunaan kontrasepsi hormonal, lingkungan yang tidak sehat seperti misalnya penuh polusi atau asap rokok, mutasi genetis, riwayat ginekologi (usia haid pertama <12 tahun atau usia menopause >55 tahun, melahirkan bayi pertama >35 tahun), perempuan yang mengalami stress berat, perempuan tidak menikah (alias sengaja men-JOMBLO-kan dirinya sendiri), perempuan menikah dan tidak memiliki anak, dan perempuan yang tidak menyusui.

Siapa saja yang mungkin terjangkit penyakit kanker payudara? Menurut data dari Kemenkes RI

Sadari Sejak Dini

Ngeri? Sangat. Padahal, kanker payudara bisa disembuhkan ketika kita dapat membuat kesempatan tersebut. Caranya dengan melakukan deteksi dini sehingga ketika kanker tersebut terdeteksi, tidak pada stadium lanjut yang pastinya akan memperkecil persentase kesembuhan. Sebelum itu, mari kenali anatominya terlebih dahulu.

Susunan Anatomi Payudara dan Perkembangannya

Berbicara tentang anatomi payudara, ‘si kembar’ ini tersusun atas beberapa bagian, yaitu: areola (area kehitaman di sekitar puting), puting (muara saluran air susu), ligamen yang membentuk kerangka payudara, lemak, duktus laktiferus (saluran air susu), kelenjar getah bening yang mewakili mekanisme pertahanan tubuh untuk area payudara, dan kelenjar alveolar yang menghasilkan air susu.

Sepanjang hidup perempuan, payudara akan mengalami 3 masa perubahan, yaitu: Pertama, perkembangan dari lahir hingga pubertas, yang ditandai dengan membesarnya dan menggelapnya areola. Kedua, perkembangan di masa menstruasi, yaitu saat payudara sedikit membesar dan muncul mastodinia (nyeri pada payudara). Ketiga, perkembangan payudara pada masa kehamilan dan menyusui di mana terjadi pembesaran sel pelapis duktus dan lobulus.

Deteksi Dini Kanker Payudara: SADARI dan SADANIS

Menemukan gejala lebih awal, berarti memperkuat persentase kesembuhan. Ingat, bahwa hidup itu bukan hanya mengandalkan do’a, tetapi juga harus diimbangi dengan usaha. Pada umumnya, kanker payudara dapat dideteksi dini jika terdapat perubahan bentuk dan/atau ukuran pada payudara.

Berikut beberapa gejala yang harus diwaspadai:
1.Adanya benjolan di payudara: padat, tidak beraturan, dan melekat ke dasar, seringkali tidak terasa nyeri)
2.Skin dimpling, kulit payudara mengalami perubahan tekstur: kulit permukaan payudara mengeras seperti kulit jeruk dan menegang, antar pori-pori melebar.
3.Luka yang tidak kunjung sembuh pada payudara.
4.Keluar cairan dari puting: terutama darah.
5.Terdapat cekungan ataupun tarikan di kulit payudara.
6.Retraksi puting: puting masuk ke dalam.
7.Pembengkakan, pengerasan, dan muncul warna kemerahan di payudara.
Bagaimana gejala-gejala tersebut dapat ditemukan tanpa harus ke dokter terlebih dahulu? SADARI (periksa payudara sendiri) adalah pedoman pemeriksaan yang paling nyaman, sederhana, dan murah, juga cepat. SADARI sebaiknya dilakukan sejak usia 20 tahun, dengan rentang waktu satu bulan sekali, pada hari ke-7 hingga 10, terhitung sejak menstruasi hari pertama.

Cara SADARI kanker payudara sejak dini

Apabila meemukan ketidakberesan pada payudara, segera hubungi dokter untuk melakukan pemeriksaan dan/atau konsultasi lebih lanjut dengan SADANIS (Periksa Payudara Klinis). Meski tidak menemukan ketidakberesan, sebaiknya SADANIS juga dilakukan secara rutin 3 tahun sekali bagi yang berusia 20-30 tahun. Dan satu tahun sekali untuk yang berusia di atas 40 tahun. Selain pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan mamografi atau rontgen payudara. Karena dalam prosesnya, mamografi menggunakan paparan radiologis, maka untuk perempuan berusia di bawah 40 tahun sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Perlu diperhatikan juga, kalau mamografi ini tidak boleh dilakukan saat menstruasi karena akan mengaburkan gambaran struktur payudara. Untuk melakukan SADANIS,dapat dilakukan di Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Cegah Kanker Payudara Sekarang Juga

Bagaimanapun, mencegah akan lebih baik daripada mengobati, benar, kan? Beberapa faktor menyebutkan memang kanker payudara dapat disebabkan oleh faktor hormonal serta genetika. Namun, sebenarnya untuk melakukan pencegahan utama adalah dengan menghindari faktor risiko kanker payudara dengan berperilaku hidup sehat, misalnya dengan berolahraga secara rutin dan mengonsumsi makanan-makanan sehat, serta istirahat yang cukup dan manajemen stress yang baik, juga pastikan untuk menggunakan bra dengan tepat.

Temukan Ukuran Bra dan Rawat ‘Mereka’ dengan Nyaman

Banyak perempuan yang masih tidak sadar dengan pemilihan ukuran bra yang dipakainya, benar? Kamu sudah? Nah, sebenarnya pemilihan ukuran bra yang tepat juga akan memengaruhi kesehatan tubuh kita sebagai pemakainya. Bagaimana memilihnya?

Cara menemukan ukuran bra yang tepat

Untuk menghitung ukuran bra, di mana ukuran bra terbagi dua, yaitu: lingkar bawah payudara dan cup. Ukuran lingkar bawah payudara, ukur mulai dari atas tulang iga, tepat di bagian bawah payudara. Sedangkan untuk menentukan ukuran cup, ukur mulai dari bagian depan payudara, hingga melewati bagian depan putingnya. Ukur sesuai dengan kenyamanan dan jangan terlalu longgar atau terlalu ketat.
1.Meskipun ada di dalam pakaian dan tidak terlihat, tolong diperhatikan dengan kegiatan, ya, untuk penggunaan bra. Jadi, saat berolahraga, usahakan menggunakan sport bra yang notabene lebih dapat menyerap keringat dan dapat menjaga kenyamanan saat berolahraga.
2.Gunakan bra sesuai dengan ukuran payudara.
3.Jangan pernah menggunakan bra saat tidur, atau kalau memang masih merasa risih pada awalnya, coba lepaskan kaitan bra. Sehingga payudara memiliki kesempatan untuk ‘bernafas’ selain pada saat mandi.
4.Ganti bra secara rutin, setiap kali seusai mandi dan terasa lembab. Ingat, jangan gara-gara sering nggak mandi, malah nggak ganti bra, juga. Jorok, tahu, hahahha.
5.Gantilah bra secara berkala, rata-rata bra memiliki usia antara 6 bulan hingga 1 tahun. Gantilah bra agar dapat menopang payudara secara optimal. Jangan sampai ada adegan ‘pinjam-meminjam’ pakaian dalam, ya, nggak bagus untuk kesehatan juga. Please be wise.

Nah, daripada bingung untuk menemukan bra yang tepat, Fin sarankan untuk membeli bra di toko offline, sih. Karena, kita bisa pegang bahannya (dasar, Fin saja yang udik, wkwkwk.) Dari sekian panjang obrolan Fin soal kanker payudara dan segala tetek-bengek-nya, apakah sudah sadar bahwa kanker payudara dapat dicegah dan dideteksi sejak dini? Jadi, sudahkan ambil action dengan melakukan SADARI dan SADANIS?

Outlet Wacoal dan Mbak Diah yang baru saja kenala sama Fin beberapa menit sebelum foto tersebut diambil. Hihhi, ini ada di outlet Plasa Araya Malang.

Jika terindikasi, segera berkonsultasi dan lakukan perawatan yang tepat sesuai dengan anjuran dokter dan jangan bandel, ya. Selain itu, kamu … iya, kamu! Iya, kamu yang sedang melihatku dengan malu-malu, hihhi. Apakah sudah tahu bahwa bulan Oktober merupakan Bulan Peduli Kanker Payudara Sedunia? Di momen yang tepat kali ini, Blogger Perempuan dengan Wacoal ikut mendukung bulan Kanker Payudara dengan menyebarkan kepedulian terhadap ‘radar’ tentang SADARI dan SADANIS pada perempuan-perempuan, terutama di Indonesia. Wacoal turut mendukung bulan Kanker Payudara dengan menyediakan kotak donasi di outlet Wacoal.
Kamu juga dapat berpartisipasi dengan mengirimkan donasi pada kotak donasi yang disediakan di seluruh outlet Wacoal. Di Malang sendiri, ada di Plasa Araya dan juga MOG.

Tabik,
#BloggerJomblo


Segala bentuk infografis dalam postingan ini merupakan hasil editing Finaira Kara, selaku penulis. Beberapa foto diambil dari dokumentasi pribadi dan laman resmi.


Breast Cancer Blogger Perempuan Movement, in Collaboration with Wacoal

58 COMMENTS

  1. Sebagai wanita emang harus aware sama kanker payudara atau ca mammae ini. Untuk deteksi dini pun lumayan mudah, bisa dilakukan dengan SADARI atau periksa payudara sendiri. Dan kalo ada yg aneh dari payudara kita bisa langsung di periksakan.

  2. Pernah baca beberapa artikel tentang cara SADARI tapi kan ga kebayang ya ini benjolan kek gimana sih. Trus waktu berkunjung ke Museum IMERI FKUI, di sana ada alat peraga payudara yang ada benjolannya (kanker atau tumor gitu). Nah di situlah baru ada gambaran, oh benjolan seperti ini. Bisa mudah terasa, tapi ada juga yang harus ditekan lebih dalam barulah terasa benjolannya.

  3. Sudah pernah Coba cek sendiri dengan cara seperti tertulis diatas, tapi kurang yakin. Sebaiknya cek secara klinis ya. Tapi kalau Dr ciri cuti yang Fin tulis, semoga Kita dilindungi Allah ya.

  4. Kemarin waktu cek kanker serviks secara gratis oleh BPJS sekalian dicekin apakah ada masalah dengan payudara. Alhamdulillah gak. Aku sendiri sebenarnya bingung juga benjolan mana yang terasa berbahaya. Tapi kata perawatnya kemarin Alhamdulillah baik-baik saja.

  5. Makasih banyak infonya kakak. Kita emang suka abai ya sama masalah ini. Padahal penting banget. Aku lagi. Nyoba beberapa hal yang disarankan tadi buat pencegahan penyakit ini. Yang aku liat disekitarku.. Byk yang terkena karena soal genetik ini. Susah x ya yang sudah genetik ini dihilangkan

  6. Campur aduk kalau baca mengenai Kanker Payudara, apalagi beberapa tahun terakhir yang terkena penyakit tersebut adalah orang2 yang ruang lingkupnya cukup dekat denganku, hiksss. Wajib banget ya terutama kita Kaum Perempuan untuk lebih Aware lagi dalam hal mengenali gejalanya, dan melakukan pemeriksaan sesegera mungkin supaya dapat diatasi dengan cepat dan tepat.

  7. Terima kasih sudah mengingatkan pentingnya Sadari dan Sadanis. Semakin tua, harus semakin rajin periksa supaya kalau ada apa-apa bisa ditangani sejak dini. Milih bra yang tepat ternyata penting juga untuk kesehatan payudara ya.

  8. Setiap bulan setelah mens, aku selalu rutin melakukan pemeriksaan payudara, karena dulu aku pernah operasi FAM/ tumor jinak payudara. Alhamdulillah sampai sekarang nggak pernah tumbuh lagi. Semoga makin banyak perempuan yang aware dengan breast cancer.

  9. Duh makasih banyak ka artikelnya sangat membantu+tambah pengetahuan jg. Jujur kyaknya aku+org” disekitar rmh apalagi emg daerah kampung gtu ga aware sm kasus ini. Pdhal memang sebenernya sangat penting ya & harus aware sejak dini sebelum terjadi

  10. serem banget deh kanker payudara ini. Jangan sampe terkena ya untuk kita. Aku selalu perhatikan bra dan dalaman mulai dari kebersihan hingga ukurannya jadi gak akan nyusahin saat dipakai. Alhamdulillah punya suami yang care tentang hal ini jadi dia juga sering ngingetin aku untuk selalu jaga kebersihan.

  11. Wacoal ini harga branya sungguh terlalu, ahahaha. Tapi aku tetep punya dong, meskipun sebiji. Biasanya aku pakai di saat-saat spesial seperti menyambut suami pulang kemalaman dan anak-anak udah bobok, ahahaha. Tapi ya makasih infonya, ternyata bra juga penting untuk mencegah kanker payudara ya

  12. Semoga kita pun keluarga juga dilindungi dari Allah dari kanker ini ya mbak. Tapi, dengan adanya sosialisi seperti ini kita jadi lebih peduli akan kesehatan diri ya mbak. Ga sembarangan konsumsi makanan dan hidup sehat
    Terima kasih sharingnya mbak

  13. Sudah pernah tahu tentang Sadari dan diajari langsung oleh dokter, tetapi sampai saat ini masih belum rutin melakukannya, huhuhu. Semacam agak enggak pede gitu, sih, sama akurasi yang dilakukan sendiri. Merasa bakal lebih pas kalau tenaga medis yang melakukan, tapi baru pernah sekali.

  14. Aku tu kalau ada nyeri di dada dan dada terasa tegang gtu udah panik hehe, tapi inget sadari dan cek, alhamdulillah gpp, moga kita dijauhkan dr penyakit ini ya mbak aamiin.
    Penah soalnya ada kenalan yg kena dna perpaksa PD-nya diangkat….
    Wah baru tau BP dan wacoal lg kerjasama utk kempen cegah kanker payudara ini, btw semoga sukses ya lombanya 🙂

  15. Aku mau screenshot bagian “Gantilah bra secara berkala” Trus kirim ke suami kwkwkw. Udah gak menyusui tapi koleksi bra masih bra menyusui .

    Tapi emang harus aware ya sama hal “tabu” Macam ini.

  16. Broadcast tentang payudara ini sangat perlu digencarkan hingga ke sekolah dasar, mengingat resiko terkena breast cancer ini juga bisa terjadi pada anak-anak (usia di bawah 12 tahun). Semakin dini mengetahui tentang perlunya SADARI sejak dini, akan mendeteksi lebih cepat jikalau ada perubahan pada kondisi payudara dan semakin cepat dilakukan tindakan yang tepat.

  17. Hal yang tabu tapi penting untuk dibahas zl,seneng banget sharing nya kak, soalnya banyak yang kurang peka ,dan pada akhirnya kalau sudah sakit baru deh, tetangga ku tiba2 ada aja benjolan dibawah ,lumayan sakit sekarang diterapi

  18. Informatif bangeeet. Aku semacam dipaksa buat medical check up tahunan oleh kantor. Dan periksa payudara adalah salah satunya. Dari yg tadinya malas, karena tau penting banget menjaga payudara, makanya jd rajinlah klo medical check up.

  19. Ternyata klo dicegah sejak dini,kanker payudara bukanlah momok yang seram dan mematikan. Intinya kita mau / kagak dalam upaya pencegahannya ?
    Makasih banyak infonya,ka 😀

  20. Wah,,, menarik dan edukatif sekali pembahasannya… Meskipun saya seorang laki-laki, tapi setiap kali membaca artikel tentang cancer payudara selalu saja merinding dan,,,,, ngeeriiiii….. Semoga kita semua terhidar dari segala jenis penyakit yg mematikan tersebut… Amin

  21. Wah terima kasih ilmunya Mba, semoga aman-aman saja, karena melihat faktor resiko ada 4 poin, ah sudahlah, Insya Allah sehat terus, aamiin

  22. Penyakit seperti kanker ini memang sangat menakutkan. Karena penyakit tipe ini ketika kronis bisa berujung pada kematian. Dan artikel ini hadir memberikan pencerahan seputar pencegahan datangnya kanker payudara secara detail dan sistematis. Diharapkan setelah membaca artikel ini pembaca mempraktikkan langkah apa saja yang dilakukan untuk terhindar dari kanker payudara. Terima kasih min …..

  23. Info yang sangat bermanfaat. Saat ikut tes Papsmear sy juga dicek SADARI SADANIS juga. Menerapkan gaya hidup sehat paling penting dari semuanya. Semoga kita semua dijauhkan dari penyakit itu, aamiin..

  24. Jadi salfok sama catatan terakhir, #bloggerjomblo. Biar sekalian ini maksudnya mbak. Artikelnya sangat bermanfaat, terimakasih sudah sharing informasi nya.

  25. Aku termasuk yang risih banget kalai tidur tanpa bra. Jadi biasanya cuma kukendorkan saja. Soalnya aku juga pernah baca artikel tentang resikonya.

    Alhamdulillah payudara dalam keadaan baik. Semoga kita semua dijauhkan dari penyakit2 serem seperti ini ya mbak. Aamiin.

    Oiy aku juga pernah ikut seminar kesehatan bareng dr. Warsito yang menemukan alat terapi kanker. Waktu itu sempet nyobain juga alat deteksi kesehatan payudara. Alhamdulillah normal. Thanks ya mba. Artikelnya makin membuatku aware dengan kesehatan.

  26. Almarhum Mama menderita kanker payudara 3 tahun sebelum ajalnya tiba, pada 31 tahun yang lalu. Saat itu saya juga masih kecil, akses informasi belum semudah saat ini, belumada internet. Mama masih takut-takut untuk periksa ke dokter dan lebih memilih pengobata herbal, sampai akhirnya saat ke dokter pun sudah semakin parah.
    Menjadi pembelajaran buat kami anak-anaknya untuk lebih aware tentang hal ini. Terima kasih sharingnya Mbak.

  27. Jadi teringat almarhumah adik ipar yang masih pengantin baru yakni 99 hari after married meninggal karena kanker payudara ini, awalnya nggak ada yang tau penyakaitnya apa namun seiring dengan dirinya kerap memakai kerudung di rumah (hal yang tak pernah dia lakukan) akhirnya terungkaplah jikalau payudaranya telah membengkak dan nampak sangat besar diukuran badannya yang kurus tinggi dan berbody yang sangat tipis. ternyata banyak hal yang kita perlu ketahui…

  28. Penjelasannya tentang breast cancer lengkap juga, nih. Infografis nya juga kece. Sip. Memang benar bahwa urusan seperti ini bagi sebagian perempuan terasa tabu dibicarakan. Padahal mah ini ilmu kita banget. Thank you ya, Mbak Fin 🙂

  29. Memang harus waspada karena kebanyakan nggak menyadari kemunculannya 🙁 sedih mendengar kasus kematian akibat kanker payudara sekaligus takut karena saya juga seorang perempuan yang berisiko tinggi terkena juga

  30. Ternyata banyak juga yang berisiko terkena penyakit kanker payudara. Jadi harus lebih aware nih, apalagi sebagai perempuan. Setidaknya yang harus kita lakukan adalah dengan deteksi dini ya Mbak baik itu dengan cara SADARI maupun SADANIS.

  31. Aku baru tahu lho kalau masuk umur 20-30 tahun tuh harus cek kesehatan payudara 3 tahun sekali. Ini udah mau masuk kepala 3 dan aku belum pernah cek sama sekali.

    Mestinya cek ya. Mencegah kan lebih baik dari pada mengobati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here