Apa itu Organisasi dan Mengapa Teori Organisasi Tak Layak Disebut Teori?

0

Oleh Finaira


Organisasi lahir akibat sekelompok individu yang menghadapi pekerjaan besar untuk dilakukan seorang diri. Lalu, dengan berorganisasi pekerjaan itu dapat dibagi-bagi kepada individu sesuai kemampuan dan porsinya masing-masing dengan target tertentu. Pembagian tersebut secara langsung dapat mempengaruhi kinerja organisasi: menjadi lambat atau cepat; menjadi terkontrol tapi lambat; menjadi cepat tapi tidak terkendali; kaku; dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai organisasi bersifat abstrak akibat terkait dengan berbagai aspek sosial yang tidak dapat terprediksi secara pasti. Selain itu, tinjauan terhadap teori organisasi juga menjadi sangat luas dan dilakukan menurut berbagai sudut pandang yang berbeda. Lalu apa itu organisasi?
Organisasi merupakan kumpulan individu yang terstruktur untuk bekerja sama demi tercapainya tujuan organisasi itu sendiri. Beberapa tokoh ahli pun telah mendefinisikan organisasi, seperti berikut:
Chester Barnard, mendefinisikan organisasi sebagai kumpulan individu yang terkoordinasi secara sadar sehingga bisa juga dinyatakan sebagai suatu sistem yang terdiri dari berbagai kegiatan yang saling berhubungan.
Ralph Davis, mendefinisikan organisasi sebagai kelompok individu yang bekerja sama di bawah seorang pimpinan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Richard L. Daft, mendefinisikan organisasi sebagai suatu kesatuan sosial dari sekelompok individu (orang) yang saling berinteraksi menurut suatu pola yang terstruktur dengan cara tertentu sehingga setiap anggota organisasi mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing, dan sebagai suatu kesatuan yang mempunyai tujuan tertentu, serta mempunyai batas-batas yang jelas sehingga organisasi dapat dipisahkan secara tegas dari lingkungannya.
Munculnya orientasi terhadap teori organisasi itu dipengaruhi oleh cara yang digunakan dalam meninjau permasalahan dalam organisasi. Seperti Stogdill yang mengidentifikasi sebanyak 18 jenis orientasi dalam analisis organisasi, antara lain: memandang organisasi sebagai produk kebudayaan; sebagai agen dalam proses pertukaran dengan lingkungan; sebagai sistem yang terdiri dari struktur fungsi; sebagai suatu struktur kegiatan; sebagai kumpulan dari fungsi-fungsi dinamis; sebagai suatu sistem yang melakukan proses; sebagai sistem input-output; atau sebagai struktur yang merupakan kumpulan beberapa kelompok.
Banyaknya orientasi yang muncul dalam teori organisasi menyebabkan cara menyatakan kerangka keseluruhan juga berbeda-beda. Kerangka yang dirumuskan Henry L. Tosi misalnya merngelompokkan berbagai orientasi dalam Pendekatan Klasik, pendekatan yang menganggap organisasi sebagai suatu sistem sosial, pendekatan struktur, pendekatan teknologi, pendekatan adaptif, dan pendekatan organisasi integral.
Pengelompokan orientasi pun pernah diungkapkan oleh William G. Scott sesuai kurun waktu pemunculannya, yakni:
Pendekatan Klasik, muncul karena terinpirasi oleh beberapa konsep pemikiran yang dikemukakan oleh Frederick Winslow Taylor (1856-1915), yang dirumuskannya berdasar pengalaman kerjanya di perusahaan baja Bethlehem Steel di Amerika. Konsep darinya sebenarnya bukan pembahasan mengenai organisasi, tetapi lebih terfokus pada pengaturan kerja, dimana orang-orang ditempatkan pada fungsi tertentu (spesialiasi formal), dan mencoba merumuskan cara kerja baku yang paling efisien.
Pendekatan Neoklasik, disebut pula pendekatan Human Relations, muncul dari serangkaian percobaan oleh Elton Mayo dan kelompoknya (antara 1927-1932) di pabrik Hawthorne milik perusahaan Western Electric Company di Amerika, yang didasari oleh prinsip Taylor meski hasilnya bertolak belakang. Salah satu percobaannya ialah pengaruh kondisi fisik tempat bekerja terhadap prestasi kerja, lalu ikatan sosial antar pekerja. Terfokus pada aspek hubungan non-formal antar manusia dalam organisasi.
Pendekatan Modern, disebut pula pendekatan ketergantungan atau contingency, kemunculannya diawali oleh suatu penelitian dari Joan Woodward tahun 1950-an terhadap 100 perusahaan di Inggris. Woodward mengelompokkan perusahaan menurut jenis teknologinya, menjelaskan bahwa perusahaan yang sukses pada setiap kelompok teknologi mempunyai karakteristik tertentu. Lalu muncul berbagai penelitian sejenis yang membuktikan bahwa selain jenis teknologi terdapat banyak aspek yang berpengaruh terhadap organisasi. Hal ini berarti organisasi dipengaruhi oleh oleh keadaan lingkungannya, dan hanya organisasi yang bisa beradaptasi secara tepat yang akan mecapai keberhasilannya, serta disimpulkan bahwa tidak ada bentuk organisasi yang ideal yang berlaku secara universal. Pendekatan ini memandang organisasi sebagai suatu sistem terbuka. Selain itu, pendekatan modern seakan-akan mengintegrasikan dua pendekatan sebelumnya.
Dalam hubungannya, organisasi dengan lingkungannya, tampak bahwa organisasi mengambil input dari lingkungannya untuk ditransformasikan menjadi output untuk lingkungan organisasi. Hal itu mengakibatkan organisasi harus menemukan semua sumber yang dibutuhkan dan sebagai tempat untuk mendistribusikan seluruh output. Ketergantungan itu memaksa organisasi untuk menguasai dan menstabilkan lingkungannya agar dapat mencapai transaksi timbal balik yang harmonis.
Dalam analisis organisasi perlu diketahui karakteristiknya, dan hal itu dapat diketahui jika dimensi organisasi juga telah diketahui.
Jenis dimensi organisasi:
Dimensi Struktural, menggambarkan karakteristik internal organisasi, terdiri dari: formalisasi; spesialisasi; standardisasi; sentralisasi; hierarki kekuasaan; kompleksitas (vertikal atau horizontal); profesionalisme; dan konfigurasi.
Dimensi Kontekstual, menggambarkan organisasi beserta lingkungannya, terdiri dari: ukuran organisasi; teknologi organisasi; dan lingkungan.
Jika teori didefinisikan sebagai kumpulan pengetahuan ataupun fakta yang berlaku umum, maka pendekatan-pendekatan di atas belumlah cukup dikatakan sebagai teori. Karena sebuah fakta yang dinyatakan sebagai teori apabila telah dilakukan berbagai uji empirik dengan berbagai kondisi, dan fakta tersebut memiliki hasil yang konsisten. Karena fakta-fakta tersebut bersifat ketergantungan, yaitu kenyataan dari fakta tersebut masih tergantung pada situasi dan/atau kondisi lingkungan, maka teori-teori tentang organisasi belumlah memadai jika disebut teori.
Selain itu, dalam meninjau permasalahan organisasi perlu memperhatikan tingkatannya, dimulai dengan meninjau kondisi lingkungannya, sebagai berikut urutannya: lingkungan organisasi; organisasi secara keseluruhan; bagian-bagian organisasi; kumpulan individu yang ada dalam organisasi.


Sumber: Lubis, S.B. Hari. (2018). Modul BMP Organisasi EKMA4157. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here